Pagi berikutnya, Ryan terbangun ketika Afif menyebut namanya dari ruang tengah. Kaki kanannya masih bengkak dan terasa kaku setelah malam panjang. Ia meraih tongkat yang disandarkan dekat tempat tidur, duduk dulu sebelum berdiri, lalu bergerak perlahan ke ruang tengah. Ayahnya sudah tiba dan duduk di kursi yang sama, tetapi map keluarga tidak lagi terbuka di meja.
'Ayah sudah menghubungi kerabat itu?' tanya Ryan.
'Aku mengirim pesan. Belum ada balasan. Aku tidak akan menelepon berkali-kali.'
Afif meletakkan sarapan sederhana di meja. Ia meminta Ryan makan sebelum mereka memutuskan apa pun tentang kebun. Ayah setuju bahwa perjalanan hanya dilakukan jika kaki Ryan cukup kuat dan jalurnya tidak mengharuskan mereka berjalan jauh. Ryan menguji pijakan dari kursi ke meja. Nyeri masih ada, tetapi ia bisa menumpu sebentar dengan tongkat.
'Aku bisa ikut sampai batas yang aman,' katanya. 'Kalau sakit bertambah, kita berhenti.'
Afif mengingatkan bahwa mereka tidak perlu membuktikan keberanian. Tujuan mereka hanya memeriksa area sekitar kolam dan pohon gandaria yang disebut dalam cerita lama. Mereka akan membawa air, ponsel, buku catatan, dan peta. Tidak seorang pun berjalan sendiri atau mendekati tanah yang terlihat labil.
Sebelum mereka selesai menyiapkan barang, terdengar ketukan di pintu depan. Ryan dan Afif saling pandang. Ayah berdiri, tetapi Ryan meminta ia tidak langsung membuka. Afif melihat lewat celah jendela. Pak Malik berdiri di beranda tanpa membawa alat kebun. Tangannya kosong dan ia tidak mencoba memutar gagang.
Ryan membuka pintu sedikit, tetap berdiri di baliknya. 'Ada perlu apa, Pak?'
Malik melihat ayah Ryan, lalu kembali memandang Ryan. 'Aku menerima pesan bahwa perintah lama sudah dicabut.'
Ayah menjawab, 'Benar. Aku tidak meminta Bapak mengawasi atau mengusir mereka lagi.'
Malik mengangguk. Ia berkata pesan itu sudah dibaca, tetapi ia tetap datang karena melihat mereka bersiap menuju kebun. Ryan bertanya dari mana Malik tahu. Malik menjawab ia berada di jalan saat mereka mengeluarkan tas. Ia tidak menjelaskan sejak kapan berada di sana.
'Kalau begitu, kami ingin bertanya soal jalur di sekitar kolam,' kata Afif. 'Kami tidak akan mengikuti siapa pun ke tempat berbahaya.'
Malik memandang tongkat Ryan. Ia menyarankan agar mereka tidak mengambil jalur yang biasa dipakai penduduk ke kebun. Menurutnya, jalur itu licin setelah hujan dan ada bagian tanah yang turun. Ia menawarkan menunjukkan jalan lain dari sisi yang lebih tinggi.
Ryan bertanya mengapa Malik baru menyebut jalur itu sekarang. Malik menjawab mereka sebelumnya tidak meminta, lalu menambahkan bahwa ia tidak ingin mereka masuk lewat jalan yang salah. Jawaban itu belum menerangkan mengapa ia menyembunyikan banyak hal, tetapi hari itu mereka tidak sedang menyelesaikan semuanya.
Ayah mengingatkan Malik bahwa ia tidak boleh memberi instruksi yang membuat mereka berpisah. Malik menjawab ia mengerti. Ryan menyepakati aturan: Malik berjalan di depan hanya sampai percabangan pertama, lalu mereka berhenti dan memeriksa peta. Jika Ryan merasa sakit atau jalurnya berubah menjadi tanah lunak, mereka kembali.
Afif mencatat bahwa Malik mengaku telah membaca pesan ayah dan menawarkan jalur alternatif. Ia menulis ini sebagai ucapan Malik, bukan jaminan bahwa jalurnya aman. Mereka tetap membawa peta sendiri dan tidak menyerahkan ponsel atau catatan kepada Malik.
