Timur tahu hari itu akan datang. Tapi ketika namanya benar-benar tercantum sebagai dosen pembimbing Maham, jantungnya seperti dijatuhkan dari lantai paling atas gedung fakultas.
Dia menatap layar laptopnya tanpa berkedip. Di samping nama Maham Narawangsa tertulis jelas:
Dosen Pembimbing: Cihan Savcı.
Tangannya refleks mengepal, oleh perasaan bahagia yang bercampur kekhawatiran. Ini pasti kesalahan sistem.
Atau... takdir.
Ironis. Selama setahun penuh, dia hanya bisa memandang Maham dari kejauhan — dari balik jendela mobilnya yang berkabut di malam hari. Setelah Maham memaksanya untuk bersikap profesional dan tidak lagi terlibat secara pribadi, Timur tidak memiliki pilihan lain. Dia berhenti menyapa. Dia mundur selangkah demi selangkah — walau hatinya terus memberontak, meminta untuk b