Sang Raja hendak makan siang bersama Ratu Hwang in, Ratu Hwang in mempersiapkan makanan untuk Raja santap di meja makanya.
"Pelayan tolong bantu aku menyiapkan makanan," ucap Ratu Hwang in. Pelayan pun menundukkan kepalanya sembari berkata.
"Baik nyonya," ucap pelayan. Ia pun mengikuti Ratu Hwang in menyajikan makanan yang sudah di masak oleh koki kerajaan, makanan kesukaan sang Raja. Raja Suho sangat menyukai olahan makanan Asia.
Mereka pun berjalan menuju ruangan Raja, dan menata makanan untuk dihidangkan kepada Raja.
Pelayan sangat berhati-hati saat menata makanan, Raja tak ingin Pelayan menghidangkan makanan dengan suara, ia sangat senang kalau dihidangkan makanan dengan suara hening.
"Kami persilahkan Baginda untuk menyantap makanan yang sudah saya persiapkan," ucap pelayan sembari menunduk, Baginda Raja pun berjalan menuju meja makan yang sudah disiapkan.
"Aku ambilkan Baginda," ucap Ratu Hwang in. Ratu Hwang in adalah Ratu yang sangat cantik meskipun usianya sudah tak muda lagi.
"Terimakasih Ratu," ucap sang Raja. Raja pun mulai menyantap makanan yang ada di meja makan.
"Ratu, aku sudah persiapkan wanita untuk putra mahkota kita," ucap sang Raja. Ratu pun terkejut mendengar ucapan sang Raja.
"Apa?" Tanya Ratu merasa heran dengan apa yang dikatakan sang Raja.
"Aku tak ingin menikahkan putraku dengan wanita bangsawan," ucap sang Raja. Ratu pun terkejut mendengar ucapan sang Raja.
"Kenapa Raja memilih wanita biasa?" Tanya sang Ratu.
"Aku tak ingin anak kita menikah dengan wanita bangsawan," tegas Raja. Ratu pun mulai tercengang mendengar ucapan sang Raja. Tak biasanya Raja bersikap seperti ini, Ratu tak berani bertanya banyak kepada sang Raja, ia takut membuat Raja kecewa.
Baginda Raja meletakkan mangkuknya, ia mulai selesai menyantap makanan yang ada di meja makan.
"Sudah Raja," tanya Ratu. Melihat Raja sudah meletakkan mangkuknya.
"Sudah, bereskan ini semua," ucap Baginda.
Setelah selesai makan Ratu membereskan makanan yang ada di meja makan. Ia memanggil pelayan yang duduk di luar ruangan.
"Pelayan tolong bereskan sisa makanan yang ada di meja makan," ucap Ratu.
"Baik Ratu," jawab pelayan. Mereka pun masuk dan membereskan makanan yang berada di meja makan.
Setelah selesai makan sang Raja duduk di ruang kerjanya, ia mengecek data-data kerajaan.
Ratu datang untuk menemui Namjoo, Namjoo sedang duduk belajar di kamarnya.
"Namjoo," panggil Ratu. Namjoo keluar dari kamarnya dan menundukkan kepalanya.
"Ada apa Ratu," ucap Namjoo. Namjoo merasa ada sesuatu terdapat pada ibu Ratu.
"Ada hal yang ingin aku katakan," ucap Ratu. Namjoo menundukkan kepalanya sembari menjawab.
"Baik Ratu," Ratu pun berjalan ke ruangan keluarga. Namjoo mengikuti sang Ratu berjalan.
"Ada apa ini," gumam Namjoo. Namjoo tak berani mengatakan keluhannya kepada Ratu ia hanya berjalan mengikuti sang Ratu.
"Masuk!" Ucap ibu Ratu. Ibu Ratu berjalan dengan sangat anggun di hadapan namjoo.
"Baik Ibunda," jawab Namjoo. Namjoo pun berjalan masuk kedalam ruangan ibu Ratu.
"Duduklah!" Perintah ibu Ratu. Namjoo pun duduk, ia tak berani mengawali pembicaraan. Ia menantikan ibu Ratu membuka pembicaraan.
"Namjoo, sebentar lagi kau akan mewarisi kerajaan ini!" Ucap ibu Ratu.
"Baik Ratu," jawab Namjoo. Ia sebenarnya belum siap memimpin kerajaan Sunflowers. Namun ia tak ingin membuat ibunya kecewa, meskipun nyawanya harus ia pertaruhkan.
"Kau harus berlatih pedang dengan giat, dan perkuat otot ototmu," ucap ibu Ratu sembari menatap Namjoo.
