Telepon itu datang pukul sembilan pagi, dan dalam dua menit seluruh lantai dua belas berubah tegang.
"Nayaka Group," bisik Mira pada Laras, matanya melebar. "Mereka mau pitching. Brand baru. Anggaran terbesar tahun ini."
Nayaka—konglomerat yang menyentuh segalanya, dari properti sampai makanan. Kali ini mereka meluncurkan lini kopi siap minum dan mengundang tiga agensi untuk berebut. Yang menang mendapat kontrak setahun penuh. Yang kalah pulang dengan tangan kosong dan nama yang sedikit ternoda.
Arsen mengumpulkan tim di ruang rapat besar. Tidak ada basa-basi. "Kita punya dua belas hari," katanya, menulis angka itu di papan dan melingkarinya. "Tiga agensi diundang. Salah satunya Meridian." Dia berhenti sejenak di nama itu, dan Laras menangkap sesuatu yang berkelebat di wajahnya—bukan takut, tapi lebih dingin dari biasanya. "Mereka besar. Mereka punya dana. Yang tidak mereka punya adalah ide yang berani. Itu satu-satunya celah kita."
Dia membagi tugas. Damar memimpin tim strategi. Mira menangani klien. Dan Laras—Laras menahan napas saat namanya disebut. "Magang ikut riset dan ideasi. Semua orang lempar ide. Hierarki saya tunda sampai pitching. Saya tidak peduli idenya datang dari direktur atau anak magang. Saya peduli idenya benar."
Sesuatu di dada Laras menghangat. Damar, di seberang meja, tidak.
"Arsen," potong Damar, nadanya ringan tapi menusuk, "untuk klien sebesar ini, mungkin lebih aman kalau ideasi inti dipegang yang berpengalaman. Pitching ini bukan tempat belajar."
Arsen menatapnya. "Pitching adalah satu-satunya tempat untuk belajar. Sisanya cuma latihan." Dia menutup spidol. "Dua hari lagi saya mau lihat sepuluh arah besar di papan ini. Sepuluh, dari siapa pun. Mulai sekarang."
Ruangan bubar dalam gelombang energi. Laras kembali ke mejanya dengan tangan dingin dan kepala penuh. Inilah yang dia inginkan: panggung. Tapi panggung sebesar ini juga berarti jatuh yang lebih jauh.
Mira menarik kursi di sampingnya. "Kamu dengar nada Arsen waktu menyebut Meridian?"
"Iya. Kenapa?"
Mira menurunkan suara. "Arsen dulu dari sana. Tiga tahun lalu. Dia pergi setelah sesuatu—nggak ada yang tahu persis. Tapi sejak itu, setiap kali Meridian masuk pitching yang sama, dia jadi... lain. Lebih keras. Lebih perfeksionis sampai gila."
Laras menyimpan informasi itu seperti menyimpan kunci yang belum tahu pintunya. Dia memandang ke ruang kaca, tempat Arsen sudah kembali menatap layar, rahangnya menegang.
Dua hari berikutnya adalah maraton. Laras membaca riset pasar kopi sampai matanya perih. Dia nongkrong di kedai kopi murah, memperhatikan siapa yang membeli kopi botolan—bukan eksekutif, tapi sopir ojek, satpam shift malam, mahasiswa begadang, perawat pulang jaga. Orang-orang yang minum kopi bukan untuk gaya, tapi untuk bertahan.
Dia mulai melihat pola yang tidak ada di laporan riset mana pun.
Saat papan ide dibuka, sepuluh konsep ditempel. Damar menyumbang tiga, semuanya rapi, aman, mengkilap—kopi sebagai kemenangan, kopi sebagai kesuksesan, model tersenyum di kantor mewah. Arsen melihatnya dan tidak berkata apa-apa, yang entah kenapa lebih menakutkan daripada kritik.
Laras menempel satu sticky note kecil di pojok papan, ragu. Tulisannya sederhana: "Kopi untuk yang masih harus terjaga." Tidak ada visual mewah. Hanya satu kalimat.
Arsen melintas, membaca semua konsep, dan berhenti di sticky note Laras. Lama. Damar memperhatikan dari kejauhan, rahangnya mengeras.
"Siapa ini?" tanya Arsen tanpa menoleh.
"Saya, Pak," kata Laras.
Arsen tidak memuji. Tidak juga menolak. Dia hanya melepas sticky note itu, memegangnya, dan berkata, "Kembangkan. Besok pagi. Lima slide. Jangan jatuh cinta pada kalimatnya." Lalu dia berjalan pergi, membawa sticky note itu di tangannya seolah benda kecil yang harus diuji apakah tahan banting.
Laras berdiri membeku. Mira menabrak bahunya pelan, berbisik, "Kamu nggak ngerti ya, itu dari Arsen sama saja dengan tepuk tangan berdiri."
Tapi di seberang ruangan, Damar menatap sticky note di tangan Arsen dengan ekspresi yang membuat Mira diam-diam mencatat: ini akan jadi masalah.
Malam itu Laras pulang dengan beban dan sayap sekaligus. Taruhannya kini jelas: bukan sekadar magang yang ingin diterima, tapi ide yang harus menyelamatkan—atau menenggelamkan—seluruh tim. Dan di antara klien raksasa, mantan perusahaan Arsen, dan rekan yang mulai cemburu, dia tahu jalan ke depan tidak akan bersih.