Malik memimpin mereka kembali ke jalur atas, bukan ke tepi kolam. Setelah berjalan beberapa menit, ia berhenti di dekat akar pohon yang muncul dari tanah. Di depan mereka terbentang cekungan rendah yang tertutup daun. Permukaan tanah tampak utuh dari kejauhan, tetapi garis retak memanjang di sisi lereng.
Ryan tidak mendekat. Ia menancapkan ujung tongkat pada tanah keras di tempatnya berdiri, bukan pada cekungan. 'Ini bagian yang Bapak maksud?'
'Ya. Jangan diinjak. Setelah hujan, tanahnya turun.'
Afif memotret dari jarak aman. Ia mengambil gambar dari dua sudut agar bentuk cekungan dan jalur tidak tertukar. Ayah meminta Malik menjelaskan apakah ada jalan lama yang melewati bagian itu. Malik menunjuk jalur sempit di sebelah kanan, yang kini sebagian tertutup semak. Jalur itu tampaknya mengitari cekungan dan kembali ke sisi kolam.
Ryan membandingkan arah dengan sketsanya. Dari tempat mereka berdiri, jalur kanan melengkung ke belakang pohon gandaria. Jika seseorang mengikutinya dalam gelap, ia bisa kembali menghadap kolam dari arah berbeda. Batang bercabang dan batu berlumut tampak berulang di kedua sisi.
'Ini mungkin menjelaskan kenapa kami merasa berputar,' kata Afif. 'Tapi belum tentu menjelaskan semua yang kami alami.'
Ayah setuju. Malik menambahkan bahwa kabut dan suara air membuat jarak sulit dinilai. Mereka tidak menyimpulkan bahwa penampakan atau suara tertentu berasal dari alam saja. Mereka hanya menemukan bahwa ada jalur melingkar dan tanah yang rusak.
Ryan meminta Malik menjelaskan bagaimana ia tahu cekungan itu tidak aman. Malik berkata ia pernah melihat air hujan membawa tanah turun dan beberapa akar terbuka. Ia tidak menyaksikan seseorang jatuh ke sana. Ryan bertanya apakah ada penanda bahaya. Malik menjawab tidak ada, karena jalur itu jarang dipakai.
'Kalau begitu kita perlu memberi tahu orang yang bertanggung jawab atas kebun,' kata Afif.
Malik menjawab ia akan memasang tanda dari sisi jalur padat setelah mereka kembali, tanpa masuk ke cekungan. Ryan meminta tanda itu tidak dipasang dekat batas rumah atau pohon milik orang lain tanpa izin. Malik setuju.
Ayah menatap area itu cukup lama. Ia berkata ia tidak ingat pernah melihat cekungan tersebut saat muda. Tanah dapat berubah dalam puluhan tahun, terutama setelah hujan. Ryan bertanya apakah keluarganya pernah menyebut bagian ini sebagai tempat adiknya ditemukan. Ayah menjawab tidak. Mereka tidak boleh menautkan cekungan dengan kematian hanya karena lokasinya berbahaya.
Afif menulis dengan rinci: cekungan berada di bawah jalur atas; ada retakan dan akar terbuka; tidak dimasuki; Malik menyebut tanah turun setelah hujan; tidak ada kesaksian bahwa gadis ditemukan di sana. Ryan memeriksa kalimatnya agar tidak berbunyi seperti laporan kejadian lama.
Mereka mendengar suara ranting patah dari sisi seberang. Malik menoleh cepat. Ayah mengangkat tangan agar semua tetap diam. Beberapa detik berlalu, lalu seekor burung kecil terbang dari semak. Tidak ada orang yang muncul. Mereka tidak bergerak mendekati sumber suara.
Ryan merasa napasnya menegang, tetapi ia menunggu sampai rasa takut turun. Ia memberi siulan pendek kepada Afif. Afif menjawab. Kode sederhana itu memastikan mereka tetap berdekatan, bukan memancing sesuatu dari hutan.
Malik berkata ia pernah mendengar orang menyebut jalan itu 'putaran kolam' karena jalurnya kembali ke titik awal. Ryan bertanya sejak kapan nama itu dipakai. Malik tidak tahu. Ia berkata orang desa mungkin menyebutnya demikian hanya sebagai petunjuk arah. Mereka mencatat istilah tersebut sebagai sebutan Malik, bukan nama resmi.
Ayah kemudian bertanya apakah Malik ingat melihat adik ayah di area ini. Malik menjawab ia tidak bisa memastikan. Ia masih kecil saat itu dan tidak bekerja sebagai penjaga. Ia pernah melihat gadis keluarga di kebun, tetapi tidak ingat tanggal atau pohon tertentu. Ryan tidak memaksanya menjawab lebih jauh.
