Afif menarik selembar kertas baru dan menuliskan tiga kategori: yang dilihat ayah sendiri, yang didengar dari keluarga, dan yang belum diketahui. Ryan menyuruhnya menambahkan satu lagi: keterangan yang bersumber dari dokumen. Mereka tidak ingin ingatan, rumor keluarga, dan tulisan lama bercampur.
Ayah membaca daftar itu dari atas. Ia mengoreksi satu kalimat: ia melihat adiknya di rumah beberapa hari sebelum kejadian, bukan tepat sebelum ia pergi ke kebun. Ia tidak tahu apakah jaraknya dua hari atau lebih. Ryan meminta Afif mengganti kata 'beberapa' menjadi 'waktu tidak pasti'.
'Aku tidak mau ingatanku terdengar lebih tepat daripada kenyataannya,' kata ayah.
Mereka kembali memeriksa foto keluarga. Afif membandingkan posisi orang-orang dengan tangga dalam foto potret lain. Bentuk pegangan tangga serupa, tetapi sudut gambar berbeda. Tidak ada tanggal di belakang foto, hanya tulisan samar yang mungkin berupa inisial. Ayah mengenali inisial itu sebagai sesuatu yang sering digunakan ibunya, tetapi ia tidak bisa menyatakan bahwa ibunya menulisnya.
Ryan menampilkan potret gadis dan memperbesar bros. Ayah meminta melihat foto keluarga asli di bawah cahaya, bukan hanya layar. Mereka memindahkan ponsel ke sisi meja agar layar tidak memantulkan cahaya pada foto. Bros dalam dua gambar memiliki bentuk bulat dan ukiran menyerupai bunga, tetapi detailnya kabur.
'Bisa jadi benda yang sama,' kata ayah, 'tapi bisa juga model yang mirip.'
Ryan mengangguk. Ia teringat kotak di bawah rak, tetapi tidak berniat membukanya hanya untuk membuktikan kecocokan. Mereka belum tahu apakah isi kotak harus tetap berada di dalam atau apakah benda di dalamnya mudah rusak. Ayah juga tidak mengenali ukiran pada tutup kotak dengan pasti.
Afif membaca ulang surat yang menyebut ruang dekat dapur dan barang milik anak perempuan. Ia bertanya apakah kata 'anak perempuan' mungkin merujuk pada adik ayah. Ayah menjawab itu masuk akal karena keluarga memiliki seorang anak perempuan, tetapi kalimatnya tidak mencantumkan nama. Ia tidak akan menganggapnya pasti.
Ryan meminta ayah mencari amplop atau foto lain yang mungkin berisi nama lengkap adiknya. Ayah membuka bagian bawah map, lalu mengeluarkan satu salinan kecil yang sebelumnya terselip. Kertas itu memuat tulisan tangan dan tanggal yang sebagian terlihat. Ia tidak ingat pernah membaca halaman tersebut.
Mereka menaruhnya di samping foto, bukan di atasnya. Catatan itu tampak seperti daftar barang yang dipindahkan dari satu ruangan ke ruangan lain. Ada satu kata yang mungkin nama panggilan adik ayah, tetapi tulisannya bisa dibaca dengan dua cara. Ayah mengenali salah satu kemungkinan, lalu ragu.
'Aku pernah memanggilnya begitu,' katanya. 'Tapi aku tidak tahu apakah tulisan ini menyebut dia.'
Afif menuliskan dua pembacaan dan menandai keduanya belum pasti. Ryan meminta ayah tidak memilih salah satu hanya karena sesuai dengan ingatannya. Mereka perlu menemukan tulisan pembanding atau bertanya kepada orang lain yang mengenal tulisan tersebut.
Ayah berkata ibunya mungkin pernah menyimpan catatan keluarga lain, tetapi rumah lamanya sudah lama berubah. Ia tidak tahu siapa yang kini memegang barang-barang itu. Ryan bertanya apakah ia bersedia menghubungi kerabat yang masih ada. Ayah menyanggupi, dengan syarat mereka tidak langsung menuduh atau menyebarkan dugaan.