"Baik Ibunda," jawab Namjoo dengan tegas. Namjoo mulai memberanikan mentalnya. Ia tak ingin kerajaan Sunflowers dipimpin oleh Raja yang bukan berasal dari kerajaan Sunflowers.
"Namjoo kau sudah memiliki pasangan?" Tanya ibu Ratu untuk memastikan bahwa Namjoo belum memiliki pasangan.
"Belum Ibunda," jawab Namjoo. Namjoo setiap hari disibukkan untuk melatih otot-otot dan kekuatan tubuhnya. Ia juga berlatih pedang.
"Bagus, ayahanda menyiapkan pasangan untukmu," ucap Ibunda Ratu. Namjoo sangat terkejut mendengar ucapan ibu Ratu.
"Apa pasangan ibunda?" Jawab namjoo dengan suara terkejut. Namjoo belum ingin memiliki pasangan, ia masih ingin menikmati masa mudanya, ia takut kalau sudah menikah akan membuat tanggung jawabnya bertambah.
"Iya pasangan hidup, Ayahmu sudah menyiapkan pasangan untukmu, ibunda harap kau tak menolak kemauan ayahanda." Tegas ibu Ratu. Namjoo berusaha untuk menundukkan kepalanya, namun ia merasa sangat terpaksa dengan keputusan Baginda Raja.
"Ibu Ratu biarkan aku memikirkan keputusan ini," ucap Namjoo sangat berat, Namjoo sangat takut membuat ibu Ratu kecewa, ibu Ratu tak ingin melihat Namjoo menjadi anak yang tak penurut.
"Baik, akan ibu berikan kamu waktu untuk berpikir," jawab ibu Ratu. Namjoo pun tersenyum ia sangat bahagia ibu Ratu memberikan kesempatan kepada Namjoo untuk berpikir terlebih dahulu.
"Terimakasih ibunda," ucap Namjoo sembari menundukkan kepalanya, ia sangat senang dengan jawaban ibu Ratu.
"Sudah kembali ke kamarmu," perintah ibu Ratu. Ibu Ratu sudah selesai membicarakan masalahnya kepada Namjoo, Namjoo pun sangat senang ibunya berada di pihaknya.
"Baik ibu Ratu, saya permisi untuk kembali," ucap Namjoo.
Namjoo berjalan menuju ke kamarnya dalam perjalanan menuju kamarnya ia tak sengaja menabrak pelayan kerajaan.
Bruk
Namjoo segera memegang tubuh pelayan itu, pelayan itu segera berdiri mengangkat tubuhnya menjauh dari sang putra mahkota.
"Maaf kan saya tuan," ucap wanita itu memelas. Namjoo sangat terkejut ketika melihat wanita itu, tak biasanya pelayan kerajaan mempekerjakan wanita muda, biasanya kerajaan mengerjakan wanita yang sudah dewasa.
"Kau pelayan baru," tanya Namjoo. Sembari ingin mengetahui lebih lanjut mengenai wanita itu.
"Iya tuan," jawab wanita itu dengan menundukkan kepalanya.
"Oh pantas kau masih baru," jawab Namjoo. Perempuan itu sangat takut Namjoo akan menghukumnya. Ia selalu menundukkan pandangan matanya.
"Iya tuan," jawab Su ah. Pelayan yang sudah lama bekerja di kerajaan memanggil Su ah, Su ah pun mencoba untuk mendatanginya.
"Su ah, Su ah," panggil pelayan yang sudah profesional. Su ah pun menjawab panggilannya.
"Iya nyonya," Su ah pun mencoba untuk pergi.
"Maaf tuan, saya ingin permisi," ucap Su ah dengan nada ringan.
"Pergilah," ucap Namjoo. Namjoo mulai penasaran dengan Su ah.
Su ah adalah gadis yatim piatu yang dipekerjakan di kerajaan, ia sudah tidak memiliki keluarga, hidup sebatang kara dan tak memiliki uang. Su ah terpaksa harus tinggal di kerajaan dan menjadi pelayan kerajaan.
Namjoo mulai penasaran dengan Suah, ia pun berniat untuk mencari tahu tentang Suah, ketika malam hari Namjoo pun berkeliling Istana, ia sangat ingin menemui Suah, ia berharap bisa lebih mengetahui tentang jati diri Suah, rasa penasaran itu tak bisa ia pendam, ia selalu memikirkan wajah Suah yang terngiang di pikirannya.
akankah Namjoo mulai mencintai Suah?