'Kalau ingatan Bapak belum pasti, jangan sambungkan ke hari itu,' kata Ryan.
Malik mengangguk. Ia mengaku selama ini takut membuka cerita lama karena ayah Ryan pernah meminta semua orang menjauh dari rumah. Ayah Ryan menjawab ia tidak pernah memberi Malik izin untuk berbohong atau menakut-nakuti mereka. Malik tidak menyangkal pernah mengikuti perintah agar mereka pergi, tetapi ia belum menceritakan semua tindakannya. Ryan berkata pembicaraan itu akan diteruskan di tempat aman, bukan di tepi lereng.
'Apa yang Bapak ingat sendiri tentang adik Ayah?' tanya Afif. 'Jangan ulang cerita yang Bapak dengar dari orang lain.'
Malik berkata ia pernah melihat gadis itu beberapa kali ketika masih kecil. Ia mengingatnya datang bersama orang dewasa ke bagian kebun yang dekat jalan, tetapi tidak tahu apakah itu terjadi sebelum atau setelah ia mulai sering mendengar keluarga membicarakan kejadian tersebut. Ia tidak ingat pakaian, tanggal, atau siapa yang mendampinginya.
Ryan bertanya apakah ia pernah melihatnya di dekat kolam. Malik berkata mungkin, tetapi ia tidak bisa membedakan ingatan itu dari kenangan lain tentang anak-anak yang bermain di kebun. Ia tidak ingin mengatakan 'ya' hanya karena mereka sedang berdiri di dekat kolam.
Ayah mendengarkan tanpa menyela. Ryan bisa melihat keinginan untuk meminta jawaban lebih tegas, tetapi ayah menahan diri. Ia berkata Malik tidak perlu mengisi bagian kosong. Jika suatu saat ia ingat hal yang lebih spesifik, ia bisa menuliskannya beserta perkiraan kapan ia mendengar atau melihatnya.
Afif menambahkan dua kategori di catatan: pengalaman langsung Malik yang masih samar, dan kabar keluarga yang belum disebutkan sumbernya. Belum ada satu pun yang menghubungkan Malik dengan hari kematian atau lokasi cekungan.
Kaki Ryan mulai berdenyut. Afif melihat ia lebih sering menumpukan berat pada tongkat. Mereka memutuskan kembali. Tidak ada yang mendesak untuk melihat jalur melingkar dari ujung lain. Peta dan foto sudah cukup untuk menandai batas berbahaya.
Saat berbalik, Ryan menoleh pada cekungan sekali. Ia tidak melihat benda atau jejak yang dapat menghubungkannya dengan masa lalu. Tanah itu hanya menunjukkan bahwa kebun berubah dan jalur lama bisa menyesatkan. Ia menyimpan ponsel dan mengikuti Afif kembali ke jalan padat.
Mereka kembali ke rumah menjelang siang. Ryan berjalan perlahan dan berhenti dua kali untuk mengistirahatkan kaki. Afif tidak membiarkannya mempercepat langkah saat melihat jalan terbuka. Ayah berjalan di belakang mereka, sementara Malik menuntun ke jalur yang sama dengan sisi atas kolam.
Setibanya di rumah, Ryan duduk dan mengangkat kaki di atas bantal. Afif menyalin sketsa jalur ke halaman baru agar catatan perjalanan tidak bercampur dengan dokumen keluarga. Ayah mengisi gelas dan menunggu Ryan siap melanjutkan. Malik tetap di ambang pintu; ia tidak masuk tanpa diminta.
Ryan mempersilakannya masuk untuk menjelaskan jalur, bukan untuk membicarakan semua urusan lama. Malik duduk agak jauh dari meja. Afif meletakkan peta dan foto cekungan di tengah. Mereka membandingkan arah jalur atas, jalan melingkar di sekitar kolam, dan jalur bawah yang sebelumnya mereka lalui.
'Kalau kami mengikuti jalan ini malam itu, kami bisa kembali ke sisi yang sama tanpa sadar,' kata Ryan.
Malik menunjuk dua percabangan yang sama-sama memiliki batu berlumut dan pohon bercabang. Pada siang hari, perbedaan sudutnya tampak jelas. Namun dari jalur bawah, kabut dapat menutup pandangan dan suara air memantul dari permukaan kolam. Orang yang berbelok ke jalan melingkar mungkin mengira sedang bergerak menjauhi kolam, padahal kembali ke sisi yang lain.