Laras datang lebih awal lagi, tapi kali ini bukan karena gugup—karena dia membawa sesuatu. Semalaman dia menyusun konsep untuk Sari Bumi, brand teh herbal yang sedang dicari ide kampanyenya. Tiga halaman sketsa, satu kalimat besar, dan keyakinan yang dia rawat sejak subuh.
Damar menghampirinya saat dia baru duduk. "Sudah kubilang, kalau ada ide lempar ke aku." Matanya melirik buku sketsa Laras. "Itu apa?"
"Cuma corat-coret, Mas." Laras menutup bukunya pelan. Insting menyuruhnya berhati-hati.
Rapat dimulai pukul sepuluh. Arsen duduk di ujung meja, lengan baju digulung rapi, secangkir kopi hitam tanpa uap. Tim mempresentasikan beberapa arah kreatif untuk Sari Bumi. Satu per satu, Arsen memangkasnya. "Klise." "Sudah dipakai kompetitor tahun lalu." "Ini menjual daun, bukan rasa."
Ruangan mulai diam putus asa. Lalu Arsen menengok ke Laras, yang sejak tadi mencatat sambil sesekali menggambar.
"Kamu," katanya. "Punya sesuatu?"
Semua mata berputar. Damar menegakkan badan, siap menampung apa pun yang keluar.
Laras menelan ludah. Inilah momennya. Dia berdiri, membuka buku sketsa, dan suaranya—yang dia kira akan gemetar—justru mantap. "Teh ini selalu dijual sebagai sehat. Tapi semua teh sehat. Menurut saya yang belum digarap: teh ini soal jeda. Tagline-nya 'Lima Menit yang Kamu Curi untuk Diri Sendiri'. Visualnya orang sibuk—ibu, kurir, mahasiswa—berhenti lima menit, dan dunia di sekelilingnya melambat. Bukan menjual daun. Menjual waktu yang dicuri kembali."
Untuk sesaat, ruangan hening. Mira di pojok menahan senyum. Sketsa Laras menampilkan seorang kurir duduk di trotoar, helm di pangkuan, secangkir teh, lalu lalu lintas di belakangnya buram seperti dalam mimpi.
Arsen memandangi sketsa itu lama. Terlalu lama. Laras mulai berani berharap.
"Tidak," kata Arsen akhirnya. Datar. "Tidak dipakai."
Satu kata itu seperti menarik karpet dari bawah kaki Laras. "Boleh saya tahu kenapa, Pak?"
"Karena kamu jatuh cinta pada kalimatmu sendiri." Arsen menyandarkan punggung. "'Waktu yang dicuri kembali' itu indah, dan itu masalahnya. Iklan yang terlalu indah membuat orang mengagumi iklannya, bukan membeli produknya. Kamu menulis puisi. Klien butuh penjualan." Dia menutup buku catatannya. "Lagi pula, premis 'jeda' itu mengandaikan orang punya waktu lima menit. Target pasar kita justru orang yang merasa tidak punya. Kamu menjual hal yang membuat mereka merasa bersalah."
Laras membuka mulut, tapi tak ada kata yang keluar. Bukan karena Arsen kejam—tapi karena sebagian dari kritiknya benar, dan itu jauh lebih menyakitkan.
"Duduk," kata Arsen, sudah berpindah ke topik lain.
Laras duduk. Pipinya panas. Buku sketsa terasa berat di tangannya. Di seberang meja, Damar tersenyum tipis—senyum yang sulit dibaca, tapi tidak menyenangkan.
Rapat selesai tanpa keputusan. Ide Sari Bumi masih menggantung. Laras keluar ruangan dengan langkah yang dia paksa tegak.
"Jangan diambil hati," kata Mira, menyusulnya ke pantry. "Dia begitu ke semua orang. Kamu malah beruntung—dia kasih alasan. Biasanya cuma 'tidak'."
"Tapi dia benar," gumam Laras, menatap cangkir kosong. "Itu yang bikin kesal."
Mira tertawa kecil. "Nah, itu. Kamu mulai mengerti dia."
Sore itu, Damar mendekati meja Laras lagi, lebih lembut. "Idemu sebenarnya bagus, lho. Cuma kemasannya salah. Mau kubantu poles? Nanti aku yang ajukan, lebih didengar."
Laras menatapnya. Tawaran itu terdengar baik. Terlalu baik. Dia ingat sketsa kurir yang tadi dipuji diam-diam oleh Mira. "Terima kasih, Mas. Tapi aku mau coba perbaiki sendiri dulu."
Damar mengangguk, senyumnya tidak sampai ke mata. "Suka-suka kamu."
Malam itu Laras tidak menyobek sketsanya. Dia menempelnya di dinding kos, tepat di depan tempat tidur. Di bawahnya dia tulis kritik Arsen, kata demi kata, seperti murid mencatat dari papan: Kamu menjual hal yang membuat mereka merasa bersalah.
Dia menatapnya lama. Lalu, alih-alih marah, dia mulai mencoret. Bukan menghapus idenya—mengubahnya. Bagaimana kalau bukan "jeda" tapi "izin"? Bukan teh untuk orang yang punya waktu, tapi teh untuk orang yang merasa tidak berhak istirahat?
Tangannya bergerak sampai larut. Untuk pertama kalinya dia paham: Arsen tidak meruntuhkannya. Arsen sedang mengajarinya, dengan cara paling menyebalkan yang pernah ada.
Dia belum tahu, di lantai dua belas yang gelap, Arsen masih di ruangannya. Menatap satu file yang tak pernah dia tunjukkan ke siapa pun. Dan besok, sebuah telepon dari klien terbesar akan mengubah taruhan untuk mereka semua.