Yoga sudah di lintasan saat Arka tiba jam enam kurang lima, dan itu hal pertama yang Arka pelajari tentangnya: orang ini datang lebih awal, selalu, untuk tidak pernah berutang waktu pada siapa pun. Ia sedang memutar pedal pelan di garis bawah, gerakannya bersih dan ekonomis, tubuh seorang sprinter yang sudah bertahun-tahun di papan kayu. Ketika ia melihat Arka, ia tidak melambai, tidak mengangguk. Ia hanya berhenti di pinggir lintasan dan menatap, mengukur, dengan mata keras yang persis seperti di foto.
"Jadi kamu," kata Yoga. Suaranya rendah, datar. "Anak panti yang ledakannya bikin Darma kegirangan."
"Arka."
"Aku tahu namamu." Yoga melepas pandangan, menatap lintasan. "Aku juga tahu kamu baru tiga musim di sini dan lututmu baru saja hancur. Dan aku harus melempar diriku ke tanganmu dua puluh kali per balapan di banking empat puluh dua derajat. Tahu rasanya bagaimana?"
Arka tidak menjawab. Tidak ada jawaban yang akan membantu.
"Aku punya tim sebelas tahun," lanjut Yoga, masih menatap lintasan, suaranya tetap datar tapi ada sesuatu yang keras di bawahnya. "Pemusatan wilayahku. Partner madisonku, namanya Bram, tanganku dan tangannya seperti satu tangan. Kami tahu lemparan satu sama lain dari napas. Lalu federasi membubarkan pemusatan kami karena anggaran, dan Bram pindah ke klub yang membayar, dan aku dikirim ke sini untuk dipasangkan dengan"—ia menoleh, menatap Arka penuh—"anak yang belum pernah menyelesaikan satu madison sungguhan dalam hidupnya. Jadi maaf kalau aku tidak menyambutmu dengan pelukan."
Arka merasakan kemarahan lama yang akrab naik di tenggorokannya—kemarahan anak jalanan yang diremehkan, yang dipanggil anak panti tanpa masa depan—dan ia menelannya. Hasan telah mengajarinya bahwa kemarahan di lintasan adalah kaki yang rakus, adalah ledakan yang terlalu dini, adalah cara untuk kalah. Ia menelannya dan menggantinya dengan kepala. "Kamu marah pada federasi," kata Arka pelan. "Bukan padaku. Aku cuma yang kebetulan berdiri di sini."
Mata Yoga menyipit sedikit, terkejut barangkali bahwa anak itu tidak balas menyerang. "Naik sepeda," katanya akhirnya. "Kita lihat tanganmu sebelum aku menghakimi mulutmu."
Mereka mulai pelan, di garis bawah, kecepatan yang Darma tetapkan sebagai aman. Handsling dasar: Yoga di depan, Arka menyusul dari belakang, dan pada titik yang ditentukan Yoga mengulurkan tangan kanannya ke belakang, telapak terbuka, dan Arka harus menggenggamnya dan melempar dirinya ke depan—mentransfer momentum, satu pembalap masuk ke lomba, yang lain naik ke banking. Gerakan yang terlihat sederhana dan, pada kecepatan tinggi, mematikan kalau salah.
Lemparan pertama kaku. Tangan Arka menemukan tangan Yoga, tapi genggamannya ragu, dan lemparannya lemah, tidak ada transfer tenaga yang bersih. Yoga melepas dengan dengusan kecil. "Kamu menggenggam seperti takut tanganku kotor."
Lemparan kedua. Arka mencoba lebih keras, tapi terlalu keras, menarik Yoga sedikit dari garisnya, dan keduanya goyah sebelum stabil lagi. "Sekarang kamu mau menarikku jatuh," kata Yoga. "Pilih satu. Ragu atau brutal. Keduanya membunuh."
Lemparan ketiga, keempat, kelima. Setiap kali ada yang salah—timing yang meleset sepersekian detik, genggaman yang terlalu cepat lepas, sudut yang salah sehingga tenaga terbuang ke samping alih-alih ke depan. Dan setiap kali, di bawah kesalahan teknis itu, Arka merasakan sesuatu yang lebih dalam dan lebih tua: tangannya tidak mau percaya. Pada detik genggaman, di tempat seluruh momentumnya berada di telapak orang asing ini, sesuatu di dalam dirinya berteriak untuk menarik kembali, untuk tidak menyerahkan, untuk menjaga rodanya sendiri seperti yang selalu ia lakukan seumur hidupnya. Anak jalanan yang menyalip sendirian, yang tidak pernah mengandalkan siapa pun, masih hidup di telapak tangannya, dan ia menolak melepaskan.
Yoga merasakannya. Tentu saja ia merasakannya—sebelas tahun di madison mengajarinya membaca tangan seperti Arka belajar membaca punggung lawan. "Kamu menahan," kata Yoga setelah lemparan keenam, melepas dan berhenti di pinggir, napas memburu. "Di detik terakhir, ada bagian darimu yang menarik kembali. Aku merasakannya di pergelangan tanganku. Bram tidak pernah begitu. Bram melempar dirinya seperti tidak ada bedanya antara tangannya dan tanganku."
"Aku bukan Bram," kata Arka, lebih tajam dari yang ia maksudkan.
"Tidak," kata Yoga, dan untuk pertama kalinya ada sesuatu selain dingin di suaranya—kelelahan, mungkin, atau kesedihan yang ia sembunyikan di balik mata keras. "Tidak, kamu bukan." Ia turun dari sepeda, menggeleng. "Cukup hari ini. Tanganmu belum siap, dan aku belum bisa mempercayakan banking padamu. Kita coba lagi besok."
Ia berjalan ke garasi tanpa menoleh, dan Arka berdiri sendiri di tengah lintasan, telapak tangannya masih ingat genggaman yang gagal. Ia tahu apa yang salah. Itu masalahnya—ia tahu persis, dengan kepala analisnya yang tajam. Bukan timing, bukan sudut, bukan kecepatan. Itu hal-hal yang bisa dilatih. Yang salah ada di bawahnya: ia tidak percaya, dan Yoga tidak mempercayainya, dan dua orang yang tidak percaya tidak bisa membangun handsling betapapun banyaknya mereka berlatih teknik. Mereka harus membangun sesuatu yang lebih dulu, sesuatu yang tidak ada di papan tulis Darma, dan Arka tidak tahu bagaimana membangunnya dengan orang yang memandangnya seperti beban yang dipaksakan federasi. Ia memandang lintasan kayu yang kosong dan, untuk pertama kalinya sejak rehab, merasa kembali seperti hari pertama handsling bertahun-tahun lalu: dua tangan yang tidak mau bertemu, dan jurang di antaranya.