Namjoo pun sangat kesal ketika melihat Jong hyun memarahi Suah, ia tak mengetahui kalau Suah adalah wanita yang Namjoo cari. Ia membawa Suah menuju ruang persidangan pelayan kerajaan gara-gara menemui Namjoo.
''Jong hyun!'' panggil Namjoo dengan wajah sedikit kesal. Namjoo rasanya sangat ingin memarahi Jong hyun karena sudah berani memarahi Suah. Namun ia tak bisa memarahi Jong hyun karena Jong hyun menjalankan perintah kerajaan.
''Ada apa Tuan?'' tanya Jong hyun sembari menundukkan pandangannya. Jong hyun pun harus bersikap hormat kepada Putra Mahkota Kerajaan.
''aku tak mau kamu memarahi Suah!'' ucap Namjoo kepada Jong hyun. Jong hyun pun mulai memahami maksud dan tujuan Namjoo melarangnya untuk memarahi Suah.
''Baik tuan,'' Jawab Jong hyun sembari menundukkan kepalanya. ia tak mau mengulangi kesalahannya dan membuat Namjoo marah pada dirinya. Namjoo tak mau dirinya memarahi Suah pelayan yang baru saja bekerja di kerajaan Sun Flowers.
''kamu tahu Suah tak bersalah, aku yang menemui Suah jika kamu mau menghukum Suah hukumlah aku.'' Jong hyun merasa bersalah sudah membawa Suah masuk kedalam Ruang persidangan dan membuat Namjoo marah.
''Maaf tuan aku tak bermaksud untuk memarahi Suah, aku hanya ingin menerapkan peraturan saja,'' jawab Jong hyun dengan sedikit rasa takut saat harus berdebat dengan Namjoo.
''Aku tak mau dengar kamu memarahi Suah lagi!'' Namjoo pun berjalan pergi meninggalkan Suah di ruangannya. Pelayan kerajaan pun berdiri menyambut Namjoo berjalan pergi meninggalkan Ruang Pelayan beristirahat.
''ada yang bisa saya bantu tuan?'' tanya pengawal Kerajaan. Namjoo pun tak menjawab pertanyaan pengawal Kerajan, ia mengangkat tangannya memberi isyarat bahwa sanya ia tak membutuhkan bantuan dari pengawal Kerajaan. Mereka pun membungkukkan badanya memberi isyarat penghormatannya kepada Putra Mahkota.
Namjoo pun masuk kedalam kamarnya, Namjoo sangat kesal melihat Pelayan dan Pengawal Kerajaan yang tak mau membiarkan ia berjalan sendirian menyusuri sudut Istana.
''Dasar mereka kenapa harus ikut campur urusan ku?'' Namjoo merasa kesal saat mengingat Suah masuk kedalam ruang persidangan. ia begitu sangat kesal ketika melihat Suah harus menerima hukuman dari Jong hyun. andai saja Namjoo tidak segera masuk kedalam ruang persidangan Suah pasti mendapatkan hukuman dari Jong hyun.
''Tuan, Ibu Ratu mencari tuan!'' ucap pengawal kerajaan. Namjoo pun tak ingin menemui bunda Ratu, ia tak mau mendengarkan Ibu Ratu marah dengan perbuatan yang ia lakukan.
"Aku tak mau menemui Bunda Ratu," ucap Namjoo dari dalam bilik kamarnya. Pengawal itu pun bingung mengapa Putra Mahkota kaki ini tak mau menemui Ibu Ratu.
"Ah bicara apa kita kepada Ibu Ratu?" Mereka pun bingung harus menjawab apa kepada ibu Ratu. Mereka tetap berdiri di depan bilik kamar Namjoo berharap Namjoo mau menemui Ibu Ratu.
"Maaf tuan ada hal penting yang ingin Ibu Ratu sampaikan, aku harap tuan mau menemui Ibu Ratu!" Jelas seorang pengawal kerajaan. Namjoo pun tak ingin Ibu Ratu marah kepada dirinya. Ia pun mencoba berdiri dari duduknya menuju ke luar kamarnya. Ia terkejut saat melihat pengawal Kerajaan sudah berdiri rapi di depan pintu kamarnya.
"Ada apa kalian berdiri disini?" Tanya Namjoo sembari menatap wajah pengawal Kerajaan. Mereka mencoba memberikan rasa penghormatan kepada Namjoo.
"Kami datang untuk menemui tuan, Ibu Ratu menanti kedatangan tuan di ruanganya," jelas pengawal Kerajaan. Namjoo pun merasa kesal ketika harus berhadapan dengan ibu Ratu. Ia berharap ibu Ratu tak membahas semua kejadian yang baru saja terjadi.
