Setelah hari itu, aku mulai mengenal Keith sedikit demi sedikit.
Tidak banyak.
Hanya potongan-potongan kecil tentang dirinya yang datang tanpa sengaja—dari obrolan singkat di perpustakaan, sapaan ringan saat berpapasan di kampus, atau tatapan sekilas yang terlalu lama tinggal di kepalaku.
Namun anehnya, hal-hal kecil itu cukup untuk membuat seseorang sepertiku berharap terlalu jauh.
Pagi itu kampus terasa lebih ramai dari biasanya. Spanduk kegiatan organisasi dipasang di mana-mana, sementara mahasiswa baru memenuhi halaman dengan wajah bingung dan suara yang saling bertabrakan.
Aku duduk di kantin bersama Sinta sambil mengaduk es kopi yang mulai mencair.
“Kamu senyum-senyum sendiri dari tadi,” komentar Sinta tiba-tiba.
Aku langsung mengangkat kepala. “Apaan sih?”
“Ih, jangan bohong deh.” Ia menyipitkan mata curiga. “Ini pasti tentang Keith.”
Namanya disebut begitu saja membuat jantungku langsung salah irama.
Aku buru-buru meminum kopi supaya tidak terlihat gugup.
“Biasa aja kali.”
“Biasa aja tapi tiap ada dia lewat matamu langsung nyala.”
Aku memutar mata malas, meski dalam hati aku tahu Sinta benar.
Aku memang mulai memperhatikan Keith terlalu sering.
Dan yang lebih berbahaya—
aku mulai menikmati itu.
“Bella.”
Suara lain menyela sebelum aku sempat membalas Sinta.
Aku menoleh dan mendapati Dario berdiri di dekat meja kami sambil membawa dua map tebal di tangannya.
“Titipan tugas buat dosen jadi dikumpulin sekarang,” katanya.
Aku menghela napas panjang. “Ya ampun, aku belum print revisinya.”
“Nanti aku temenin.”
Sederhana.
Selalu sesederhana itu cara Dario berbicara.
Ia menarik kursi kosong lalu duduk di sampingku tanpa canggung. Kehadirannya terasa seperti sesuatu yang sudah terbiasa ada.
Sinta tersenyum kecil penuh arti sebelum berdiri.
“Aku duluan ya. Mau ketemu anak himpunan.”
Aku langsung tahu perempuan itu sengaja pergi.
Dasar pengkhianat.
Setelah Sinta pergi, suasana berubah sedikit canggung. Aku sibuk memainkan sedotan minuman sementara Dario membuka map di depannya.
“Kamu capek?” tanyanya pelan.
“Hm?”
“Mukamu pucat.”
“Aku kurang tidur.”
“Kebanyakan mikir.”
Aku tertawa kecil. “Sotoy.”
Dario ikut tersenyum tipis.
Ia memang jarang tertawa keras. Tapi justru itu yang membuat senyumnya terasa hangat.
“Aku serius,” katanya kemudian. “Kalau ada apa-apa cerita aja.”
Kalimat itu membuatku diam beberapa detik.
Aku tidak tahu kenapa Dario selalu berbicara seolah ia benar-benar ingin mendengar semua hal tentangku.
Padahal kami bahkan belum sedekat itu.
“Aku gapapa,” jawabku akhirnya.
Dario mengangguk pelan.
Namun matanya mengatakan sesuatu yang berbeda.
Seolah ia tahu aku sedang berbohong, tapi memilih untuk tidak memaksaku jujur.
Dan sebelum suasana menjadi terlalu sunyi—
seseorang datang menghampiri meja kami.
“Dari tadi nyariin ternyata di sini.”
Aku langsung mengenali suara itu.
Keith.
Tubuhku refleks menegang.
Ia berdiri di samping meja sambil memegang botol air mineral dingin. Kaos hitam polos yang ia pakai membuat wajahnya terlihat lebih terang di bawah cahaya kantin.
Keith melirikku sebentar lalu tersenyum kecil.
“Hi, Arabella.”
Sial.
Kenapa caranya menyebut namaku terdengar begitu mudah?
“H-hi.”
Aku membenci diriku sendiri yang mendadak gagap.
Keith tertawa pelan seolah merasa reaksiku lucu.
Baru saat itu ia menyadari ada Dario di sampingku.
“Oh, sorry. Ganggu ya?”
“Nggak,” jawab Dario cepat.
Aku melirik Dario sekilas.
Wajahnya tetap tenang. Terlalu tenang.
Keith menarik kursi kosong di depan kami lalu duduk santai.
“Kalian anak sastra juga?”
“Akuntansi,” jawab Dario singkat.
“Oalah.” Keith mengangguk kecil lalu menoleh ke arahku lagi. “Bella, jadi nanti ikut seminar minggu depan?”
