Di tepi jalur, Ryan membuka peta di atas buku catatan agar kertasnya tidak tertiup angin. Malik menunjuk arah kolam, tetapi Ryan meminta ia menyebutkan tanda yang bisa mereka lihat dari tempat berdiri. Malik menyebut pohon berbatang dua dan batu besar di dekat tikungan. Afif mencatat ciri itu sebelum mereka melanjutkan.
'Jalur ini yang biasa dipakai ke kebun?' tanya Ryan.
'Sebagian orang lewat sini. Ada juga yang memakai jalan bawah.'
'Kenapa Bapak menyuruh kami mengambil jalan bawah sebelumnya?'
Malik tidak langsung menjawab. Ia berkata dulu ia memberi petunjuk berdasarkan arah rumah Pak Erte, bukan jalur ke kolam. Ryan menatapnya, menunggu penjelasan tambahan. Malik hanya mengulang bahwa jalur bawah lebih mudah dikenali oleh orang yang sudah lama tinggal di desa.
Afif mengingatkan bahwa dua arah berbeda bisa sama-sama benar, tetapi petunjuk tanpa tanda yang jelas membuat pendatang mudah keliru. Malik mengangguk. Ia menyebut ada jalan yang mengitari kolam lalu kembali menyambung ke jalur utama. Pada malam hari, orang yang tidak mengetahui sambungan itu dapat merasa telah kembali ke tempat yang sama.
Ryan meminta Malik menggambarkan putaran itu tanpa berjalan jauh. Malik menunjukkan dengan gerakan tangan: jalur bawah turun ke air, membelok di balik semak, lalu naik lagi dekat batu besar. Dari arah masuk, batu itu tampak seperti penanda awal. Dari arah keluar, bentuknya hampir sama dengan batu lain di dekat tikungan. Ryan menambahkan dua titik itu pada sketsa dengan tanda tanya.
'Kalau orang berjalan saat terang, apakah tetap mudah keliru?' tanya Afif.
'Tidak semudah malam,' jawab Malik. 'Tapi setelah hujan, aliran kecil menghapus bekas kaki. Kabut juga sering turun.'
Ayah meminta Malik menjelaskan apakah kabut berasal dari kolam. Malik berkata ia hanya melihat kabut berkumpul di area rendah. Ia tidak tahu penyebab pastinya. Ryan menyebut mungkin udara lebih dingin di dekat air, tetapi ia tidak mengklaim sebagai ahli cuaca. Mereka mencatat pengamatan, bukan teori.
Afif kemudian meminta Malik menunjuk jalur pulang yang mereka ambil pada hari mereka tersesat. Malik tidak tahu rute mereka malam itu. Ryan menunjukkan sketsa lama, tetapi Malik berkata beberapa belokan mungkin terbalik karena mereka menggambarnya setelah berjalan. Mereka tidak memaksanya mengesahkan sketsa yang belum pasti.
'Berarti kita cocokkan dengan peta dan tanda yang kita lihat sendiri,' kata Ryan.
Malik menyetujui. Ia berjalan mundur beberapa langkah untuk menunjukkan dari mana jalur melingkar berawal, lalu berhenti ketika Ryan memberi tanda agar ia tidak menjauh. Afif memastikan semua masih saling melihat. Ini bukan perjalanan untuk mengikuti Malik; mereka menguji penjelasannya dari tempat aman.
'Apa Bapak pernah melihat kami berputar?' tanya Ryan.
Malik menjawab tidak. Ia mendengar cerita bahwa beberapa orang salah mengambil cabang, tetapi tidak melihat Ryan dan Afif malam itu. Mereka mencatat keterangannya tanpa menghubungkannya dengan pengalaman sendiri.
Ayah berdiri di sisi luar jalur dan memperhatikan peta. Ia berkata ia pernah melewati daerah itu saat muda, tetapi tidak ingat cabang mana yang menuju kolam. Ia meminta Malik tidak berjalan terlalu jauh di depan. Malik menerima dan tetap dalam jarak pandang.
