Coach Darma mengumpulkan mereka di papan tulis ruang strategi, menggambar lintasan oval dengan spidol, dan menulis satu kata di atasnya yang membuat perut Arka mengencang: MADISON.
"Komite teknis menunda keputusan soal slot sprint kalian," kata Darma, mengetuk papan. "Mereka ingin bukti kelayakan di kualifikasi. Masalahnya, di nomor sprint individual, Rajawali kalah jumlah dan kalah dana melawan klub-klub besar. Wirya akan punya tiga, empat sprinter terlatih bertahun-tahun. Kalian punya satu pembalap dengan lutut yang baru sembuh." Ia menatap Arka. "Kita tidak akan menang perang jumlah. Jadi kita ubah medan perangnya."
Ia menggambar dua lingkaran kecil di lintasan, lalu menarik garis melengkung di antaranya. "Madison. Dua pembalap satu tim, balapan panjang penuh sprint berpoin, dan di sini"—ia menebalkan garis lengkung itu—"satu pembalap melempar pasangannya ke depan lewat handsling, sementara dirinya naik ke banking untuk istirahat. Bergantian, puluhan kali, di tengah kekacauan dua puluh pembalap. Tim besar dengan banyak bintang individu sering kacau di madison, karena bintang tidak terbiasa menyerahkan rodanya pada orang lain. Tim kecil yang kompak bisa mengalahkan kumpulan bintang. Itu satu-satunya nomor di mana ketidakberbiayaan kita bukan kelemahan."
Arka menatap garis lengkung handsling itu dan merasakan dingin yang sangat lama dan sangat akrab. Madison. Nomor yang menuntut hal paling mustahil baginya. Bukan kaki, bukan kepala—kepercayaan. Menyerahkan rodanya, momentumnya, keselamatannya, ke tangan orang lain pada kecepatan enam puluh kilometer per jam di banking miring empat puluh dua derajat. Ia ingat latihan handsling pertamanya, bertahun-tahun lalu di Rajawali, yang gagal total dan meretakkan hubungannya dengan Mei. Tangannya yang selalu ragu di detik terakhir, menarik kembali, tidak bisa percaya bahwa tangan lain akan benar-benar ada di sana.
Lalu ia ingat rehab. Mei merawatnya. Tangan bertaut tanpa ragu. Ia sudah belajar percaya pada satu orang. Mungkin ia bisa melakukannya di lintasan sekarang.
"Mei," kata Arka, dan ada kelegaan di suaranya, karena membayangkan tangan Mei yang sudah ia percayai membuat seluruh hal mustahil ini terasa mungkin. "Saya melatih madison dengan Mei."
Darma menggeleng, dan kelegaan itu padam. "Tidak. Mei endurance, jalurnya sendiri, dan dia tidak boleh kuhabiskan tenaganya untuk nomormu menjelang kualifikasinya sendiri. Lagi pula"—ia menatap Arka dengan tajam—"itu terlalu mudah untukmu. Mei sudah kamu percayai. Kamu sudah nyaman dengan tangannya. Madison di kualifikasi tidak akan dilawan dengan kenyamanan."
"Lalu siapa?"
Darma membuka mapnya dan meletakkan satu lembar di meja. Foto seorang pemuda, wajah keras, mata yang tidak tersenyum, berseragam klub dari kota lain. "Yoga. Sprinter senior, dua puluh dua tahun, dari pemusatan wilayah sebelah yang dibubarkan tahun ini. Dia kehilangan timnya, persis seperti kamu nyaris kehilangan velodrommu. Federasi memindahkannya ke sini. Dia butuh nomor, kamu butuh partner, dan madison membutuhkan kalian berdua."
Arka menatap foto itu. Mata yang keras. Tidak ada kehangatan di sana. "Dia tahu soal saya?"
"Dia tahu kamu anak panti yang baru tiga musim di lintasan, dengan lutut yang baru sembuh, dan dia harus mempertaruhkan kualifikasinya pada tanganmu." Darma menutup map. "Tebak seberapa senang dia."
Maka inilah pelajaran yang menunggu Arka, pikirnya, berdiri di ruang strategi memandang foto orang asing yang harus ia percayai dengan nyawanya di banking. Ia sudah belajar percaya pada Mei, yang merawatnya, yang ia cintai. Itu bagian yang mudah—percaya pada orang yang sudah mencintaimu kembali. Yang menunggunya sekarang jauh lebih sulit: percaya pada orang yang tidak menyukainya, yang meragukannya, yang punya alasan sendiri untuk tidak percaya. Dan—ini yang membuat dadanya mengencang—membuat orang itu mempercayainya juga. Kepercayaan, ia mulai sadar, bukan hanya soal dirinya membuka tangan. Itu separuh perkara. Separuhnya lagi adalah memenangkan tangan orang lain agar mau menggenggam balik.
"Kapan saya bertemu dia?" tanya Arka.
"Besok pagi, lintasan, jam enam." Darma menghapus papan tulis, satu sapuan menghilangkan kata MADISON. "Bawa kesabaran. Kalian akan saling membenci selama beberapa minggu sebelum kalian bisa menang bersama. Itu normal. Madison selalu dimulai dari dua orang yang tidak percaya." Ia berhenti di pintu. "Pertanyaannya bukan apakah kalian akan bertengkar. Pertanyaannya apakah kalian cukup dewasa untuk membangun sesuatu dari pertengkaran itu. Itu yang akan kualifikasi uji. Bukan kaki kalian. Kepercayaan kalian."
Arka tidur buruk malam itu. Ia memimpikan tangan yang terulur dan ditarik kembali, lemparan yang meleset, banking yang menanti di bawah dua tubuh yang jatuh. Ia bangun sebelum subuh, lututnya berdenyut samar dengan ingatan, dan ia berbaring di gelap memikirkan Yoga, orang asing dengan mata keras yang akan menjadi sumber keselamatan atau kehancurannya. Untuk pertama kali sejak cedera, ketakutannya bukan tentang lutut. Itu tentang tangan—miliknya dan milik orang lain—dan apakah dua orang yang tidak punya alasan untuk percaya bisa belajar menggenggam pada kecepatan tempat satu keraguan membunuh keduanya.