Arka menemukan Yoga di garasi pemusatan malam itu, sendirian, membersihkan rantai sepedanya dengan gerakan keras orang yang melampiaskan sesuatu pada logam. Ia tidak mengangkat kepala saat Arka masuk. Udara berbau pelumas dan lem ban dan amarah yang belum dingin.
Arka tidak buru-buru bicara. Hasan telah mengajarinya bahwa kadang hal terpenting adalah membiarkan diam menemukan bentuknya. Ia mengambil bangku, duduk, dan mulai bicara dengan cara yang tidak pernah ia lakukan pada siapa pun—bukan membela diri, bukan menjelaskan teknik, tapi membuka sesuatu yang selama ini ia kunci rapat.
"Aku tidak punya orang tua," kata Arka pelan, menatap rantai di tangan Yoga, bukan wajahnya. "Ditinggal di panti waktu masih bayi. Bu Ningsih yang membesarkanku, dan dia baik, panti itu rumahku, tapi kamu belajar sesuatu tumbuh seperti itu. Kamu belajar bahwa orang datang dan pergi. Anak-anak diadopsi, atau pindah, atau hilang. Pengasuh berganti. Kamu belajar untuk tidak terlalu menggenggam, karena yang kamu genggam selalu dilepaskan darimu pada akhirnya."
Yoga berhenti menggosok rantai. Tidak mengangkat kepala, tapi berhenti.
"Aku jadi kurir karena aku suka sendirian di jalan," lanjut Arka. "Tidak ada yang bergantung padaku, aku tidak bergantung pada siapa pun. Aku menyalip macet sendirian dan menang sendirian dan itu cara aman satu-satunya yang aku tahu. Lalu Hasan menemukanku dan membawaku ke lintasan, dan semua yang dia ajarkan tentang draft dan tim dan menyerahkan roda—itu melawan setiap hal yang membuatku selamat sejauh ini." Ia menelan. "Tanganku menarik kembali di detik terakhir bukan karena lututku. Kamu benar. Itu karena ada bagian dari diriku yang masih anak panti yang tahu bahwa apa pun yang kamu genggam, akan dilepaskan darimu. Jadi aku tidak pernah benar-benar menggenggam. Bahkan saat nyawaku—dan nyawamu—tergantung padanya."
Garasi sunyi kecuali dengung lampu neon. Yoga meletakkan rantai, mengelap tangannya pada kain, dan untuk pertama kalinya menatap Arka dengan sesuatu yang bukan dingin atau marah.
"Bram," kata Yoga, pelan. Nama partnernya. "Aku bilang dia pindah ke klub yang membayar. Itu separuh benar. Yang sebenarnya, dia tahu pemusatan kami akan dibubarkan tiga bulan sebelum diumumkan. Dia tahu, dan dia diam, dan dia diam-diam mengurus kepindahannya ke klub baru. Sementara aku, partnernya sebelas tahun, terus berlatih membabi buta untuk tim yang dia sudah tahu akan mati. Saat pengumuman datang, dia sudah punya kontrak baru di tangan. Aku punya apa-apa." Ia tertawa, suara yang tidak ada gembiranya. "Sebelas tahun aku melempar diriku ke tangannya tanpa ragu sedetik pun. Dan ternyata dia sudah melepaskan tangannya jauh sebelum aku tahu."
Arka diam. Ia mengerti sekarang—mata keras itu, dinding itu. Yoga bukan orang yang tidak bisa percaya. Yoga adalah orang yang pernah percaya total dan dikhianati persis di titik kepercayaan itu.
"Jadi kita berdua," kata Arka akhirnya. "Aku tidak bisa menggenggam karena tidak pernah punya yang bertahan. Kamu tidak bisa karena yang kamu genggam paling erat melepaskanmu."
"Dua orang yang sama-sama takut," kata Yoga. "Dan Darma memasangkan kita untuk madison. Lelucon."
"Atau bukan lelucon." Arka mencondong ke depan. "Mungkin dua orang yang tahu persis kenapa tangan ragu adalah dua orang yang paling mungkin membangun tangan yang tidak ragu. Karena kita tidak akan pura-pura. Kita tahu apa yang harus dikalahkan. Bram melempar dirimu tanpa ragu karena dia tidak pernah memikirkannya. Aku—kalau aku berhenti ragu, itu bukan karena tidak memikirkan. Itu karena aku memilihnya, setiap lemparan, melawan setiap insting. Itu kepercayaan yang lebih kuat. Bukan yang gampang. Yang dipilih."
Yoga menatapnya lama. Lalu, perlahan, ia mengangguk. "Mulai dari pelan," katanya. "Dari awal. Lupakan kecepatan lomba. Kita bangun tangan ini dari nol, lemparan demi lemparan, sampai tubuhku tahu tanganmu akan ada di sana, dan tubuhmu berhenti menariknya kembali. Bukan minggu. Mungkin sebulan. Ratusan lemparan."
"Aku punya waktu," kata Arka, meski ia tidak yakin itu benar—kualifikasi menunggu, slot terancam—tapi ada hal yang harus dibangun pada kecepatan mereka sendiri atau tidak akan terbangun sama sekali.
Maka mereka membangunnya. Setiap pagi, jam enam, lintasan kosong, kecepatan rendah, dan mereka melempar. Ratusan kali. Yoga belajar bahwa tangan Arka, saat akhirnya menggenggam, menggenggam karena dipilih, bukan karena lupa—dan ada sesuatu yang lebih bisa diandalkan dalam kepercayaan yang dipilih sadar daripada yang diberikan tanpa berpikir. Arka belajar bahwa Yoga, di balik mata kerasnya, melempar dengan kelembutan presisi seseorang yang tahu persis betapa rapuhnya hal yang sedang mereka bangun. Pelan-pelan, lemparan demi lemparan, keraguan di detik genggaman menyusut—tidak hilang, mungkin tidak akan pernah benar-benar hilang, tapi mengecil sampai bisa dikalahkan setiap kali oleh pilihan yang lebih besar darinya.
Pada hari keduapuluh sesuatu terjadi yang membuat keduanya berhenti dan saling tatap di tengah lintasan. Mereka melempar pada kecepatan sedang, dan untuk satu putaran penuh tidak ada keraguan sama sekali—tangan bertemu tangan, momentum berpindah bersih, dua tubuh bergerak seperti satu mesin yang menyerahkan dan menerima tanpa pikiran. Yoga tertawa, suara asli untuk pertama kalinya, terkejut oleh suaranya sendiri. "Itu dia," katanya. "Kamu rasakan? Itu dia."
Arka merasakannya. Bukan kaki, bukan kepala. Tulang dari kepercayaan, dibangun bukan dari kenyamanan tapi dari dua luka yang akhirnya saling mengenali. Mereka belum siap untuk kualifikasi. Tapi untuk pertama kalinya, mereka adalah tim.