Telepon datang saat Arka sedang membersihkan diri setelah latihan handsling pagi, dan begitu ia melihat nama Mei di layar dengan panggilan kedua berturut-turut, ia tahu sebelum mengangkat bahwa sesuatu salah. Mei tidak menelepon dua kali kalau hanya untuk mengabari latihannya.
"Bu Ningsih masuk rumah sakit," kata Mei, tanpa pembuka, suaranya yang biasa tenang kini retak di tepinya. "Tadi pagi. Tekanan darah, kata dokter, tapi—Arka, ini bukan cuma sakit. Ini tekanan. Soal panti."
Arka duduk di bangku ruang ganti, handuk masih di lehernya. "Pelan-pelan. Cerita."
Maka Mei cerita, dan setiap kalimat menambah berat di dada Arka. Pengembang yang bertahun-tahun mengincar lahan di kawasan itu—yang dulu mengancam Velodrom Rajawali dan ditahan oleh lisensi atlet yang Arka rebut—telah menemukan celah baru. Lisensi olahraga melindungi velodrom. Tapi panti Tunas Mekar berdiri di petak tanah yang terpisah, beberapa ratus meter dari velodrom, dan tanah itu tidak punya perlindungan apa pun. Status kepemilikannya, ternyata, tidak sebersih yang selalu diasumsikan—sertifikat lama, yayasan yang mengelolanya nyaris tak aktif, surat-surat yang tidak pernah diperbarui selama dua dekade karena tidak ada yang mengira akan dibutuhkan. Dan pengembang, dengan pengacara yang dibayar untuk mencari persis celah seperti ini, telah mengajukan klaim atas dasar cacat administratif itu.
"Mereka tidak menggusur dengan buldoser," kata Mei. "Mereka menggusur dengan kertas. Surat dari pengadilan, somasi, batas waktu untuk membuktikan kepemilikan yang sah—dan yayasan tidak punya berkas lengkapnya. Bu Ningsih menghabiskan dua minggu terakhir bolak-balik ke notaris, ke kelurahan, ke kantor pengacara yang dia tidak mampu bayar, dan kemarin tubuhnya menyerah."
Arka menutup mata. Ia membayangkan Bu Ningsih—perempuan yang membesarkannya, yang menyimpankan nasi, yang menonton latihannya dengan nasi bungkus di tangan—berlari sendirian melawan tumpukan kertas yang dirancang untuk mengalahkannya, sampai tubuhnya tumbang. Ia membayangkan anak-anak panti, Doni, semua wajah kecil yang ia kenal, di rumah yang menghitung mundur.
"Aku pulang," katanya.
Ia naik bus malam itu juga, sembilan jam yang sama yang berkali-kali ditempuh Hasan untuk menemaninya, dan untuk pertama kalinya ia mengerti bus itu dari sisi lain—perjalanan panjang menuju sesuatu yang kau cintai dan tak bisa kau selamatkan dengan dudukmu di kursi yang bergetar. Ia tiba di Bandung saat fajar, langsung ke rumah sakit, dan menemukan Bu Ningsih kecil di ranjang putih, infus di tangannya, tampak lebih tua dari yang pernah Arka lihat.
Wajah perempuan tua itu menyala saat melihat Arka, lalu segera berkerut khawatir. "Kamu harusnya latihan," katanya, suara lemah. "Kualifikasi sebentar lagi. Kamu tidak boleh di sini."
"Saya di sini, Bu," kata Arka, mengambil tangannya yang kurus. "Latihan bisa nanti."
Ia duduk di samping ranjang sepanjang pagi, dan pelan-pelan Bu Ningsih bercerita, lebih banyak dari yang Mei tahu. Tentang surat-surat yang tidak lengkap. Tentang pengacara yang menggeleng. Tentang batas waktu yang tinggal hitungan minggu. Dan kemudian ia mengatakan hal yang menghancurkan Arka lebih dari semua kabar buruk lainnya, karena ia mengatakannya dengan harapan di matanya yang lelah.
"Tapi kamu akan menang, kan," kata Bu Ningsih. "Di kualifikasi. Lalu kamu jadi terkenal, dapat medali, dan semua orang akan mendengarkan, dan mereka tidak akan berani menggusur rumah seorang juara. Itu yang kamu bilang dulu, kan, Arka? Bahwa kalau kamu menang, semuanya selamat."
Dan di sanalah kebenaran pahit itu duduk di dada Arka seperti batu. Karena ia memang pernah percaya itu—di hari-hari awal, di Velodrom Rajawali, saat Hasan menawarkan kontrak gila dan stakes terasa sederhana: menang, dan selamatkan semuanya. Ia telah membawa keyakinan itu bertahun-tahun, melalui seleksi dan cedera dan kembali ke lintasan. Bahwa kemenangan adalah kunci yang membuka semua pintu, bahwa medali adalah sihir yang menghentikan buldoser dan kertas dan pengembang.
Tapi ia bukan anak itu lagi. Ia sudah belajar terlalu banyak tentang bagaimana dunia bekerja—tentang lisensi yang hanya melindungi velodrom dan bukan panti, tentang federasi yang mengubah aturan di ruang rapat, tentang celah hukum yang dirancang dingin oleh pengacara yang dibayar untuk menang. Ia tahu sekarang, dengan kejernihan yang menyakitkan, bahwa tidak ada medali di dunia ini yang akan menghentikan klaim atas cacat administratif sebidang tanah. Pengembang tidak peduli pada juara. Pengadilan tidak membaca papan podium. Sihir yang ia janjikan pada dirinya sendiri bertahun-tahun lalu tidak pernah ada.
"Iya, Bu," katanya, karena perempuan tua di ranjang itu butuh sesuatu untuk dipegang, dan ia tidak sanggup mengambilnya pagi ini. Tapi di dalam, untuk pertama kalinya, ia menatap penuh kenyataan yang selama ini ia hindari: rumah yang ia perjuangkan sejak awal, alasan di balik segala keringat dan cedera dan ketakutannya di banking, tidak bisa diselamatkan oleh hal yang ia kuasai. Lintasan tidak akan menyelamatkan panti. Ia harus menemukan cara lain—cara yang tidak ada di papan kayu mana pun—atau kehilangan rumahnya meski memenangkan setiap balapan yang tersisa.