'Kita hanya bertanya apa yang mereka ingat,' kata Ryan. 'Kalau mereka tidak mau bicara, kita tidak memaksa.'
Afif menambahkan bahwa tiap orang sebaiknya diwawancarai terpisah, agar ingatan mereka tidak saling memengaruhi. Ayah setuju. Ia akan mencoba menghubungi satu kerabat melalui nomor lama yang masih disimpannya, tetapi tidak akan menelepon malam itu. Ryan meminta ia memberi tahu sebelum melakukan panggilan supaya mereka bisa menyusun pertanyaan bersama.
Mereka membandingkan tanggal pada tiga dokumen. Satu surat mungkin berasal dari bulan sebelum foto, satu catatan tidak memiliki tahun lengkap, dan foto tanpa tanggal. Tidak ada susunan yang dapat membuktikan kapan adik ayah pergi ke kebun. Urutan map juga tidak membantu karena ayah mengaku baru mengumpulkan semuanya bertahun-tahun kemudian.
Afif meminta ayah menulis contoh tanda tangannya pada kertas terpisah, bukan pada dokumen lama. Ayah melakukannya dengan tanggal hari itu. Ryan menaruh contoh tersebut agak jauh dari surat, lalu mengambil foto keduanya secara terpisah. Mereka tidak ahli memeriksa tulisan tangan, sehingga perbandingan itu hanya dapat membantu ayah mengenali bentuk huruf yang biasa ia lihat.
Ayah memperhatikan salah satu kata dalam catatan lama. Ia berkata huruf awalnya mirip dengan cara ibunya menulis, tetapi bentuk akhirnya berbeda. Ia tidak tahu apakah perbedaan itu karena ditulis tergesa-gesa atau karena orang lain yang menulis. Afif tidak mengubah dugaan tersebut menjadi kesimpulan. Ia menandai bahwa tulisan belum diidentifikasi.
Ryan bertanya apakah ada catatan keluarga yang menyebut hari pemakaman atau tanggal kejadian. Ayah tidak ingat pernah melihatnya. Ia akan mencari di antara barang yang tersimpan, tetapi tidak berjanji akan menemukan apa pun. Ryan memintanya tidak mengambil atau membuang dokumen tanpa mengabari mereka. Ayah menyetujui dan mencatat permintaan itu di ponselnya.
Ryan menuliskan kesimpulan sementara: adik ayah terlihat dalam foto keluarga; ada catatan mengenai barang anak perempuan dan larangan pergi sendirian ke kebun; ayah mengingat ia meninggal setelah pergi ke kebun, tetapi tanggal serta penyebab tidak terverifikasi. Ia membacakan kalimat itu dan meminta ayah mengoreksi.
Ayah berkata itu adil. Ia tidak meminta mereka mempercayainya begitu saja. Untuk pertama kalinya, Ryan merasa ayah tidak sedang menyiapkan satu versi cerita untuk menggantikan versi lain. Ia sedang menerima bahwa sebagian sejarah mereka mungkin tidak dapat dipastikan seluruhnya.
Namun, Ryan tetap bertanya mengapa gadis itu muncul di rumah sekarang dan mengapa sosok berkumis menghalangi kotak. Ayah tidak punya jawaban. Ia berjanji tidak akan mengarang penjelasan gaib dari ingatan keluarga. Mereka harus mencari petunjuk berikutnya dengan hati-hati.
Afif mengusulkan agar malam ini mereka tidak membuka kotak atau mendekati kebun. Ryan mengangguk, lalu memeriksa kakinya. Bengkak belum hilang dan nyeri bertambah jika ia terlalu lama duduk. Ia perlu istirahat, bukan memaksakan diri mengejar jawaban.
Ayah merapikan map. Ryan memintanya meninggalkan salinan foto dokumen pada mereka dan membawa kembali surat asli dengan urutan yang sama. Ayah mencatat halaman yang belum terbaca. Mereka sepakat melanjutkan pembicaraan setelah makan dan beristirahat, tanpa menganggap jeda sebagai akhir dari penjelasan.