Surat federasi datang lewat surel resmi pada Selasa pagi, dan pada Selasa sore seluruh pemusatan membicarakannya dengan suara rendah seperti membicarakan kabar duka. Format Kejuaraan Nasional kualifikasi diubah. Jumlah slot sprint per wilayah dipangkas, dan kuota yang dihilangkan dari sistem lama dialihkan ke skema baru bernama "jalur prestasi klub"—yang dalam praktik berarti klub-klub besar berduit dengan rekam jejak panjang mendapat slot tambahan otomatis, dan velodrom kecil seperti Rajawali harus memperebutkan sisa yang menyusut.
Arka tidak mengerti seluruh seluk-beluk birokrasinya. Ia mengerti hasil akhirnya, yang dijelaskan Hasan dengan wajah yang lebih tua dari biasanya: slot sprint yang dengan susah payah ia rebut lewat seleksi, lisensi yang menahan buldoser dari Velodrom Rajawali satu tahun, kini menggantung lagi. Bukan dicabut. Tapi diancam dialihkan ke klub Garuda Sakti—klub Senna, klub Pak Wirya—dengan alasan "efisiensi pembinaan".
"Mereka tidak bisa mengalahkanmu di lintasan," kata Hasan, suaranya keras, marah dengan cara yang jarang ia tunjukkan. "Jadi mereka mengubah aturan di ruang rapat. Persis seperti yang kukatakan dulu. Balapan terberat di olahraga ini terjadi di tempat tidak ada sepeda."
Arka sudah pernah melihat Pak Wirya bekerja, di rapat federasi berbulan-bulan lalu, mencoba mengalihkan kuota Rajawali ke kota lain dan ditahan hanya oleh kartu prestasi seleksi Arka. Penundaan, kata Hasan waktu itu. Bukan kemenangan. Dan kini penundaan itu habis, dan Wirya kembali dengan senjata baru yang lebih rapi, dibungkus dalam istilah administratif yang membuatnya tampak adil.
Yang tidak Arka duga adalah siapa yang datang ke garasi pemusatan keesokan paginya untuk membahasnya. Coach Darma. Berdiri di ambang pintu dengan map di tangan, menatap Hasan—dua orang yang sepanjang Arka di pemusatan ini saling memandang dengan ketegangan halus, pelatih bersertifikat dengan metode modern dan pelatih tua dengan ilmu garasi, masing-masing diam-diam yakin lebih benar.
"Kita perlu bicara," kata Darma pada Hasan. Bukan pada Arka. Pada Hasan.
Mereka duduk di bangku panjang garasi, di antara sepeda terbalik dan kaleng lem, dan Arka mendengarkan dari sudut sambil pura-pura memeriksa ban. Darma membuka map. Di dalamnya bukan strategi latihan, melainkan dokumen federasi, notulen rapat, daftar suara.
"Aku tidak suka caramu melatih," kata Darma pada Hasan, lugas. "Kau mengandalkan insting di tempat seharusnya ada data. Kau membiarkan anak ini cedera karena terlalu percaya pada api di dadanya alih-alih protokol pemulihan."
"Dan aku tidak suka caramu," balas Hasan, sama lugasnya. "Kau memperlakukan atlet seperti angka di power meter. Kau lupa bahwa yang membuat anak ini menang bukan VO2-nya, melainkan sesuatu yang tidak bisa diukur mesinmu."
Keduanya saling menatap. Lalu Darma menutup map dengan suara tepukan kecil. "Tapi kita berdua melihat hal yang sama di anak itu. Dan klub Wirya akan mengubur dia di balik kertas-kertas ini sebelum dia sempat membuktikan apa pun lagi." Ia mendorong map ke arah Hasan. "Aku punya suara di komite teknis. Kau punya cerita—anak panti, velodrom sekarat, seleksi yang nyaris mustahil. Suaraku tanpa ceritamu cuma birokrasi. Ceritamu tanpa suaraku cuma sentimen. Bersama, mungkin cukup untuk menahan pengalihan slot itu."
Arka berhenti pura-pura memeriksa ban. Ia menatap dua pria yang sepanjang ini berseberangan—satu yang membentuknya dari nol di garasi berdebu, satu yang menghaluskannya dengan laboratorium dan disiplin—kini duduk di bangku yang sama, terpaksa bersekutu oleh musuh yang lebih besar dari perbedaan mereka.
"Kenapa kau mau melakukan ini?" tanya Hasan, hati-hati. "Atlet di klub Wirya juga atletmu di pemusatan. Kau tidak rugi kalau slot itu pindah."
Darma diam sejenak. "Karena aku menonton anak itu kembali dari banking yang nyaris membunuhnya dan menang dengan kepala saat kakinya berkurang delapan persen," katanya. "Dan kalau olahraga ini membiarkan pembalap seperti itu dikalahkan oleh kertas, bukan oleh kaki, maka aku melatih untuk olahraga yang tidak ingin kulayani." Ia berdiri. "Aku tidak akan pernah setuju dengan metodemu, Pak Hasan. Tapi soal ini, kita di pihak yang sama."
Mereka berjabat tangan, kaku, dua orang yang tidak akan pernah berteman tapi kini bersekutu. Dan Arka, menyaksikan dari sudut garasi, mempelajari pelajaran yang tidak ada di outline latihan mana pun: bahwa sekutu tidak selalu datang dari orang yang menyukaimu atau menyetujuimu. Kadang sekutu adalah orang yang dulu berdiri di seberangmu, yang berbeda denganmu dalam segala hal, tapi yang kebetulan menghadap musuh yang sama di hari yang sama. Hidup sendirian, yang selalu menjadi caranya, tidak mengajarinya ini. Hanya tim yang mengajarinya—dan tim, ia mulai mengerti, lebih luas dari yang pernah ia kira. Tim bisa berarti dua pelatih yang saling tak suka memilih melindungimu di atas perbedaan mereka.
Dalam tiga hari Darma mengajukan keberatan teknis ke komite, didukung berkas prestasi Arka yang Hasan susun rapi, ditambah liputan kecil media lokal tentang kisah Rajawali yang mulai beredar. Tidak menang telak. Komite menunda keputusan, meminta Rajawali membuktikan kelayakan lewat hasil kualifikasi mendatang. Penundaan, lagi. Tapi Arka sudah belajar membaca penundaan sebagai apa adanya: bukan kemenangan, melainkan satu pekan lagi untuk berjuang. Dan satu pekan, di tangan orang yang tahu cara menggunakannya, bisa menjadi cukup.