Dokter menulis tiga kata di lembar pemeriksaan yang ditunggu Arka selama tujuh minggu: boleh tes ringan. Bukan balapan. Bukan banking penuh. Tes—sepuluh lap di lintasan, kecepatan dijaga, lutut dipantau, satu kesalahan dan ia turun. Tapi setelah hampir dua bulan di atas roller yang tidak membawanya ke mana-mana, tiga kata itu terasa seperti pintu yang dibuka ke dunia tempat ia pernah hidup.
Lalu ia berdiri di tepi lintasan pemusatan dengan sepeda di tangan, dan dunia itu tampak ingin membunuhnya.
Banking tikungan tiga menjulang di hadapannya seperti tembok. Empat puluh dua derajat papan kayu, miring sampai rasanya tidak masuk akal sebuah sepeda bisa menempel di sana tanpa terlempar. Ia sudah melewati banking itu ribuan kali. Ia pernah tidur memikirkan sudutnya. Tapi sekarang, berdiri di garis biru bawah dengan lutut yang masih ingat persis sensasi ligamen yang gagal di bawah tekanan menyamping, tubuhnya menolak. Bukan kepalanya—kepalanya tahu fisikanya, tahu bahwa kecepatan yang cukup membuat banking jadi sahabat, tahu bahwa justru pelan yang berbahaya. Tubuhnya yang menolak. Kakinya menjadi kayu.
"Naik," kata Hasan dari pinggir lintasan, suaranya tenang, sama tenangnya seperti hari pertama bertahun-tahun lalu di Velodrom Rajawali, saat Arka pertama kali melihat papan kayu sekarat itu dan mengira ia akan menaklukkannya dalam seminggu.
Arka naik. Mengayuh di garis bawah, lintasan datar di lurusan, paru-parunya bekerja, kakinya bergerak. Mudah. Selama ia di bawah, di tempat datar, semuanya mudah. Tapi tikungan datang, banking naik di sisi kanannya, dan setiap insting di tubuhnya menjerit untuk tetap di bawah, untuk tidak naik ke papan miring tempat ia pernah jatuh. Ia melewati tikungan pertama menempel di garis paling bawah, jantungnya berdebar, dan ia tahu Hasan melihatnya.
Dua lap. Tiga. Ia tidak naik. Ia mengayuh di pita bawah seperti pemula yang takut, dan setiap lap rasa malunya bertambah, dan rasa malu membuat kakinya makin kaku, dan kaki kaku adalah persis cara untuk jatuh lagi.
"Berhenti memikirkan jatuhnya," Hasan memanggil saat Arka lewat. "Kamu mengayuh seperti orang yang menunggu rasa sakit. Tubuhmu menyiapkan diri untuk hantaman yang belum datang, dan persiapan itu sendiri yang akan membuatnya datang."
Arka tahu pria tua itu benar. Ia tahu, dengan kepala analisnya yang kini tajam, bahwa ketegangan di pahanya, lengannya yang mengunci setang, bahunya yang naik—semua itu menghilangkan kelenturan yang membuat sepeda bisa mengikuti garis di banking. Pengetahuan tidak membantu. Pengetahuan dan tubuh adalah dua orang asing sekarang, persis seperti dirinya dan lututnya.
Di lap kelima, Hasan turun dari pinggir. Pria itu, dengan kaki kirinya yang pincang sejak tiga puluh tahun, menyusuri tepi lintasan dengan tongkat sampai ke mulut tikungan tiga. Ia berdiri di sana, di garis biru, tepat di tempat banking mulai naik, dan saat Arka mendekat ia mengangkat tangannya—bukan menyuruh berhenti, tapi menunjuk. Menunjuk ke atas. Ke garis merah di tengah banking, jalur balap, tempat yang seharusnya.
"Aku di sini," teriak Hasan. "Aku tidak akan ke mana-mana. Kamu jatuh, kamu jatuh ke arahku. Sekarang naik. Bukan karena tidak takut. Naik dengan takut. Itulah satu-satunya cara siapa pun pernah melewati tikungan ini."
Arka mendekati banking. Jantungnya menghantam tulang rusuk. Lututnya berdenyut dengan ingatan. Dan ia memikirkan Hasan berdiri di sana dengan kaki pincangnya, tidak akan ke mana-mana, dan ia memikirkan Mei yang mengajarinya tangan bertaut tidak boleh ragu, dan ia memikirkan Senna yang melewati banking pertamanya sendirian tanpa siapa pun di garis biru. Dan ia menambah kayuhannya—sedikit, lalu lebih—membiarkan kecepatan datang, karena kecepatan adalah yang membuat banking memegang sepeda alih-alih melemparnya, dan pada saat tikungan tiba ia membiarkan tubuhnya naik.
Roda menggigit papan miring. Gaya menariknya ke bawah dan ke samping sekaligus, tekanan yang sama persis yang pernah menghancurkan lututnya, dan untuk seperdetik seluruh tubuhnya menjerit. Lalu ia melewatinya. Banking melepaskannya ke lurusan, datar lagi, dan ia masih di atas sepeda, masih utuh, gemetar dari ujung jari sampai rahang.
"Lagi," kata Hasan, masih berdiri di garis biru. "Sekarang kamu tahu tikungan ini tidak membunuhmu hari ini. Buktikan ke kakimu sekali lagi."
Arka melewatinya lagi. Lalu lagi. Setiap kali tubuhnya sedikit kurang kaku, kepalanya dan kakinya pelan-pelan diperkenalkan kembali. Pada lap kesepuluh ia naik ke garis merah tanpa Hasan harus menunjuk, melewati banking dengan tubuh yang masih gemetar tapi tidak lagi menolak. Saat ia turun dari sepeda di akhir tes, kakinya hampir tidak bisa menahan beratnya, bukan dari lelah fisik—sepuluh lap pelan bukan apa-apa—tapi dari sesuatu yang telah ia keluarkan dari dalam dirinya dan tinggalkan di papan kayu itu.
Hasan menepuk pundaknya, satu kali, dengan tangan yang kasar oleh tiga puluh tahun lem ban. "Hari pertamamu di Rajawali kamu melewati banking karena tidak tahu cukup untuk takut," katanya. "Hari ini kamu melewatinya tahu persis apa yang bisa terjadi, dan tetap melewatinya. Itu bukan keberanian yang sama, Nak. Itu keberanian yang jauh lebih sulit."
Arka menatap tikungan tiga, papan kayu empat puluh dua derajat yang pernah menjatuhkannya, dan untuk pertama kalinya sejak jatuh ia tidak melihat tembok. Ia melihat jalan. Lebih sempit dari dulu, lebih harus ia hormati, tapi jalan. Ia masih punya tikungan untuk dilewati—banyak, di kejuaraan yang menunggu—tapi ia telah melewati yang pertama dan terberat, yang ada di dalam kepalanya sendiri.