Aku bahkan hampir lupa pernah membicarakan itu dengannya di perpustakaan beberapa hari lalu.
“Oh… iya, kayaknya.”
“Bareng aku aja kalau mau.”
Kalimat itu terdengar biasa.
Sangat biasa.
Tapi bodohnya, jantungku langsung berdetak terlalu cepat.
Aku mengangguk pelan, berusaha terlihat normal.
Dario diam.
Entah kenapa aku jadi merasa bersalah.
Padahal tidak ada yang salah.
Keith mulai membicarakan banyak hal setelah itu—tentang dosen yang menyebalkan, tugas yang menumpuk, sampai rencana acara kampus minggu depan.
Dan sepanjang percakapan itu, aku sadar satu hal:
Keith adalah tipe orang yang membuat siapa pun nyaman berada di dekatnya.
Ia tidak terlalu ramah. Tidak juga terlalu dingin.
Tapi caranya memperhatikan lawan bicara membuat seseorang merasa dianggap penting.
Dan mungkin itu alasan kenapa aku mulai jatuh terlalu dalam.
“Bella tuh kalau ngobrol suka melamun.”
Aku tersentak saat Keith tiba-tiba mengatakan itu sambil tertawa kecil.
“Hah?”
“Iya kan?” Ia menatapku jahil. “Kamu sering ilang sendiri pikirannya.”
Aku salah tingkah.
“Enggak juga.”
“Barusan aja aku ngomong panjang lebar, kamu malah bengong.”
Dario menunduk pelan sambil tersenyum tipis.
“Akhirnya ada yang sadar juga,” gumamnya.
Aku langsung melotot ke arahnya.
“Kalian kompak banget sih.”
Keith tertawa lebih keras kali ini.
Dan tanpa kusadari—
aku ikut tertawa bersama mereka.
Untuk pertama kalinya setelah lama, aku merasa ringan.
Seolah semuanya baik-baik saja.
Seolah tidak akan ada hati yang nantinya terluka di antara kami.
---
Sore harinya aku pergi ke tempat fotokopi dekat kampus bersama Dario untuk mencetak revisi tugas.
Tempat itu penuh mahasiswa sampai udara terasa panas dan sesak.
Aku berdiri di dekat mesin print sambil memeriksa file di ponsel ketika tiba-tiba listrik mati sebentar.
Beberapa orang mengeluh kesal.
Aku refleks mundur dan hampir kehilangan keseimbangan karena seseorang menabrakku dari belakang.
Namun sebelum jatuh, sebuah tangan menahan lenganku cepat.
“Pelan.”
Dario.
Ia masih memegang lenganku beberapa detik sebelum perlahan melepaskannya.
“Kamu kalau jalan suka nggak fokus ya?”
Aku menghela napas malu. “Aku kaget.”
“Untung aku refleks.”
Aku tertawa kecil.
“Pahlawan banget.”
“Memang.”
Aku memutar mata geli.
Dan untuk beberapa saat, semuanya terasa sederhana.
Sampai ponselku bergetar.
Sebuah pesan masuk dari Keith.
> Besok jadi ikut seminar kan?
Hanya satu kalimat pendek.
Tapi cukup membuat pikiranku langsung pergi ke tempat lain.
Aku terlalu fokus membaca pesan itu sampai tidak sadar Dario sedang memperhatikanku.
“Keith?” tanyanya pelan.
Aku langsung mengangkat kepala.
“Hm?”
“Itu Keith ya?”
Aku ragu beberapa detik sebelum mengangguk kecil.
“Oh.”
Hanya itu jawabannya.
Tapi entah kenapa, satu kata pendek itu terasa lebih berat dari seharusnya.
“Kalian dekat sekarang?” tanyanya lagi.
“Nggak juga.”
“Kamu suka sama dia?”
Aku membeku.
Suara bising tempat fotokopi mendadak terasa jauh.
Aku tidak menyangka Dario akan bertanya sejelas itu.
Dan yang lebih buruk—
aku tidak tahu harus menjawab apa.
Karena perasaan itu masih terlalu baru untuk diucapkan keras-keras.
Tapi juga terlalu besar untuk disangkal.
“Bella?”
Aku menunduk pelan.
“Aku nggak tahu.”
Dario diam cukup lama.
Lalu akhirnya ia tersenyum kecil, meski matanya terlihat berbeda.
“Kalau kamu senyum karena seseorang,” katanya pelan, “biasanya jawabannya udah jelas.”
Aku tidak membalas.
Karena mungkin… ia benar.
Dan mungkin sejak awal, Dario sudah menyadari sesuatu yang bahkan belum berani aku akui sendiri.
Bahwa aku mulai jatuh cinta pada Keith.
Perlahan.
Tanpa sadar.
Dan mungkin terlalu dalam.
Sementara Dario—
diam-diam mulai kehilangan aku sedikit demi sedikit.