Senna Rais datang ke pemusatan pada jam yang ganjil, sore yang sudah terlalu lewat untuk latihan dan terlalu dini untuk pulang, ketika lintasan kosong dan hanya derit roller statis Arka yang mengisi gedung. Arka mengangkat kepalanya dari setang dan untuk sesaat mengira ia salah lihat. Senna tidak pernah masuk ke ruang ini. Senna adalah orang yang selalu menjaga jarak, yang menatap dari seberang papan kayu seperti orang menatap genangan air yang tak ingin ia injak.
"Lutut kanan," kata Senna, tanpa basa-basi, berdiri di ambang pintu dengan tangan di saku jaket. Bukan pertanyaan. "Ligamen, bukan tulang. Kamu beruntung."
Arka berhenti mengayuh. Silinder roller masih berputar pelan di bawah ban, kehilangan tenaga seperti gasing yang sekarat. "Kamu datang untuk bilang aku beruntung?"
"Aku datang untuk lihat." Senna melangkah masuk, sepatunya tanpa suara di lantai beton. Ia berhenti di samping roller, menatap lutut Arka yang masih dibungkus penyangga elastis, dan ada sesuatu di matanya yang Arka tidak bisa baca—sesuatu yang lebih tua dari permusuhan mereka. "Kelas dua belas. Aku jatuh di kejuaraan junior. Banking, tikungan tiga, sama persis seperti kamu. Cuma punyaku lebih buruk. Tulang, bukan ligamen. Pen di sini." Ia mengetuk pinggir lututnya sendiri lewat celana, dua kali, bunyi tumpul.
Arka tidak berkata apa-apa. Ia tidak tahu bahwa Senna pernah cedera. Tidak ada yang tahu. Sprinter andalan klub Garuda Sakti, yang gerakannya bersih seperti mesin, yang kakinya tidak pernah ragu di tikungan—orang itu pernah dipasangi pen.
"Empat bulan aku tidak naik sepeda," lanjut Senna, suaranya datar, terlatih untuk tidak bergetar. "Pertama tiga minggu mereka datang. Bawa buah, bawa lelucon, bilang aku akan kembali. Bulan kedua tinggal pelatih. Bulan ketiga"—ia berhenti, menatap silinder roller yang akhirnya diam—"tidak ada. Slot sprintku diisi anak lain. Saat aku kembali, mereka sudah punya jagoan baru, dan aku harus merebut kembali tempat yang dulu milikku dari nol. Dari belakang."
"Itu sebabnya kamu menang sendirian," kata Arka pelan. Bukan tuduhan. Pengertian.
Senna menoleh padanya, dan untuk pertama kalinya tidak ada dingin di sana, hanya kelelahan yang sangat tua untuk anak berusia dua puluh tahun. "Kalau kamu tidak butuh siapa-siapa, tidak ada yang bisa meninggalkanmu. Aku belajar itu dari ranjang klinik. Aku belajar bahwa tim adalah orang-orang yang ada saat kamu menang dan hilang saat kamu jatuh. Jadi aku berhenti menang untuk mereka. Aku menang untuk membuktikan aku tidak butuh mereka."
Arka memikirkan panti. Memikirkan Bu Ningsih yang menyimpankan nasi untuknya saat ia pulang larut, anak-anak yang menunggunya di gerbang, Hasan yang naik bus sembilan jam hanya untuk duduk di samping roller dengan stopwatch tua. Ia memikirkan Mei, tangannya, kepercayaan yang baru ia pelajari untuk tidak takut. Ia hidup sendirian sebagian besar hidupnya, ya. Tapi ia tidak pernah benar-benar ditinggalkan. Ia hanya tidak pernah punya cukup banyak orang untuk meninggalkannya.
"Punyaku kebalikannya," kata Arka. "Aku tidak percaya tim karena aku tidak pernah punya. Kamu tidak percaya karena kamu pernah punya dan mereka pergi."
Senna diam lama. Di luar, lampu sore terakhir menerobos jendela tinggi gedung pemusatan, jatuh miring di papan kayu lintasan yang kosong, garis-garis cat biru dan merah yang sudah memudar. Dua sprinter, dua versi luka yang sama dari arah berlawanan.
"Aku lihat catatanmu soal aku," kata Senna akhirnya. "Coach Darma menyebarkannya seperti memamerkan permata. Lap ketiga dari belakang. Ritmeku melemah, bahuku turun sebelum aku menyerang." Ia tertawa pendek, tanpa kegembiraan. "Kamu membaca aku lebih dalam dari pelatihku sendiri. Dari ranjang cedera. Dengan menonton."
"Kamu marah?"
"Aku"—Senna mencari kata, menemukannya susah payah—"aku tidak ingat kapan terakhir ada orang yang melihatku begitu teliti tanpa ingin mengalahkanku untuk hadiah. Kamu cuma ingin mengerti." Ia berbalik ke pintu, lalu berhenti, setengah menoleh. "Lututmu akan menentukan sisa kariermu, Wijana. Kakimu tidak akan pernah sama. Aku tahu, karena punyaku juga tidak. Tapi ada satu hal yang tidak ikut cedera."
"Kepala," kata Arka.
Senna mengangguk, satu kali, gerakan kecil yang dari siapa pun lain tidak berarti apa-apa, tapi dari Senna terasa seperti seseseorang menurunkan sebagian zirah yang ia kenakan tiga tahun. "Kepala," ulangnya. Lalu ia pergi, sepatunya tanpa suara, jaketnya menghilang ke lorong.
Arka duduk diam di atas roller yang sudah berhenti, lutut terbungkus, gedung menggelap di sekelilingnya. Permusuhan yang ia bawa selama berbulan-bulan terhadap anak itu tidak hilang—tidak akan pernah benar-benar hilang, dua sprinter tidak bisa berhenti ingin mengalahkan satu sama lain—tapi sesuatu di bawahnya telah bergeser. Bukan persahabatan. Senna tidak menawarkan itu, dan Arka tidak akan menerimanya kalau ditawarkan. Yang ada di antara mereka sekarang lebih dingin dari persahabatan dan lebih jujur: pengertian. Dua orang yang tahu persis rasanya lantai banking menghantam tubuh, dan tahu persis ketakutan yang menunggu di banking pertama saat kamu kembali.
Ia meraih ponselnya, mengetik pesan untuk Mei tentang apa yang baru terjadi, lalu berhenti sebelum mengirim. Beberapa hal lebih baik diceritakan dengan suara. Ia memandang lintasan kayu yang kosong dan untuk pertama kalinya tidak merasa kecil di hadapan Senna Rais. Mereka berdiri di tanah yang sama sekarang, dua anak dengan luka di lutut dan ketakutan yang sama menunggu di tikungan tiga. Bedanya, pikir Arka, ia punya orang-orang yang akan menuntunnya melewati banking itu. Dan Senna, untuk semua kemenangannya, harus melakukannya sendirian. Untuk pertama kalinya, Arka merasa ia yang lebih beruntung.