Langit sore Washington D.C. berwarna abu keemasan ketika Maham berdiri mematung di gerbang keberangkatan. Suasana bandara riuh rendah, tapi yang didengarnya hanyalah degup jantungnya sendiri. Di sebelahnya, Ara memeluk Alan erat untuk menguatkan dirinya sendiri.
Maham menunduk, mencium kening Alan. “Kita masih sama-sama di bumi kan?” suaranya serak. Lalu menatap Ara, sahabat sekaligus keluarganya selama lebih dari 5 tahun ini. “Nanti aku akan mengunjungi kalian saat cuti. Atau kalian yang ke tempatku.”
Ara mengangguk, berusaha tegar. Tapi matanya tak bisa berbohong. Air matanya sudah menggenang.
“Kau tahu aku selalu mendoakan kebahagiaanmu, Maham,” balas Ara, memeluk Maham satu kali lagi sebelum mundur perlahan. Tak sanggup menahan tangis ketika pemberitahuan boarding sudah terdengar d