Ayah mengumpulkan foto keluarga, lalu menaruhnya berdampingan dengan gambar potret laki-laki berkumis. Ia menyebut sosok di foto keluarga itu sebagai ayahnya sendiri. Ryan menatap foto tersebut, mencari ciri yang sama dengan potret yang mereka temukan di kamar lantai bawah. Kumis, garis rahang, dan cara pria itu berdiri tampak serupa.
'Jadi dia kakekku,' kata Ryan.
'Ya. Pria dalam kedua foto itu ayahku. Tapi aku tidak bisa memastikan sosok yang kalian lihat di rumah adalah dirinya.'
Afif mencatat pengakuan keluarga dan batasnya. Ayah mengenali laki-laki di foto sebagai ayahnya; pengalaman gaib Ryan dan Afif tetap belum dijelaskan. Ryan bertanya apakah kakeknya masih hidup ketika ayah meninggalkan rumah. Ayah mengangguk. Ia tidak ingat kapan kakeknya meninggal atau di mana, tetapi tahu ia sudah tiada sebelum Ryan cukup besar untuk mengingat rumah itu.
'Dia mengatur banyak hal,' lanjut ayah. 'Siapa boleh masuk, siapa boleh bicara, bahkan kapan kami boleh pergi ke kebun. Tapi aku tidak tahu apakah semua keputusan datang darinya.'
Ryan bertanya apakah kakek pernah melarang adiknya ke kebun. Ayah menjawab ia tidak ingat larangan langsung. Surat yang mereka baca hanya meminta seseorang tidak pergi sendiri. Ia mungkin ditulis oleh orang lain. Ryan menegaskan bahwa sifat keras kakek tidak membuktikan ia mengancam atau mencelakai siapa pun.
Ayah menerima itu. Ia mengatakan dulu ia sering menyalahkan kakeknya atas semua hal buruk di rumah, karena lebih mudah daripada mengakui bahwa ia sendiri pergi tanpa mencari jawaban. Kini ia tidak tahu apakah kakek menyembunyikan sesuatu atau hanya berusaha mengendalikan keluarga.
Afif meminta ayah menceritakan keretakan hubungannya dengan ibunya sendiri, nenek Ryan. Ayah mengatakan setelah pergi dari rumah, ia dan ibunya tetap berhubungan sesekali. Namun setiap kali percakapan menyentuh adiknya atau rumah No. 13, ibunya mengakhiri pembicaraan. Ketika Ryan lahir, ayah ingin membangun hidup yang tidak terus dikuasai masa lalu. Ia mengira dengan tidak bercerita, ia melindungi Ryan dari beban keluarga.
'Tapi Ayah tetap menghubungiku waktu surat datang,' kata Ryan. 'Ayah memilih ikut campur tanpa memberitahuku alasannya.'
'Aku tahu. Aku mengulangi kesalahan yang sama dengan cara berbeda.'
Ryan tidak menjawab bahwa mereka sudah berdamai. Ia mengatakan pengakuan ini baru langkah pertama. Jika ayah ingin membantu, ia harus bersedia mencari tahu tanpa mengarahkan hasilnya. Ayah setuju menghubungi kerabat yang mungkin memiliki catatan, dan bersedia berbicara dengan Malik setelah mereka menyiapkan pertanyaan.
Mereka kembali memeriksa daftar barang. Nama panggilan yang mungkin merujuk pada adik ayah belum dapat dibaca dengan pasti. Ayah meminta izin membawa salinan untuk dibandingkan dengan tulisan lain yang mungkin ada di rumahnya, tetapi Ryan tidak menyerahkan dokumen asli. Mereka sepakat ayah hanya membawa foto digital dan tidak mengirimkannya kepada orang lain sebelum membicarakannya bersama.
Afif bertanya apakah ayah mengingat barang khusus milik adiknya. Ayah berkata ia pernah memakai bros berbentuk bunga pada beberapa acara keluarga. Ia tidak tahu apakah bros dalam potret adalah benda yang sama dengan yang mungkin berada di kotak. Ryan menjelaskan ukiran pada tutup kotak, tetapi ayah hanya berkata pola bunga memang umum. Kecocokan itu tetap petunjuk, bukan pembuktian.
'Kalau kotak itu dibuka nanti, kita lakukan siang hari dan bertiga,' kata Ryan. 'Bukan karena Ayah akan mengambil alih, tapi karena kita semua harus tahu apa yang ada di dalamnya.'
