Briing... Briing...
Telepon berdering di nakas sebelah tempat tidurku. Mendengar suara itu, aku yang baru saja terlelap segera bangun dan duduk. Tanganku meraba mencari benda tersebut hingga berhasil menggenggamnya.
Sekilas terpampang nama Xiao Ye di layar. Aku segera menggeser tombol jawab.
"Ada apa?" tanyaku singkat.
Dari seberang sana, terdengar suara wanita yang sangat tak asing bagiku.
"Aisyah! Kapan kamu pulang ke sini? Kenapa tidak memberitahuku?" tanyanya dengan nada kesal bercampur senang.
"Maaf, aku lupa," jawabku santai.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita makan bersama siang ini?" ajaknya.
Xiao Ye adalah sahabat baikku. Kami berteman sejak aku mengikuti program pertukaran pelajar, dan dia juga pernah menjadi teman sekamarku dulu.
Setelah menutup telepon, aku segera beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Hari ini adalah hari ketigaku berada di Shanghai. Lokasi rumah sakit tempatku bekerja tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku, jadi aku memutuskan untuk berjalan kaki saja.
Entah mengapa, sejak melangkah keluar pintu, firasatku berkata bahwa hari ini akan menjadi hari yang buruk.
Dan benar saja...
Baru saja aku melangkah masuk ke area kerja, terdengar suara teriakan seorang perempuan menggema di sepanjang lorong rumah sakit. Aku segera menghampiri sumber suara. Ternyata, itu adalah seorang pasien gangguan jiwa yang entah bagaimana caranya bisa kabur dari ruang perawatannya—padahal bangsal khusus berada sangat jauh dari area ini.
Aku segera mendekat untuk menenangkannya sebelum dia menyakiti orang lain. Namun, saat aku sudah berada cukup dekat...
"MATILAH KAMU!!"
Ucapannya membuatku terpaku. Tubuhku serasa membatu tak berdaya. Wanita itu mengeluarkan sebilah pisau dan berniat menusukku!
Namun, pisau itu tak pernah menyentuh tubuhku.
Seorang pria tiba-tiba berdiri di hadapanku, dengan gagah berani menghadang serangan itu menggunakan tangannya sendiri.
Dari sisi profil wajahnya, aku merasa sangat mengenal sosok itu. Namun, kekagetanku membuatku tak sempat mengingat siapa dia. Fokusku kini tertuju pada tangannya yang terluka.
Aku segera kembali sadar dan mencoba menenangkan pasien tersebut.
"Ibu... sedang mencari apa?" tanyaku dengan nada lembut sembari mencoba tetap tenang.
"Mana anakku?! Mana anakku?!" teriaknya histeris.
"Bagaimana kalau Ibu taruh dulu pisaunya? Nanti kita cari bersama-sama," bujukku perlahan, berusaha membuatnya melepaskan benda tajam itu.
"AKU INGIN SEKARANG!!" Suaranya semakin meninggi.
"Iya, iya, kita cari sekarang juga."
Aku perlahan menyentuh tangannya, mencoba meyakinkan wanita itu hingga akhirnya dia melepaskan cengkeramannya pada pisau.
Tak berselang lama, seorang perawat berlari menghampiri sambil membawa sebuah boneka.
"Ini, Dok. 'Anaknya'," ucap suster itu seraya menyerahkan boneka tersebut padaku.
Dengan lembut aku berikan boneka itu padanya. Perlahan tapi pasti, amarahnya mulai mereda. Beberapa perawat lain segera datang dan membantunya kembali ke ruang perawatan.
Setelah situasi aman, aku segera menoleh ke belakang. Pria itu masih berdiri di tempatnya, dengan tangan yang kini berlumuran darah.
"Apakah Tuan baik-baik saja? Izinkan saya mengobati luka ini sebagai tanda terima kasih," ujarku cemas.
Aku segera membawanya masuk ke ruang kerjaku.
"Tuan, silakan duduk sebentar di sini. Saya akan mengambilkan obat dan peralatan pertolongan pertama," ucapku.
Aku segera berjalan menuju ruang perawatan untuk mengambil kotak P3K. Walaupun aku hanya seorang dokter psikologi, aku tentu paham cara menangani dan mengobati luka luar.
"Maaf ya..." ucapku pelan dengan nada bersalah.
"Hmmm," jawabnya singkat dan dingin.
Meskipun sikapnya terlihat ketus, aku tak terlalu mempedulikannya. Aku justru merasa penasaran.
"Apakah... kita pernah bertemu sebelumnya?" tanyaku hati-hati. Entah mengapa, wajahnya terasa sangat familiar bagiku.
"Tidak," jawabnya ketus tanpa menatapku.
"Maaf, aku hanya bertanya," jawabku santai.
"Hmmm... Sstt..." desisnya kesakitan saat aku mulai membersihkan lukanya.
"Maaf, mungkin akan sedikit perih," ucapku cepat.
Setelah selesai mengobati lukanya dan membalutnya dengan rapi, pria itu langsung beranjak pergi begitu saja.
Entah masalah apa yang sedang menimpanya atau seberapa sibuk dirinya, hingga membuatnya terlihat begitu terburu-buru dan tak ingin berlama-lama di sana.
____________________________________
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Aku segera mengambil handphone yang sedari tadi tidak pernah kusentuh karena banyaknya orang yang sedang periksa.
Aku membuka WeChat dan mengetik nama Xiao Ye di kolom pencarian.
Aisyah: Makan di Sixty Two ya. Aku mungkin agak telat.
Xiao Ye: Oke, aku tunggu.
Setelah jawabannya muncul di layar handphone-ku, aku segera melepas jas dan pergi meninggalkan ruangan.
"Zixuan!!"
Aku menoleh. Di Cina, namaku adalah Zixuan karena belum tentu semua orang bisa dengan mudah menyebut namaku.
"Ada apa, Bu Chen?" tanyaku.
"Bisa tidak kamu menggantikan aku mengecek pasien malam ini? Aku ada urusan penting," jelas Bu Chen.
"Oh, oke Bu."
"Makasih. Lain kali kalau kamu butuh bantuan soal pekerjaan, cari aku saja."
"Baik, Bu."
Setelah menerima permintaan Bu Chen, aku segera pergi ke masjid terdekat untuk melaksanakan sholat Dzuhur.
"Yeye, maaf ya. Aku terlambat."
"Biasa."
Aku tersenyum melihat ekspresi wajahnya. Sepertinya dia sangat memaklumi keterlambatanku.
"Tahu tidak? Tadi aku bertemu seorang laki-laki. Tapi, menurutku wajahnya begitu familiar di benakku."
"Apakah dia tampan?"
"Hmmmm, lumayan..."
"Ini pesanan kalian, selamat menikmati," suara pramusaji terdengar sambil membawa makanan yang sudah dipesan oleh Xiao Ye sebelumnya.
"Sudahlah, cepat makan."
Aku dan Xiao Ye berbincang sangat asyik. Tak lupa, aku juga menceritakan tentang laki-laki itu kepadanya. Tanpa disadari, waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 tepat.
"Xiao Ye... Aku harus lanjut bekerja. Lain kali kita makan bersama lagi ya!!"
"Oke."
Setelah berpisah, aku bergegas kembali ke rumah sakit. Aku tak ingin menelantarkan pekerjaanku.
DI SISI LAIN
Xiao Ye yang masih berada di resto menerima telepon. Di layar handphone-nya tertulis nama Lin Yichen.
"Ada apa? Bagaimana harimu hari ini?"
"Aku ingin membicarakan sesuatu," terdengar suara yang bagi Xiao Ye tentu tidak asing.