Ryan mulai berjalan. Tongkatnya menekan tanah di depan setiap kali permukaan tampak lunak. Afif membantunya melewati akar yang melintang, tetapi tidak menarik tubuhnya. Mereka bergerak perlahan. Dua kali Ryan berhenti karena nyeri di pergelangan bertambah. Setiap jeda, Afif memeriksa apakah bengkak tampak memburuk.
Di tikungan pertama, batu besar yang disebut Malik terlihat di sisi kiri. Permukaannya ditumbuhi lumut dan bentuknya menyerupai batu lain yang pernah mereka lihat dekat sungai. Ryan menandai posisinya pada peta dengan simbol kecil. Ia tidak menempelkan apa pun pada batu atau pohon.
Malik menunjuk jalur rendah ke kanan. 'Kalau lewat sana, kalian akan sampai di seberang kolam. Tapi setelah hujan, jangan turun terlalu dekat.'
Ryan bertanya bagian mana yang tidak aman. Malik menunjuk tanah berwarna lebih gelap di bawah semak, tetapi dari tempat mereka berdiri belum terlihat apakah permukaan itu ambles. Ia mengatakan ada bagian yang pernah longsor kecil. Afif meminta mereka tidak menguji tanah itu dengan kaki.
Mereka mengambil cabang yang tetap padat dan mengarah ke sisi atas kolam. Dari sana, permukaan air tampak memantulkan pepohonan. Ryan melihat pohon gandaria di seberang, mudah dikenali dari batang bercabang rendah yang disebut dalam cerita lama. Ia mengingat bahwa gadis pada potret pernah mengarahkan perhatian mereka ke ruang dekat dapur, bukan ke kebun. Kini mereka menelusuri lokasi karena ayah akhirnya menceritakan adiknya pernah pergi ke sana.
'Ayah yakin dia biasa datang ke tempat ini?' tanya Afif.
Ayah menjawab ia hanya ingat adiknya menyukai kebun secara umum. Ia tidak tahu apakah kolam ini tempat yang sering ia datangi. Mereka tidak boleh menganggap lokasi itu sebagai tempat terakhir hanya karena surat menyebut kebun.
Ryan menghargai koreksi itu. Ia membuka halaman peta yang menunjukkan garis aliran air, lalu membandingkannya dengan arah kolam. Peta tua itu tidak cukup rinci untuk menandai pohon gandaria. Mereka perlu mencatat posisi melalui jarak langkah dan hubungan dengan jalur, bukan mengklaim koordinat yang tidak mereka ukur.
Afif menulis: kolam terlihat dari sisi atas; pohon gandaria di seberang, belum didekati; cabang jalur rendah menyambung ke sisi lain; kondisi tanah perlu diperiksa dari jarak aman. Malik menyebut jalur itu mengitari kolam dan kembali ke jalan utama. Mereka belum tahu apakah itulah putaran yang dialami malam sebelumnya.
Saat mereka berhenti, Ryan mendengar bunyi seperti langkah dari balik pepohonan. Ia tidak menoleh sendiri. Ia memberi kode siulan kepada Afif, yang membalas tepat di sampingnya. Ayah dan Malik juga masih terlihat. Tidak ada sosok yang muncul.
Ryan bertanya apakah ada orang lain di kebun. Malik menjawab ia tidak melihat siapa pun. Ayah menyarankan mereka tidak mencari sumber bunyi. Afif setuju; suara itu mungkin berasal dari ranting atau orang jauh di balik pohon, dan tidak cukup menjadi alasan untuk meninggalkan jalur.
Ryan menghela napas dan menyimpan peta. Mereka telah menemukan cabang yang berbeda dari jalur bawah. Jika mereka bisa mengikuti sambungannya dengan aman, mungkin mereka akan memahami kenapa penanda terlihat berulang pada malam hari. Namun untuk saat ini, mereka hanya akan sampai ke pohon gandaria dari sisi atas dan tidak menyeberangi area yang gelap.