"Xuan, Xuan! Xuan, Xuan!"
Aku seolah mendengar seseorang memanggil namaku. Suara itu milik seorang pria dan terdengar sangat familiar di telingaku.
"Xuan, Xuan! Bangun, ayo bangun!"
Aku perlahan membuka mataku. Namun, pemandangan di depanku hanya tampak buram—beberapa ambulans baru saja tiba di lokasi. Segalanya terlihat tidak nyata, kecuali rasa sakit yang menjalar hingga ke tulang. Rasanya begitu perih dan nyata.
"Tolong... tolong..."
Suaraku keluar dengan sangat lemah, hampir tak terdengar. Seluruh tubuhku terasa lemas, seolah tak sanggup lagi menahan rasa sakit yang menggerogoti.
"Tolong! Tolong aku!"
Aku berteriak sekali lagi sembari mengangkat tangan kananku, berharap mereka menyadari keberadaanku. Air mata mulai mengalir membasahi pipiku.
Akhirnya, beberapa petugas medis segera menghampiri dan membawaku ke atas brankar. Saat aku hendak dimasukkan ke dalam ambulans, mataku tak sengaja menangkap sosok lain. Seorang pria juga terbaring lemah di brankar tak jauh dari tempatku. Wajahnya tak bisa kulihat dengan jelas karena tertutup oleh petugas pemadam kebakaran dan petugas keamanan lainnya.
"Xuan, Xuan! Zixuan! Bangun!"
Aku kembali berusaha membuka mataku. Kali ini, sosok yang berdiri di hadapanku adalah San San, perawat yang biasa membantuku.
"Zixuan, kamu kenapa?" tanyanya cemas.
"Nggak apa-apa kok."
"Kaget aku. Sini, aku lap keringatmu dulu."
"Makasih ya."
Dia menyodorkan sebuah sapu tangan ke arahku.
"Ini data pasien yang harus diperiksa nanti, habis jam istirahat."
Dia meletakkan sebuah map berwarna biru tua di atas meja, lalu pamit meninggalkan ruangan.
Aku duduk di kursi, menyandarkan kepala dan memijat pelan pelipisku yang terasa berat.
"Lagi-lagi mimpi itu," gumamku pelan.
Beberapa hari ini, mimpi yang sama terus berulang. Bahkan saat terbangun, aku masih bisa merasakan rasa nyilu di beberapa bagian tubuhku. Entah sudah berapa kali hal ini terjadi.
Terkadang, aku berusaha keras mengingat detail kejadian kecelakaan itu. Namun, semakin dipikirkan, aku justru merasa bingung. Aku tidak merasa kehilangan ingatan tentang orang-orang di sekitarku sebelum kejadian itu. Satu-satunya yang hilang adalah memori tentang bagaimana tragedi itu sebenarnya terjadi.
Mungkin apa yang kulihat dalam mimpi itu adalah kejadian aslinya. Tapi setiap kali aku mulai yakin, keyakinan itu selalu dipatahkan. Orang-orang di sekitarku bilang, aku hanya tidak sengaja terjatuh dari tangga di rumah Xiao Ye. Dan katanya, aku hanya kehilangan ingatan tentang kejadian jatuh itu saja.
"Xuan, Xuan... kamu nggak istirahat?"
Lamunanku buyar saat suara Lin Tian memecah keheningan.
"Ah, iya... kamu duluan aja sana."
Aku menyuruhnya pergi beristirahat lebih dulu.
Ini adalah hari ketujuh aku berada di Shanghai.
Aku membereskan meja kerjaku, lalu berjalan menuju kantin setelah selesai sholat Dzuhur.
"Zixuan! Zixuan!"
Suara Lin Tian memanggil dari arah belakang. Aku segera menoleh dan mencari keberadaannya di antara deretan meja yang dipenuhi dokter serta perawat. Pandanganku akhirnya terhenti pada sebuah tangan yang melambai-lambai ke arahku. Itu pasti Lin Tian.
Aku tersenyum kecil dan berjalan mendekatinya sambil membawa nampan makanan yang baru saja kuambil.
Dari kejauhan, aku melihat dia duduk bersama Xiao San dan dua pria lain yang belum kukenal. Aku meletakkan makananku di atas meja, lalu duduk di antara Xiao San dan Lin Tian.
"Zixuan, perkenalkan. Ini Dokter Chen dari ruang gigi, dan ini Dokter Tang dari ruang Neurologi," jelas Lin Tian memperkenalkan mereka satu per satu.
"Nǐ hǎo," sapaku.
