Setelah menghabiskan waktu selama satu minggu di rumah sakit, Lunar diperbolehkan keluar dan menjalankan aktifitas seperti semula. Belum ada kegiatan warrior, jadi ia ingin sekedar jalan-jalan di tempatnya diserang. Entahlah, ada sebuah dorongan untuknya melakukan hal itu. Berdoa saja agar ia tidak ditemukan oleh warrior yang sedang melakukan patroli.
Selama dalam bimbingan guru Dan, Lunar selalu digembleng untuk bisa bertarung tanpa mengandalkan kekuatan dari bentuk transformasi serigalanya. Lunar sudah melakukan hal itu dengan baik. Terbukti ketika ia bertarung melawan rogue itu, ia bisa menekan kuat keinginan berubah dalam dirinya. Untung saja tidak ada yang memancing emosinya. Jika ada, mungkin ia tak akan sanggup menahannya.
Dengan perlahan, Lunar mulai mencoba mengingat-ingat di mana tepatnya ia bertarung. Saat itu, ada banyak darah yang keluar dari tubuhnya, Sean, dan rogue itu. Mungkin dengan mengandalkan bau darah yang menyengat itu ia bisa menemukan tempatnya lebih cepat. Atau ditambah dengan keberadaan Sean, pencarian akan lebih cepat menemukan titik tujuannya.
Sudahlah, abaikan pemikiran yang terakhir tadi karena ia tak akan menyeret Sean ke dalam masalahnya jika nanti ia ditemukan warrior. Ia sudah cukup banyak menyusahkan hewolf berambut spike coklat itu, dan tak ingin menambah lagi daftar kesusahan yang ia sebabkan. Hingga kini, Sean sudah menjadi lebih dari sosok sahabat untuknya.
Setelah yakin ia sampai di tempat tujuan, ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah. Sudah tak ada jejak darah yang tertinggal. Namun, ia sangat yakin jika di tempatnya berdiri sekarang adalah titik di mana ia jatuh tersungkur. Ia menduga jika alpha telah menyuruh warrior-nya untuk menghilangkan jejak darah itu. Kalian tahu, akan sangat berbahaya meninggalkan jejak darah terlalu lama karena itu bisa membuat musuh mengendus hal yang tak seharusnya mereka ketahui.
Seperti vampire, misalnya. Mereka akan mengingat aroma darah itu dengan sangat baik dan bisa menganalisa apa yang terjadi. Apa lagi pada saat itu Lunar dan Sean bertarung dan mengeluarkan darah dalam kondisi sedang menjadi manusia. Ditambah dengan aroma rogue yang ada, pasti akan memunculkan spekulasi jika pack ini bisa dimasuki rogue. Mereka akan mencari rogue itu dan menggali informasi sebanyak mungkin untuk mengetahui kelemahan pelindung wilayah pack. Dan tentu saja hal itu bisa menjadi sangat berbahaya.
Tempat Lunar bertarung itu merupakan sebuah hutan yang tak terlalu lebat dengan rumput yang tak terlalu tinggi. Di sampingnya, ada sebuah deret pepohonan yang menjadi tanda batas wilayah pack-nya. Di deret pepohonan itulah tempat beradanya sinyal yang ditanamkan para penyihir untuk alpha pack-nya. Alpha-nya akan merasakan jika ada yang masuk atau keluar tanpa seizinnya. Bahkan itu untuk warganya sendiri. Hanya yang telah mengantongi izin dari alpha-nya lah yang bisa keluar masuk tanpa terdeteksi.
“Di tempat inilah aku mencium aroma itu,” ujar Lunar. Ia mencoba menyesapi sisa-sisa aroma yang membuatnya kecanduan itu. Mungkin jika warrior lain yang membauinya, tak akan ada yang tercium karena baunya yang teramat samar.
Bagi Lunar, aroma itu terasa sangat menenangkan hatinya. Berulang kali ia menyesapnya dan lama kelamaan aroma itu tercium semakin kuat.
“Mate!”
Untuk pertama kalinya, serigala dalam dirinya menyerukan sebuah suara. Ia langsung memasang posisi waspada karena takut jika ada p*********n lagi seperti kemarin. Sebelumnya, ia tak pernah mendengar suara serigala di dalam dirinya karena ia tak menginginkan hal itu.
Untuk para werewolf, mereka biasanya akan melakukan mindlink dengan jiwa serigalanya setelah mereka ber-shift untuk pertama kali. Mereka juga bisa mengatur keinginan itu sesuka hatinya, dalam artian menutup dan membuka akses secara penuh. Ketika Lunar mengetahui ia serigala deltha, ia langsung menutup akses itu dan berusaha untuk tak membukanya. Ia takut jika ia tidak menutupnya, ia bisa kehilangan kesadaran dan berubah menjadi wujud serigalanya.
