Siang menggigil di atas bukit tempat Istanbul menyimpan rahasianya. Kabut tipis turun bersama salju yang pelan-pelan menghapus jejak-jejak masa lalu. Tapi tidak bisa menghapus jejak di hati Maham.
Dia duduk dalam diam. Wajahnya hampir tanpa ekspresi. Kecuali kesedihan yang sepertinya sudah merasuk sampai ke tulang-tulangnya. Dinginnya udara yang berhembus seolah meleleh ketika dihadapkan pada bara hatinya yang belum padam.
Bukit itu... Tempat di mana semuanya dulu terasa benar. Tempat Timur menggenggam tangannya, menyebutnya rumah. Sekarang, rumah itu runtuh dan hanya menyisakan serpihan kenangan.
“Pemandangan dari sini akan luar biasa kalau salju turun.” Kata Timur waktu itu.
Dan memang benar. Sekarang salju turun, putihnya memeluk kota, menutupi jalan-jalan tua dan atap-atap aparteme