"Oke aku akan menemuinya!" Namjoo pun berjalan menuju ruangan ibu Ratu di kawal oleh beberapa pengawal kerajaan. Rasanya ia sangat ingin hidup bebas tanpa ada pengawal yang selalu mengikuti dirinya.
"Ibu Ratu," panggil Namjoo saat ia berada di depan pintu. Ia pun menanti Jawaban dari ibu Ratu.
"masuk!" Ibu Ratu memerintahkan Namjoo untuk masuk ke dalam ruangannya. Namjoo pun segera masuk ke dalam ruangan ibu Ratu.
"Namjoo..." Ibu Ratu memanggil Namjoo. Namjoo pun segera menghampiri ibu Ratu sembari memberikan hormat kepada ibu Ratu.
"Saya Ibu Ratu," ucap Namjoo dengan menundukkan kepalanya. Ibu Ratu berjalan menuju ke meja yang berada di tengah ruangan, Namjoo pun berjalan mengikuti Ibu Ratu.
"Namjoo duduklah!" Ibu Ratu meminta Namjoo untuk duduk di depannya. Ibu Ratu menatap Putra Mahkota yang mulai tumbuh besar. Namjoo nampak tampan dan gagah membuat ibu Ratu merasa senang saat melihat putranya tumbuh sangat gagah.
"Baik Ibu Ratu." Namjoo segera duduk di depan ibu Ratu. Ia berharap ibu Ratu tak membahas masalah yang baru saja terjadi.
"Namjoo Ibu melihat kamu mulai tumbuh Dewasa?" Tanya ibu Ratu kepada Namjoo. Namjoo tersenyum saat ibunya bertanya mengenai dirinya.
"Ibu Ratu Namjoo sudah lama tumbuh menjadi Putra Ibu Ratu, jelas sekarang Namjoo sudah mulai tumbuh dewasa!" Ibu Ratu tersenyum mendengar jawaban putra mahkota. Ada sedikit kekhawatiran Ibu Ratu, saat Putranya kelak menjadi Pemimpin kerajaan yang harus melindungi Rakyat.
"Ibu hanya takut jika kamu kelak menggantikan Baginda Raja!" Ibu Ratu menundukkan kepalanya. Tanpa disadari ketegaran ibu Ratu itu pun mulai luluh ketika harus melihat darah dagingnya menjadi pemimpin kerajaan.
"Itu sudah kewajiban ku, aku harus melindungi Rakyat dan berjuang menjaga kerajaan ini!" Namjoo sangat optimis ketika ia harus menjadi pewaris kerajaan. Namun hati seorang ibu mulai tersirat rasa ketakutan kehilangan putranya.
"Ibu takut, Namjoo Putra ibu akan pergi meninggalkan ibu!" Ucap Ibu Ratu. Namun Namjoo tersenyum saat mendengar ucapan ibu Ratu. Ia mencoba untuk memberikan motivasi kepada ibunya.
"Ibu yakinlah, Namjoo akan baik-baik saja!" Jawaban Namjoo membuat ibunya tersenyum. Putra yang dulu ia timang-timang, kini sudah tumbuh Dewasa.
"Ibu tak menyangka secepat ini kamu tumbuh Dewasa Namjoo!" Ibu Ratu bahagia menatap Putranya. Ia melihat jiwa kepemimpinan mulai mendarah daging di jiwa Namjoo.
"Kamu seperti Ayahmu, ia tak pernah pesimis dan selalu percaya diri!" Ucap ibu Namjoo. Namun Namjoo tak menyukai Ayahnya Baginda Raja adalah seorang laki-laki yang senang dengan beberapa wanita simpanannya.
"Aku tak mau seperti Baginda Raja yang senang menyakiti ibu Ratu!" Namjoo sangat mengingat ibu Ratu dulu sering menangis saat melihat Baginda Raja bersenang-senang dengan wanita simpanannya. Namun Apalah daya Mereka tak bisa menghentikan Baginda Raja.
"Namjoo..." Ibu Ratu meneteskan air matanya. Ia mengingat saat-saat Baginda Raja lebih memilih di temani wanita simpanannya dari pada ibu Ratu yang menemani.
"Ibu Ratu!" Namjoo memeluk ibunya. Mengingat saat-saat ibu Ratu harus menerima semua perlakuan Baginda Raja yang begitu menyakitkan hatinya. Namun ibu Ratu harus kuat menjalani semuanya.
"Namjoo ibu bahagia bisa memiliki dirimu!" Kebahagiaan seorang ibu saat melihat putranya menyayangi dirinya. Namun saat mereka sedang berpelukan Baginda Raja masuk ke dalam ruangan ibu Ratu.
"Namjoo!" Panggil Baginda saat melihat Putranya sedang menangis. Baginda tak mengizinkan Namjoo meneteskan air matanya. Dalam keadaan apapun. Ibu Ratu segera membersihkan air mata Namjoo. Karena ia bisa mendapatkan hukuman cambuk jika sampai ia meneteskan air matanya. Pantangan bagi putra mahkota untuk meneteskan air matanya.
