“Kalau kita pakai pendekatan kultural dalam rekonsiliasi pasca konflik —” ucap Maham, memulai diskusi, “— bukankah kita harus benar-benar memahami konteks sosial lokal? Bukan cuma ambil studi dari luar.”
“Tepat. Itulah kenapa aku suka arah yang kau ambil. Kau tidak hanya mengulang metode lama. Kau ingin menyelam lebih dalam.”
Maham mengangguk pelan. Wajahnya menyimpan campuran antara rasa percaya diri dan antusiasme. “Jadi file dari teman Anda itu bisa jadi bahan awal?”
Timur mengangguk. “Kau bawa flashdisk?”
Maham mengecek tasnya. Lalu menggeleng.
“Tak apa. Pakai punyaku dulu.” Lantas Timur meraih flashdisk yang tergeletak di sudut lacinya dan menancapkan benda itu ke laptopnya. Tanpa membuka jendela direktori, dia menyalin folder bernama ‘referensi Maham’ ke dalamnya.
Setelah pros