Hari-hari setelah itu berjalan seperti mimpi buruk yang diulang setiap pagi. Timur menunggu Maham di ruang dosen. Mencuri waktu memandangi pintu, berharap gadis itu akan muncul dan mengucapkan, “Selamat siang, Hocam.”
Sayangnya pintu itu tak pernah memunculkan wajah indah Maham dari baliknya. Satu hari… Dua hari… Sampai Senin berubah menjadi Kamis.
Timur mulai tak tahan. Melihat Maham dari balik kaca mobil saja tak lagi cukup untuknya. Dia ingin mendengar suara sehalus beludru itu. Melihat sepasang mata seindah buah zaitun hitam milik Maham. Merasakan dekatnya seorang perempuan yang dulu pernah menjadi seluruh dunianya.
Maka Timur hanya mengulang-ulang ritme yang sama. Dia kembali ke depan apartemen Maham seolah itu adalah pelabuhan terakhirnya sebelum dia mati.
Mesin mobilnya mati. T