Sebelum berangkat, Ryan duduk lagi untuk mengikat sepatu dengan lebih longgar pada kaki yang bengkak. Ayah bertanya apakah ia ingin tinggal di rumah. Ryan menjawab ia tidak akan berjalan jauh, tetapi ingin melihat lokasi dari batas yang bisa dicapai. Ayah tidak memaksanya. Ia hanya menawarkan berjalan di sisi yang lebih rata.
Mereka meninggalkan rumah bersama-sama pada pagi yang cerah. Malik berjalan beberapa langkah di depan, Afif di sisi Ryan, dan ayah di belakang mereka. Tak seorang pun membawa senjata atau alat untuk menggali. Mereka hanya ingin mengetahui apakah jalur yang pernah membuat mereka berputar pada malam hari memang memiliki cabang yang sulit dibedakan.
Jalan menuju kebun masih basah. Pada percabangan pertama, Malik menunjuk jalur ke kiri yang sedikit menanjak. Jalur lain turun ke arah suara air. Ryan tidak langsung memilih. Ia membuka peta dan membandingkan arah dengan posisi rumah. Jalur yang ditunjuk Malik tampak berbeda dari arah yang pernah ditunjuk gadis di dekat potret, tetapi belum tentu bertentangan. Mereka akan memeriksa bagian awal saja.
Afif meniup siulan pendek. Ryan menjawab dari sisinya. Mereka memastikan kode itu berfungsi seperti biasa dan tidak menggunakannya untuk memanggil Malik. Lalu mereka berjalan menyusuri jalur yang lebih tinggi, berhenti setiap kali tanah berubah atau Ryan perlu beristirahat.
Dari sela pepohonan, Ryan melihat permukaan air yang tenang. Kolam itu lebih dekat daripada yang ia bayangkan. Malik berhenti dan berkata mereka sudah sampai di tempat pertama. Namun Ryan mengamati jalur lain di seberang kolam, yang mengarah ke pohon besar dengan dahan rendah. Ia mengenali bentuk daun dari catatan Afif.
Ryan meminta mereka berhenti beberapa langkah sebelum tepi. Ia tidak ingin rasa ingin tahu membuat mereka mengabaikan batas yang baru disepakati. Afif mengambil arah matahari sebagai penanda umum dan menggambar garis dari posisi mereka ke rumah. Ayah menyebut ada jalan memutar yang dulu biasa dilewati orang untuk menghindari tanah becek, tetapi ia tidak tahu apakah jalur itu masih dapat dilalui.
Malik menunjuk bagian yang tampak paling rata. 'Dari sini kalian bisa melihat pohonnya. Kalau turun, tanahnya lebih lembut.'
Ryan bertanya apakah jalur rata itu benar-benar jalur umum atau hanya bekas aliran air. Malik mengakui ia tidak yakin. Afif menandainya sebagai kemungkinan, bukan rute. Mereka tidak akan mengambilnya hanya berdasarkan satu tunjuk jari.
Ayah menatap Ryan. 'Kita bisa berhenti di sini.'
Ryan mengangguk. Ia tidak merasa gagal karena belum sampai ke pohon. Peta, arah, dan kondisi tanah sudah memberi mereka informasi yang cukup untuk menentukan apakah perjalanan layak diteruskan. Kaki Ryan juga mulai menegang setelah berjalan dari rumah. Ia memindahkan berat badan ke tongkat dan memastikan nyeri belum bertambah tajam.
Afif bertanya apakah ia ingin duduk sebentar. Ryan menjawab ia ingin bertahan beberapa menit sambil mencatat posisi kolam, lalu menilai apakah masih sanggup melihat titik sambung jalur dari sisi atas yang padat. Mereka tidak akan turun ke sisi kolam yang rapuh.
Pohon gandaria itu berada di sana, tetapi mereka belum mendekat. Ryan meminta semua orang tetap di jalur padat dan menunggu sampai ia memeriksa peta. Pagi itu mereka baru memastikan satu hal: jalan menuju kolam memiliki lebih dari satu cabang. Penjelasan tentang malam yang membuat mereka berputar masih harus dicari.