Setelah berkata demikian, Pandu membuang muka. Dia seperti menolak menatap wajah anaknya setelah dua tahun tidak bersua.
Untuk kali kedua, Bisma mendengkuskan tawa sinis.
“Apa? Sukarela? Lucu sekali, Yah,” kata Bisma diselingi kekeh tawa yang hambar. “Bahkan Ayah nggak nanya dulu apa aku bersedia atau enggak. Apa aku suka? Apa aku rela? Tanya aku, Yah! Aku nggak suka diperlakukan kayak ponsel pintar.”
Bisma memprotes Pandu habis-habisan. Dia sudah terlalu muak dengan semua gelagat Pandu. Dia sudah menduga ke mana arah pembicaraan ayahnya. Dan ke arah mana kakinya akan melangkah setelah ini.
Yang tentu saja, setiap langkah yang akan Bisma ambil ke depannya harus berada di bawah kendali Pandu. Seolah di mata Pandu, Bisma tidak lebih dari seonggok daging hidup yang diwajibkan mematuhi sel