Laras tidak tidur. Pukul tiga pagi, lantai kosnya penuh kertas. Dia membongkar sticky note-nya menjadi sesuatu yang utuh—dan setiap kali merasa hampir, dia mendengar suara Arsen di kepalanya: jangan jatuh cinta pada kalimatnya.
Maka dia memaksa dirinya tidak indah. Dia mulai dari kebenaran yang dia lihat di kedai kopi: ada jutaan orang yang harus tetap terjaga ketika dunia tidur. Bukan untuk ambisi mengkilap, tapi untuk tanggung jawab. Sopir yang mengantar barang sampai subuh. Perawat. Penjaga warung. Orang tua menunggui anak demam.
Konsepnya lahir pelan: "Buat yang Masih Berjaga." Kopi Nayaka bukan kopi kemenangan—itu kopi pendamping. Visualnya bukan kantor mewah, tapi jalanan pukul tiga pagi, lampu IGD, pos ronda, dapur yang masih menyala. Tagline-nya satu baris yang dia tulis dan hapus dua belas kali sampai tidak lagi terdengar seperti puisi: "Karena ada hal yang tidak boleh tertidur."
Pukul delapan dia sampai kantor dengan mata bengkak dan laptop berisi lima slide. Tangannya gemetar bukan karena ngantuk.
Damar sudah di sana, segar, kemeja licin. "Wah, semangat sekali anak magang. Mau presentasi ke Arsen langsung?" Dia melirik layar Laras. "Hati-hati, ide 'orang susah' itu gampang jadi murahan. Klien sekelas Nayaka mau brand yang aspiratif, bukan iba-ibaan."
Komentar itu menancap. Laras hampir mengubah seluruh dek karenanya. Tapi dia ingat wajah sopir ojek yang dia temui—pria yang menertawakan dirinya sendiri sambil bilang, "Kopi ini bukan buat enak, Mbak. Buat nggak ketiduran di lampu merah." Tidak ada yang murahan dari bertahan hidup.
Dia tidak mengubah apa pun.
Pukul sepuluh, dia masuk ruang kaca Arsen. Berdua. Itu lebih menakutkan daripada ruang rapat penuh. Arsen tidak mempersilakan duduk; dia hanya mengangkat dagu, tanda mulai.
Laras presentasi. Suaranya goyah di slide pertama, lalu menemukan pijakan di slide kedua, dan di slide ketiga—saat dia menunjukkan foto perawat menunggu lift dengan kopi di tangan—dia lupa bahwa dia takut. Dia hanya bicara tentang orang-orang yang dia percayai.
Arsen tidak menyela. Itu rekor.
Setelah slide kelima, hening. Arsen menatap layar, jari mengetuk meja pelan. "Tagline-mu," katanya akhirnya. "'Karena ada hal yang tidak boleh tertidur.' Ulangi."
Laras mengulang.
"Sekali lagi. Pelan."
"Karena ada hal... yang tidak boleh tertidur."
Arsen mengangguk, sangat kecil. "Itu bukan puisi. Itu janji. Bagus." Dia berdiri, mendekat ke layar. Untuk pertama kali, Laras melihatnya tidak menolak—dia mengoreksi. "Tapi slide empat lemah. Kamu jelaskan terlalu banyak. Klien tidak bodoh. Hapus setengahnya. Dan visual jalanan pukul tiga ini—jangan estetik. Kalau terlalu cantik, jadi bohong. Buat kasar. Buat nyata."
Laras mencatat secepat tangannya bisa. Setiap kalimat Arsen adalah pisau, tapi kali ini pisau yang mengupas, bukan menusuk.
"Pak," beraninya tumbuh, "kenapa Bapak tertarik? Dua hari lalu Bapak bilang saya menjual rasa bersalah."
Arsen menatapnya. Sesuatu bergerak di matanya, sesaat, seperti pintu yang nyaris terbuka lalu ditutup. "Karena waktu itu kamu menjual rasa bersalah. Sekarang kamu menjual harga diri. Ada orang yang seumur hidup tidak pernah dianggap, dan kamu menulis iklan yang akhirnya menatap mata mereka. Itu beda." Dia berbalik ke layar, suaranya kembali datar. "Perbaiki. Bawa ke tim besok. Kalau kamu gugup di depan tim, semua ini hancur. Latihan."
Laras keluar ruangan dengan kaki seperti melayang. Mira menangkap ekspresinya. "Dia suka?"
"Dia... mengoreksi," kata Laras, masih takjub. "Bukan menolak."
"Astaga." Mira menutup mulut. "Itu hampir nggak pernah terjadi."
Kebahagiaan itu hanya bertahan satu jam.
Saat makan siang, Damar lewat dan berhenti di meja Laras. Dia melirik layar, lalu tersenyum hangat yang dingin. "Bagus, idemu dipakai Arsen. Untung kemarin kita ngobrol soal arah 'orang berjaga' itu, ya. Senang bisa bantu kasih masukan."
Laras mengernyit. Mereka tidak pernah mengobrol soal itu. Damar bahkan mencibirnya tadi pagi.
Damar berlalu sebelum Laras sempat menjawab, tapi kalimat itu menggantung di udara seperti jejak parfum yang salah. Mira, dari meja sebelah, mengangkat alis dan berbisik, "Kamu dengar itu? Dia sedang menanam benih. Besok dia mau orang ingat 'masukan' itu darinya."
Laras menatap layarnya—idenya, kerja kerasnya, malam tanpa tidurnya. Dan untuk pertama kali sejak masuk Aksara, dia merasa ada tangan lain yang diam-diam mengulurkan diri ke arah miliknya.