Evan memencet bel apartemen Olga, hatinya berkecamuk tak karuan. Takut pada penolakan, takut juga pada perpisahan. Tapi dia akan lakukan apapun sekarang agar mendapat restu dari orang yang telah melahirkan dan membesarkan wanita yang dia cintai.
Dengan termangu Evan duduk di ruang tamu. Mama Anya keluar dan duduk berhadapan dengannya.
"Ada apalagi Evan?" Beliau tidak marah, tidak memakinya. Bukankah lebih baik marah dan berteriak mengusirnya, daripada seperti ini? Diam dan tenang tapi menyimpan ketidaksukaan.
"Saya tidak akan menyerah pada Anya," jawab Evan.
"Evan." Anya bergegas keluar, dia duduk di samping Evan dan memeluk lengan pria itu.
"Anya, perhatikan sikapmu." Mama Anya berkata, tapi Anya tak peduli. Dia malah menggeleng dan makin kuat memeluk lengan Evan seperti anak kecil y