29 Februari 3010 | 09:05 WIB
Klik.
Layar ponsel di seluruh Suribayu berubah menjadi merah darah. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi perdebatan moral. Di tengah keheningan kota yang mencekam, ribuan jari bergerak serentak menekan tombol [Y]. Bagi warga yang telah kehilangan kewarasan itu, [Y] bukan lagi sekadar huruf di atas kaca layar; [Y] adalah tombol "setuju" untuk keadilan, tombol persetujuan bagi sang Hakim Agung untuk menerima ganjaran atas dosa-dosanya. Mereka menganggap kehancuran sang Hakim adalah bentuk hiburan tertinggi—karya seni yang sudah mereka pilih dengan sadar.
Hakim Agung, yang kini bersimpuh di aspal basah dengan tangan yang gemetar hebat, menatap layar ponsel yang dipantulkan oleh videotron raksasa di pusat kota. Angka persentase [Y] merangkak naik dengan k