Mereka berlatih sepuluh hari, dan setiap hari sedikit lebih baik secara teknis dan tidak sedikit pun lebih baik di bawahnya. Lemparan Arka makin halus, timing-nya makin tepat, sudutnya makin bersih—kepalanya bisa belajar mekanik apa pun. Tapi keraguan di detik genggaman tidak hilang, dan Yoga tetap memperlakukannya seperti partner yang dipaksakan, sopan tapi dingin, profesional tanpa kehangatan. Mereka adalah dua mesin yang dilatih bekerja bersama tanpa pernah menjadi satu.
Lalu Darma memutuskan sudah waktunya menguji mereka pada kecepatan lomba.
"Tidak ada gunanya handsling mulus di kecepatan latihan," katanya, berdiri di menara juri dengan stopwatch. "Madison kualifikasi berjalan di kecepatan tempat satu keraguan melempar kalian ke pagar. Kalian harus tahu sekarang, di lintasan latihan yang aman, apakah tangan kalian tahan di kecepatan itu. Lebih baik gagal hari ini daripada di kualifikasi."
Mereka memulai simulasi. Bukan madison penuh—hanya rangkaian handsling pada kecepatan tinggi, putaran demi putaran, Yoga melempar Arka lalu naik ke banking, Arka mengayuh satu putaran lalu menyusul dan melempar Yoga kembali. Lebih cepat dari yang pernah mereka latih. Banking datang dan pergi di sisi Arka seperti gelombang papan kayu, dan tekanan menyamping di lututnya—lutut kanan yang sama—berdenyut dengan setiap tikungan, pengingat halus dan jahat tentang apa yang bisa terjadi.
Lima handsling berjalan. Tidak sempurna, tapi cukup. Arka mulai merasa, untuk pertama kalinya, bahwa mungkin ini bisa. Bahwa kecepatan justru membantu—tidak ada waktu untuk ragu kalau semuanya bergerak terlalu cepat untuk berpikir.
Lalu handsling keenam, di mulut tikungan tiga, banking sudah naik di sisi mereka.
Arka menyusul dari belakang, Yoga mengulurkan tangan, dan pada detik genggaman—di tempat seluruh momentum Arka harus berpindah ke tangan Yoga—lututnya mengirim denyut tajam, dan tubuh Arka, dengan insting purba yang lebih cepat dari kepalanya, menarik kembali. Hanya sepersekian detik. Hanya sedikit. Tapi cukup.
Genggaman itu setengah jadi saat seharusnya penuh. Tenaga lemparan tidak ditransfer; ia tertahan, terbelah, dan keduanya kehilangan garis di mulut banking pada kecepatan tertinggi yang pernah mereka coba. Roda depan Yoga menggesek banking dengan suara yang membuat perut Arka jatuh, sepeda oleng, dan untuk satu detik panjang dan mengerikan keduanya menggantung di tepi jatuh—dua tubuh, dua sepeda, banking empat puluh dua derajat menarik mereka ke bawah.
Yoga menyelamatkannya. Sebelas tahun di madison ada di tubuhnya, dan ia mengoreksi dengan refleks yang Arka tidak punya, menarik sepedanya kembali ke garis lewat margin setipis cat, lalu turun melambat ke garis bawah dengan napas memburu dan tubuh gemetar. Arka mengikutinya turun, jantungnya menghantam tulang rusuk, lututnya menjerit, dan untuk sesaat tidak ada yang bisa bicara.
Lalu Yoga meledak.
"AKU TAHU." Ia melempar sepedanya ke pinggir lintasan dengan suara berdebam, berbalik pada Arka, wajahnya yang biasa dingin kini merah oleh sesuatu yang lebih panas dari marah—ketakutan, ketakutan murni dari seseorang yang baru saja merasakan banking menariknya. "Aku tahu kamu akan menarik. Aku merasakannya sepuluh hari ini, di setiap lemparan, ada bagian darimu yang tidak pernah benar-benar di sana. Dan sekarang kamu hampir menjatuhkanku di banking pada kecepatan penuh karena kamu TIDAK BISA MELEPAS RODAMU SENDIRI."
"Lututku—" mulai Arka.
"JANGAN." Yoga mengangkat tangan. "Jangan salahkan lututmu. Itu bukan lutut. Aku pernah cedera, semua orang di sini pernah cedera, dan kami tetap bisa melempar. Itu bukan lutut, Arka. Itu kamu. Ada sesuatu di dalam dirimu yang tidak bisa menyerahkan kendali pada siapa pun, dan kamu boleh menyimpan itu di nomor individual sebanyak yang kamu mau, tapi di madison itu akan membunuh partnermu." Napasnya tersengal. "Membunuhku. Aku sudah kehilangan tim sekali tahun ini. Aku tidak akan kehilangan tulang juga, demi anak yang tidak bisa melepas."
Ia mengambil sepedanya dan berjalan keluar, dan kali ini ia tidak bilang "besok". Ia tidak bilang apa-apa.
Arka berdiri di tengah lintasan, sendirian lagi, dan kebenaran yang dilemparkan Yoga padanya menempel karena benar. Bukan lutut. Lutut hanya pemicu. Yang menarik tangannya kembali adalah hal yang sama yang membuatnya hidup sendirian seumur hidup, yang membuatnya menyalip setiap celah tanpa mempercayai siapa pun, yang membuat handsling pertamanya gagal bertahun-tahun lalu. Anak jalanan yang tidak bisa menyerahkan rodanya. Ia kira ia sudah menyembuhkannya—dengan Mei, dengan kepercayaan yang ia bangun selama rehab. Tapi percaya pada Mei, ia sadar sekarang dengan pahit, adalah hal yang berbeda. Mei mencintainya. Yoga tidak. Percaya pada orang yang mencintaimu kembali adalah satu hal; menyerahkan nyawamu pada tangan orang yang meragukanmu, yang tidak menyukaimu, yang punya alasan untuk tidak ada—itu hal yang sama sekali lain, dan ia gagal.
Dan kini ia berdiri di persimpangan yang ia kenali. Ia bisa mundur. Ia bisa kembali ke keirin, ke nomor individual, ke tempat ia menang atau kalah sendirian dan tidak ada yang bergantung pada tangannya. Nyaman. Aman. Caranya seumur hidup. Atau ia bisa mengejar Yoga, dan mencoba membangun hal paling sulit yang pernah ia coba—kepercayaan dengan orang yang tidak mempercayainya—di nomor yang menentukan apakah Velodrom Rajawali punya alasan untuk bertahan. Ia memandang pintu garasi tempat Yoga menghilang. Lututnya berdenyut. Telapak tangannya ingat genggaman yang gagal. Dan Arka tahu, dengan ketenangan dingin yang aneh, bahwa pilihan yang aman adalah pilihan yang akan membuatnya tetap menjadi anak yang tidak pernah berubah.