Lampu kamar hanya menyala sebagian. Maham duduk bersandar di atas ranjang, rambutnya setengah terikat asal-asalan. Laptop terbuka tapi layarnya idle, dan di sebelahnya, buku catatan yang masih kosong. Tangannya memegang ponsel dengan layar menunjukkan Ara is calling.
Setelah beberapa dering, wajah Ara muncul di layar.
“Halo, Sayangku! Kau akhir-akhir ini jarang sekali menghubungiku. Apakah kau masih hidup?” suara Ara ceria seperti biasanya.
Masih hidup? Maham menghela napas pelan. Iya, dia masih hidup. Hanya saja tidak dengan kehidupan yang dia inginkan.
“Aku sibuk dengan rancangan tesisku, Ra. Maaf. Bagaimana denganmu?”
“Lihatlah siapa yang hampir berhasil menyelesaikan program masternya. Menyenangkan sekali. Sedangkan aku terjebak di sini,” cibir Ara — bercanda.
“Kita terjebak di