"Nǐ hǎo," jawab kedua laki-laki itu serentak.
Sepanjang makan siang itu, aku tak banyak bicara. Kehadiran orang-orang baru membuatku merasa kurang leluasa untuk mengobrol santai.
Setelah selesai makan, aku berpamitan dan kembali ke ruangan lebih awal, padahal waktu belum menunjukkan pukul satu siang. Aku tak mempedulikannya. Aku hanya ingin memejamkan mata sejenak.
Aku menyandarkan tubuhku ke kursi, dan tanpa sadar aku pun terlelap.
Briiiiiiing, briiiiiiing! Wake up, wake up!
Alarm ponsel berbunyi tepat pukul satu siang. Aku memang selalu memasang alarm setelah jam istirahat. Bagaimanapun, ini adalah negara yang sangat menjunjung tinggi kedisiplinan; keterlambatan bukanlah hal yang dibenarkan di sini.
Aku mematikan alarm, merapikan jas laboratoriumku, lalu duduk tegap menunggu pasien berikutnya.
Krieeek...
Pintu ruangan terbuka. Seorang ibu masuk bersama anak perempuannya yang tampak berusia sekitar lima belas atau enam belas tahun.
"Permisi... dengan Dokter Zixuan?" tanya ibu itu ragu.
"Iya Bu, silakan masuk," jawabku ramah sambil mempersilakan mereka duduk.
"Dokter... apa Bapak bisa mengobati anak saya?" tanyanya lagi, seolah tak yakin padaku.
Aku tersenyum hangat dan mengangguk pelan.
"Kamu mau duduk sama Ibu atau sendiri saja?" tanyaku lembut kepada gadis itu.
Gadis itu menggeleng kecil, memberi isyarat ingin sendiri.
"Bu, bolehkah Ibu menunggu di luar sebentar? Biar saya bicara berdua dulu sama dia," pintaku.
"Oh, iya... iya, Dokter."
Ibu itu pun berjalan keluar, menyisakan aku dan gadis itu di dalam ruangan.
"Kak Zixuan?" tanya gadis itu pelan.
"Eh, iya. Kok kamu tahu namaku? Kakak saja belum tahu namamu," jawabku sambil tersenyum tipis.
Gadis itu kembali diam.
"Apakah... kita pernah bertemu sebelumnya?" tanyaku penasaran.
Dia mengangguk pelan, menegaskan bahwa kami pernah bertemu.
"Ada apa denganmu? Ceritalah, jangan dipendam sendiri," bujukku dengan nada lembut.
Namun, dia tetap membungkam mulutnya.
"Gak apa-apa kok... Boleh kakak peluk?"
Gadis itu mengangguk. Saat aku memeluknya dengan hangat, air matanya akhirnya tumpah membasahi bahuku. Dia menangis tersedu-sedu.
"Sudah, sudah... tenang ya. Semuanya sudah berlalu," bisikku menenangkannya.
Perlahan tangisnya mereda, tapi dia masih enggan mengeluarkan sepatah kata pun.
"Tenangkan saja dulu hatimu, nggak apa-apa kok."
Waktu berlalu begitu cepat, sudah setengah jam berlalu namun gadis itu tetap diam. Aku tersenyum sabar.
"Tahukah kamu? Dulu kakak juga pernah berada di posisi kamu. Rasanya itu sakit... sakit yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Seolah-olah hanya kita yang mengerti rasanya. Jujur saja, orang biasa memang sulit mengerti apa yang kita rasakan. Mungkin mereka tahu kita sedih, tapi mereka tidak tahu bagaimana cara meresponsnya dengan benar."
Meski sudah bicara panjang lebar, gadis itu tetap tak bersuara. Aku tak memaksanya.
"Bagaimana kalau... kamu cerita sama kakak besok saja? Kakak nggak memaksa. Kakak akan menunggu sampai kamu siap. Kamu mau ketemu kakak lagi besok?"
Gadis itu mengangguk cepat.
Aku segera membuatkan jadwal janji temu berikutnya, lalu mengantarnya keluar menemui ibunya.
"Bu, saya sudah buatkan jadwal untuk pertemuan berikutnya."
"Makasih banyak ya, Dokter."
"Bù kèqì," jawabku sopan.
Setelah mereka pergi, aku kembali masuk ke ruangan. Pikiranku kembali melayang pada kejadian tadi. Gadis itu mengangguk saat kutanya apakah kami pernah bertemu, tapi sejujurnya aku sama sekali tidak ingat pernah bertemu dengannya sebelumnya.