Kaki Arka tidak kembali utuh. Tes power meter di laboratorium pemusatan dua minggu setelah ia kembali ke lintasan menunjukkannya dalam angka yang tidak bisa dibantah: puncak tenaganya turun. Bukan banyak—delapan persen, kata teknisi lab dengan nada yang dimaksudkan menghibur—tapi delapan persen di dunia tempat kemenangan diputuskan sepersepuluh detik adalah jurang. Arka yang dulu, anak jalanan dengan kaki yang bisa meledak dari nol seperti ban pecah, sebagian telah hilang di tikungan tiga dan tidak akan pernah kembali.
Ia mengira kabar itu akan menghancurkannya. Ternyata tidak. Ia sudah berduka untuk kaki itu di ranjang klinik, di atas roller, di banking pertama yang gemetar. Yang tersisa sekarang bukan kesedihan, melainkan masalah—dan masalah, tidak seperti kesedihan, bisa diselesaikan.
"Kalau aku tidak bisa lagi menang dengan ledakan," kata Arka pada Hasan, di garasi pemusatan dengan sepeda terbalik di antara mereka, "aku harus menang dengan sesuatu yang lain."
"Sekarang kamu bertanya pertanyaan yang benar." Hasan memutar pedal, mendengarkan derit rantai. "Sprinter yang cuma punya kaki adalah sprinter yang kalah begitu kakinya berkurang sedikit. Dan kaki selalu berkurang—oleh usia, oleh cedera, oleh hari yang buruk. Pembalap yang punya kepala menua dengan anggun. Ia kehilangan kaki dan menemukan ia masih bisa menang, karena ia tidak pernah menang dengan kaki saja."
Maka Arka membangun ulang dirinya, gigi demi gigi, seperti Mei dulu mengajarinya membongkar rasio. Ia tidak bisa lagi mengandalkan menyalip dari belakang dengan kecepatan murni di dua ratus meter terakhir; delapan persen yang hilang membuat lawan terlatih bisa menahannya kalau ia bermain terlalu jujur. Jadi ia bermain lebih curang—curang dalam arti taktis, yang dihormati di lintasan. Ia belajar mencuri posisi sebelum sprint dimulai, merebut garis dalam saat tikungan terakhir sehingga lawan harus mengayuh lebih jauh di banking luar. Ia belajar memancing, mengendurkan kayuhan untuk membuat lawan menyerang terlalu cepat lalu menyusulnya saat tenaga lawan habis—pelajaran points race yang dulu membuatnya kalah dari Mei, kini berbalik jadi senjatanya.
Dan ia belajar membaca. Itu yang paling tumbuh. Cedera telah memberinya berminggu-minggu di menara juri, menonton, menganalisis, membongkar setiap pembalap menjadi pola. Kini ia membawa kepala analis itu ke atas sepeda. Ia tidak lagi melihat balapan sebagai kaki melawan kaki; ia melihatnya sebagai catur yang bergerak pada enam puluh kilometer per jam, dan ia melihat tiga langkah ke depan saat lawannya masih bermain satu langkah. Ia tahu kapan bahu seseorang menegang sebelum serangan. Ia tahu siapa yang rakus dan akan meledak terlalu dini, siapa yang penakut dan akan menunggu terlalu lama. Ia tahu, kadang, apa yang akan dilakukan lawan sebelum lawan itu tahu sendiri.
Dalam latihan sparring melawan junior undangan dan sesekali atlet pemusatan, ia mulai menang lagi. Bukan dengan cara yang dulu, yang membuat penonton berdiri dan berteriak melihat ledakan tenaga mentah. Ia menang dengan cara yang membuat pelatih mengangguk pelan, cara yang tampak hampir mudah dari luar karena seluruh kerja kerasnya terjadi di kepala sebelum sprint dimulai. Ia menang dengan menempatkan dirinya di posisi tempat menang menjadi tak terhindarkan, lalu cukup melepas kaki yang berkurang itu di detik yang persis benar.
Coach Darma menontonnya dari menara juri pada suatu sore, lengan bersedekap, ekspresinya seperti biasa tak terbaca. Pelatih kepala itu pernah menghukum Arka, pernah mengancam memulangkannya, pernah memandang metode Hasan sebagai kuno. Ia menonton Arka memenangkan tiga sprint berturut-turut melawan atlet yang kakinya jelas lebih kuat, dan setelah yang ketiga ia turun dari menara dan menghampiri.
"Power meter-mu turun delapan persen," kata Darma. "Hasil sparring-mu naik. Itu seharusnya tidak mungkin."
"Kakinya yang turun, Coach," kata Arka, melepas helm, keringat menetes. "Bukan saya."
Darma menatapnya lama, dan untuk pertama kalinya sejak Arka tiba di pemusatan sebagai anak jalanan di antara orang berseragam rapi, tidak ada keraguan di mata pelatih itu. Tidak ada proyek menarik yang sedang dievaluasi. Hanya seorang pelatih melihat seorang pembalap. "Saat kamu datang, aku pikir kamu kaki tanpa kepala," kata Darma. "Aku salah dua kali. Pertama meragukan kepalamu. Kedua mengira cedera akan menghabisimu." Ia mengangguk, gerakan singkat yang dari Darma berarti sebuah dunia. "Selamat datang kembali. Kali ini aku tidak menerimamu sebagai eksperimen. Aku menerimamu sebagai atletku."
Ia berbalik dan naik kembali ke menara, dan Arka berdiri di tengah lintasan dengan helm di tangan, menyadari sesuatu yang aneh dan pahit dan benar sekaligus: cedera itu, hal terburuk yang pernah terjadi padanya, telah membuatnya pembalap yang lebih baik. Bukan lebih cepat. Lebih lengkap. Kakinya berkurang dan kepalanya bertambah, dan pertukaran itu—yang ia tidak akan pernah pilih sendiri, yang masih ia tangisi di malam-malam tertentu—telah mengubahnya dari anak yang punya satu senjata menjadi pembalap yang punya seluruh papan catur. Hasan benar. Ia menua dengan anggun, di usia sembilan belas tahun, lewat tikungan yang nyaris membunuhnya.