Aroma khas buku tua menyambut Maham begitu dia melangkah masuk ke perpustakaan kota. Suasana hari Sabtu di tempat itu sunyi namun hidup, seperti alunan musik klasik yang berdesir di sela rak-rak penuh sejarah dan ilmu.
Maham menggenggam catatan kecil berisi daftar referensi tesisnya. Satu judul terus membuatnya kesal. Negotiating Memory in Transitional Societies, buku yang disebut Timur di konsultasi terakhir mereka. Beberapa hari ini dia sudah mencarinya di kampus, di toko buku online, bahkan di forum mahasiswa. Tapi nihil. Maka inilah harapan terakhirnya: perpustakaan kota.
Maham menyusuri bagian sosial-politik internasional lalu menuju rak ‘conflict & peace studies’. Matanya menyapu baris demi baris nama penulis. Dirinya sempat menemukan buku lain karangan penulis yang sama, tapi buka