Istanbul, 7 Desember 2018
Musim dingin yang belum tiba, tapi hatiku sudah membeku karenamu.
Aku tidak tahu harus mulai dari mana, Maham. Barangkali dari sebuah lorong panjang di gedung tempat kau belajar. Atau dari cahaya yang menyelinap masuk lewat jendela ruang pengajar, memantul di rambutmu yang hitam legam, seperti malam yang masih basah oleh embun. Atau barangkali, dari napas pertama yang kutarik sesaat setelah melihatmu — dan sejak itu tak pernah benar-benar bisa kulepaskan lagi.
Kau tahu, saat pertama aku melihatmu, bahkan sebelum aku tahu siapa namamu, dunia seperti berhenti sebentar. Waktu berhenti berdetak, dan yang tersisa hanya degup jantungku sendiri yang terasa asing di d**a. Aku tak melihat wajahmu lebih dulu — hanya punggungmu. Tapi anehnya, aku tahu aku telah tersesat.