Padahal, hal itu hanya dalam bayangannya saja. Lunar terlalu paranoid dengan statusnya dan membuat semuanya bertambah runyam. Saat menyerukan kata mate yang bisa didengar Lunar, serigala dalam dirinya pasti menggunakan banyak usaha dan tenaga untuk menembus akses yang Lunar tutupi.
“Kau!” pekik Lunar saat ia menyadari ada seorang yang tengah berdiri dan tersenyum ke arahnya di luar perbatasan yang tak jauh darinya. Aroma itu tercium semakin kuat dan ia yakin, sosok itu lah pembawanya.
“Ya, Mate! Apa kabar?” sapa sosok itu.
Wajah Lunar merona dan serigala dalam dirinya melolong senang mendengar sapaan dari mate-nya. Lunar sudah tak memikirkan penghalang akses untuk serigalanya lagi. Ia hanya fokus pada sosok tampan yang kini berdiri menjulang dengan rambut biru gelapnya dan kini tengah tersenyum padanya.
“Kau yang menolongku saat itu, ‘kan?” tanya Lunar. Ia yakin tak ada keberadaan lain selain mereka berdua karena ia telah memastikan tak ada bau lain yang mengikutinya.
Sosok itu mengangguk pelan. “Aku Davian. Senang bertemu denganmu, mate,” ucapnya.
Davian, nama itu terdengar indah untuk Lunar dan ia terpesona pada sosok yang mengaku mate-nya itu. Ah, bukan mengaku. Tapi memang mate-nya. Aroma yang ia kenal mereka dengan kuat di indra penciumannya dan membuat hatinya merasa tenang. Lunar yakin dan tak ada keraguan lagi di hatinya bahwa sosok itu benar-benar mate-nya.
Tetapi, tunggu! Ia ingat jika sebelum ia tak sadarkan diri, serigala itu betarung dengan rogue yang menyerangnya. Ia juga sempat memindai sosok serigala itu. Serigala itu, omega, karena ia sempat menyadari jika sosok itu memiliki struktur tubuh yang lebih kecil ketimbang dengan sosok yang menyerangnya.
“Ku harap kau mau menerima aku yang seorang omega-male ini, Mate,” lanjutnya.
“Tentu, Mate. Ah, tidak! Davian!” pekik Lunar, “aku sangat senang karena bertemu dengan mate-ku tak peduli jika dia omega sekalipun.”
Benar. Bagi Lunar tak masalah jika mate-nya adalah sosok yang berstatus omega. Sosok yang lebih rendah dari statusnya dan ia yakin jika mereka bertarung, Lunar lah yang akan menjadi pemenangnya. Akan tetapi, tentu saja hal itu tak akan terjadi. Mana mau Lunar bertarung dengan mate-nya tanpa sebab yang jelas.
“Terima kasih sudah mau menerimaku, Mate. Boleh ku tahu siapa namamu? Perkenalkan, aku Davian dan serigala dalam diriku ini bernama Nathaniel.”
Mereka masih berbincang dengan posisi awal, yakni Lunar yang berdiri di sebelah pohon yang tak jauh dari deret pohon perbatasan, dan begitu juga dengan Davian. Mereka tahu dan teramat sadar jika mereka mendekat atau melampaui garis batas, akan ada hal buruk yang menimpa mereka.
“Perkenalkan namaku Lunar, Mate. Boleh ku panggil Dav?” tanya Lunar. Rona merah masih setia bertengger di wajahnya dan ia tidak bisa menghilangkan hal itu. Oh iya, serigala dalam dirinya juga telah menyerukan namanya tak lama setelah mendengar Davian memperkenalkan dirinya.
“Tentu! Kau boleh memanggilku Dav,” jawab Davian.
“Ah, ya! Dan serigala dalam diriku bernama Nathaline. Nama serigala kita hampir sama ya, Dav? Apa mungkin hal itu karena ikatan mate kita?”
“Entahlah. Boleh ku panggil kau Lun? Seperti panggilanmu untukku, kurasa aku juga harus memiliki panggilan istimewa untukmu.”
Lunar mengangguk keras. Ia merasa jika ia sangat bahagia mendengar hal itu.
“Oh, iya, Dav. Kau berasal dari pack mana? Apakah salah satu pack yang bekerja sama dengan pack-ku?”
Davian terdiam dan memandangnya sendu. Sebenarnya, ada suatu sisi dalam diri Davian yang mengatakan jika ia tak boleh mengatakan kebenarannya pada Lunar. Namun, Davian tetaplah seorang omega yang memiliki hati yang lebih lembut dari status yang lainnya. Jadi, ia lebih memilih untuk mengatakannya langsung.
“Maaf, Lun. Aku tak berasal dari pack mana pun karena aku seorang rogue. Teman dari rogue yang menyerangmu beberapa hari yang lalu.”