Ayah menyetujui. Ia tidak menyuruh Ryan segera membukanya, dan Ryan tidak menganggap persetujuan itu berarti mereka harus melakukannya malam ini. Kakinya masih sakit; rencana apa pun harus mempertimbangkan kondisinya.
Afif menambahkan rencana untuk esok: hubungi kerabat yang mungkin menyimpan catatan, minta izin berbicara kepada Malik tanpa perantara, dan periksa dokumen yang bisa dibaca. Mereka tidak akan pergi ke kebun sampai Ryan mampu berjalan dengan aman dan mereka memiliki alasan jelas untuk melakukannya. Ayah mengatakan ia bisa membantu mengatur transportasi bila dibutuhkan.
Ryan bertanya apakah ayah akan mencabut perintah kepada Malik sekarang juga. Ayah mengeluarkan ponselnya dan, di hadapan Ryan serta Afif, mengirim pesan singkat bahwa ia tidak lagi meminta Malik mengawasi atau mengusir mereka. Ia meminta Malik tidak mendatangi rumah tanpa pemberitahuan. Ayah menunjukkan pesan itu sebelum mengirim, lalu memperlihatkan tanda terkirim.
Ryan masih tidak tahu apakah Malik akan mematuhinya atau apakah ada orang lain yang mengawasi rumah. Namun untuk pertama kalinya, ayah mengambil tanggung jawab secara terbuka, bukan lewat telepon rahasia. Afif mencatat waktu pesan dan isi ringkasnya.
Ryan meminta ayah tidak menghapus pesan itu dari ponselnya. Ayah menunjukkan percakapan tersebut dan membiarkan Ryan mengambil tangkapan layar untuk catatan mereka. Ia tidak mengirim pesan tambahan yang mengancam atau mendesak Malik menjawab malam itu. Mereka belum tahu apakah Malik membaca pesannya, dan tanda terkirim hanya menunjukkan pesan keluar dari ponsel ayah.
'Besok kalau kita bicara dengannya, kita tanyakan dulu apa yang ia lakukan setelah menerima perintah,' kata Afif.
Ayah setuju, tetapi Ryan menambahkan bahwa mereka tidak akan mengadakan pertemuan mendadak di kebun. Jika Malik bersedia bicara, mereka memilih tempat yang terang dan tetap bersama. Ayah mengangguk. Ia tidak lagi menyuruh mereka menunggu sendirian atau mempercayai kabar yang tidak bisa diperiksa.
Ketika malam semakin larut, ayah mengusulkan pulang ke penginapannya. Ryan bertanya apakah ia akan kembali besok. Ayah menjawab ia akan datang setelah menghubungi kerabat, jika Ryan mengizinkan. Ryan berkata ia boleh datang, tetapi tidak boleh membawa jawaban yang sudah dipaksakan. Mereka perlu mendengar cerita orang lain secara terpisah.
Ayah mengangguk dan menyimpan map dengan hati-hati. Ia berdiri, lalu menunggu Ryan bangkit tanpa menawarkan mengangkatnya. Afif membantu Ryan berdiri dan memastikan tongkat berada di sisi yang tepat. Mereka mengantar ayah sampai pintu.
Sebelum pergi, ayah memandang ke arah lorong dekat dapur. Ia tidak mengatakan apa yang dilihatnya. Ryan juga tidak bertanya. Kotak kecil tetap berada di bawah rak, tertutup. Di tangga, potret-potret keluarga diam dalam gelap.
'Besok kita lanjutkan dengan orang yang masih bisa ditanya,' kata Ryan.
'Besok,' jawab ayah. Kali ini ia tidak meminta Ryan berhenti mencari tahu.
Pintu tertutup. Ryan mengunci kembali dan bersandar sebentar, menahan nyeri pada kakinya. Afif berdiri di sisinya, tidak mendesak pertanyaan. Mereka belum tahu siapa yang mengirim pesan anonim, mengapa sosok peniru muncul, atau apa yang menunggu di dalam kotak. Namun mereka sudah memiliki garis keluarga yang lebih jelas: gadis pada foto adalah adik ayah, dan laki-laki berkumis di potret adalah kakek Ryan. Misteri rumah belum selesai, tetapi kini mereka bisa melanjutkan pencarian tanpa menyamakan ingatan dengan bukti.