29 Februari 3010 | 09:00 WIB
Dunia seakan berhenti berputar. Sang Hakim Agung, Wirawan—orang yang baru beberapa detik lalu menguap dan kebingungan—kini mematung di tengah sorotan cahaya matahari yang menyengat. Di belakangnya, pintu gerbang utama Gedung Pengadilan Tinggi yang megah terbuka lebar, menelan sosok yang baru saja keluar dari kegelapan di balik pintu tersebut.
Tepat saat itu, serentak, ponsel di genggaman setiap orang—termasuk milik Deni dan Bagas—mengeluarkan getaran panjang yang sinkron. Bukan suara notifikasi biasa, melainkan dentuman digital rendah yang seolah menggetarkan tulang rusuk. Layar ponsel mereka serentak menampilkan pesan hitam dengan font putih minimalis:
[ TERIMA KASIH TELAH MENJADI SAKSI PEMBUATAN KARYA SENI KETIGA. ]
[ HARI INI, TIDAK ADA PENCULIKAN.