"Namjoo, bicara dengan tegas!" Ibu Ratu meminta anaknya untuk berbicara dengan tegas kepada Sang Raja. Ia tak ingin Sang Raja menghukumnya.
"Ada apa Baginda Raja?" Namjoo mendekati Baginda Raja sembari menundukkan kepalanya. Baginda Raja sangat memahami putra mahkota yang baru saja meneteskan air matanya.
"Kamu tahu apa salahmu?" Tanya Baginda Raja. Namjoo pun menyadari satu kesalahan yang ia buat. Ia tak mau membuat Sang Raja marah kepadanya. Ia pun berkata jujur.
"Saya tahu Baginda!" Namjoo menjawab pertanyaan Baginda Raja sembari menundukkan kepalanya. Mengingat akan ada hukuman yang akan di berikan oleh Baginda Raja padanya.
"Kamu tahu apa yang akan kamu terima setalah kamu melanggar peraturan?" Baginda Raja tak menginginkan Namjoo bersikap lemah. Ia selalu menghukum putra mahkota jika ia sampai meneteskan air matanya.
"Tahu Baginda," Namjoo mengerti dirinya akan mendapatkan hukuman sang Raja. Ibu Ratu sangat ingin memeluk Putra Mahkota ketika melihat Putra Mahkota akan mendapatkan hukuman.
"Baginda..." Ibu Ratu memanggil Baginda Raja. Berharap Namjoo tak mendapatkan hukuman. Namun Baginda Raja tak menghiraukan panggilan Ibu Ratu.
Ibu Ratu pun mengikuti langkah kaki Baginda Raja membawa putra mahkotanya, ia sangat takut jika ia akan memberikan hukuman kepada putra mahkota.
"Baginda Raja!" Ibu Ratu sangat takut jika akan ada hukuman kepada putra mahkota. Ia tak ingin anaknya terluka. Baginda Raja pun menatap sinis ke arah Ibu Ratu. Ibu Ratu tak ingin melihat Namjoo di hukum.
"Namjoo..." Panggil Baginda Raja dengan nada sangat tegas menggelegar membuat ibu Ratu semakin tak tega melihat Putra Mahkotanya.
"Sudah Raja!" Ibu Ratu mencoba untuk menghentikan Baginda Raja. Namun Baginda Raja tak mau mendengarkan Ibu Ratu.
"Namjoo lepas bajumu!" Baginda Raja memerintahkan Namjoo untuk melepaskan bajunya. Namjoo pun melepaskan bajunya, ia tak ingin di anggap pecundang oleh Raja Suho.
"Baik Baginda!" Namjoo membuka bajunya. Baginda Raja meminta pengawalnya untuk mengambilkan cambuk. Namjoo pun di beri cambuk karena sudah meneteskan air matanya.
"Aku tak mau melihatmu menangis, aku hanya ingin melihat mu tumbuh tegar!" Baginda sangat membenci Namjoo jika ia harus hidup dengan air mata yang membasahi pipinya. Karena Baginda Raja adalah tipe orang yang keras.
"Kamu tahu Seorang Raja tidak boleh bersikap lemah!" Namjoo pun mengingat setiap perkataan yang Baginda ucapkan. Ia tak ingin dirinya melihat Putra Mahkota tumbuh menjadi Putra yang lemah.
"Aku nggak bisa melihat Namjoo di hukum." Ibu Ratu mulai meneteskan air matanya. Ia segera kembali ke kamarnya. Ia tak ingin melihat putra Tercintanya mendapatkan hukuman dari sang Raja.
"Bagaimana aku bisa melihat anakku di hukum seperti itu." Ibu Ratu merasa bersalah sudah membuat Namjoo meneteskan air matanya. Namun ia tak bisa menolong Namjoo. Karena Baginda tak ingin ada yang menghentikan semua titahnya.
"Kamu tahu Namjoo jika seorang Raja meneteskan air matanya, ia akan menjadi lemah!" Tegas Baginda Raja. Namjoo hanya bisa mendengar ucapan sang Raja. Ia sangat tahu dirinya tak boleh melanggar peraturan yang sudah di buat.
Setelah 15 menit tubuh Namjoo di penuhi dengan cambukan, setelah di cambuk Namjoo di bawa ke salah satu ruangan tabib istana untuk di obati. Raja Suho sangat puas bisa menghukum putra mahkota agar tak menjadi Putra yang lemah dan mudah rapuh.
"Rasanya sangat sakit sekali, saat tabib memberikan obat, namun jika aku mengeluh Baginda Raja akan menambahkan hukuman ku!" Namjoo tak berani mengeluhkan Semua yang terjadi.