“Kakak, bagaimana rasanya bertemu dengan mate?”
Seorang gadis berambut biru gelap sebahu menolehkan kepalanya kepada si penanya yang sedang duduk di belakangnya. Ia sedang memasak, dan pertanyaan yang masuk ke telinganya membuatnya berpikir jika ada sesuatu yang sedang terjadi.
“Oh, tidak! Sebentar, aku harus keluar!” Sebuah nada panik terdengar dari gadis itu. Sesuai ucapannya, Ia langsung berlari menuju luar rumah untuk memastikan sesuatu. Tak ayal, pemuda yang menanyakan suatu hal padanya tersebut langsung menggelengkan kepalanya melihat tingkah spontan kakaknya.
“Ya Tuhan, Vian! Bulan masih terbit dari timur dan hari ini tidak ada fenomena Super Blood Moon, Super Moon, Blue Moon, Red Moon, atau apalah itu. Tapi mengapa tiba-tiba kau menanyakan tentang mate padaku?” Gadis itu langsung mencerca dengan ocehannya tentang bulan dan mendekatkan wajahnya ke arah pemuda itu. Merasa jarak mereka terlalu dekat, pemuda itu sedikit memundurkan wajahnya.
“Kak, aku hanya menanyakan tentang mate padamu dan reaksimu sudah seperti ini. Aku yakin jika aku mengatakan aku menghamili seorang omega lain yang bukan mate-ku, kau akan melakukan koprol keliling lapangan latihan kita,” ujar pemuda itu dengan lembut dan masih betah di tempatnya duduk meski gadis di depannya sudah bertingkah heboh. Ia yang tengah duduk di meja makan yang tak jauh dari gadis itu memasak hanya bisa menatapnya dengan jengah.
“Demi Moon Goddess! Benarkah itu? Oh, aku harus mengabari ayah jika putra kecilnya berbuat nakal,”
“Kak Konan, berhenti! Tentu saja aku hanya bercanda mengenai hal itu. Aku hanya bertanya tentang mate dan reaksimu sudah seperti itu. Kau berlebihan, Kak!” sergah Davian.
Pemuda itu, Davian. Yang kini tengah berada di kediamannya dan menunggu masakan yang tengah diolah kakaknya itu matang. Gadis yang memiliki surai rambut serupa dengannya dan bernama Konan itu adalah kakaknya yang memiliki usia dua tahun lebih tua darinya. Tak seperti Davian, Konan berstatus gamma dan belum menemukan mate-nya. Keluarganya memang rogue, dan kini tengah mendiami sebuah pondok di wilayah netral karena ada yang perlu kakaknya urus.
Konan yang memiliki status yang lebih tinggi dari Davian membuatnya harus belajar untuk menggantikan posisi ayahnya. Keluarga mereka memang rogue, namun mereka memilih hidup modern dan berbaur dengan bangsa manusia. Mereka lebih memilih hidup tenang dan menikmati segala fasilitas teknologi yang ditemukan manusia ketimbang hidup di gua dan melakukan segala cara untuk mempertahankan hidup.
Ayah Davian memiliki sebuah bisnis di wilayah netral hingga membuat beliau sibuk bepergian kesana kemari untuk mengurusnya. Tak hanya itu, keluarga Davian memiliki relasi yang baik dengan bangsa manusia dan vampire. Ayah Konan sangat mencintai kedamaian, untuk itulah semua dilakukannya demi mewujudkan impiannya hidup dengan damai. Termasuk membangun hubungan baik dengan dua bangsa itu dan membangun bisnis.
Sebenarnya Davian pun tak ketinggalan untuk ditawari memegang salah satu bisnisnya. Meski seorang omega, Davian memiliki kriteria untuk memimpin sebuah bisnis. Namun, Davian menolaknya. Ia berdalih jika ia bersedia membantu dari balik layar dan tidak mengambil posisi pemimpin. Biar saja ayah dan kakaknya saja yang memimpin. Seperti ayahnya, Davian hanya ingin hidup damai. Hidup damai bagi Davian adalah tidak ikut campur terlalu jauh dalam bisnis mereka.
Bagi Konan, Davian adalah sosok adik kecil yang harus dijaga dengan sepenuh hati. Meski mereka memiliki rentang usia yang tak begitu jauh, sikap Konan dan Davian seolah berkebalikan. Davian yang tenang dan cenderung kalem, Konan yang cenderung menggebu-gebu dan hampir selalu bertindak berlebihan. Seperti saat ini ... misalnya.
“Ya Tuhan! Adikku sudah dewasa ternyata!” pekik Konan sambil merangkul Davian dari belakang. Davian merasa risih, namun ia sama sekali tak bisa memprotes tindakan kakaknya itu atau sesuatu yang lebih buruk bisa terjadi.
“Tentu saja aku sudah dewasa, tidak sepertimu yang masih bertingkah kekanakan. Pantas saja sampai saat ini kau belum memiliki mate. Mate-mu pasti kabur lebih dulu melihat tingkahmu yang seperti ini.”
“Tentu tidak, Sayang. Mate-ku tak akan kabur begitu saja saat melihatku yang menawan ini lewat di depannya. Kau hanya beruntung menemukan mate-mu lebih awal dariku, Mengapa kau menanyakan tentang mate padaku yang jelas-jelas masih belum pernah bertemu ini, hm?”
“Beruntung katamu? Atau mungkin malah, sial?” tanya Davian.
Konan terdiam, mencoba mencerna maksud perkataan adiknya itu. Ia masih mengingat dengan jelas bahwa tak hanya sekali dua kali adiknya itu mengucapkan beberapa kata yang tidak ia mengerti.
“Tentu saja beruntung, Vian. Kau menemukan mate-mu di usia muda. Itu berarti ada banyak waktu untukmu bersamanya seperti ayah dan ibu kita. Hm, kau tidak berencana untuk me-reject[1]-nya, ‘kan?”
“Tentu saja tidak! Mana mau aku me-reject mate imut sepertinya. Upsss!” Davian langsung menutup mulutnya saat dirasanya telah mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya ia katakan.
“Oh, manisnya! Kau bahkan mau mengkui mate-mu imut. Sayang sekali aku tidak bisa bertemu dengannya. Nah, nah! Ayo kapan-kapan ajak aku untuk menemuinya. Aku ingin tahu bagaimana calon adik iparku. Seimut apa dia sampai adikku yang dingin ini mengakui keimutannya. Padahal, banyak teman akademiku yang ku kenalkan denganmu namun tidak kau lirik sama sekali. Huh, setia sekali.”
“Aku hanya ingin setia pada mate-ku. Tidak sepertimu!” sergah Davian. Ia tak terima jika kakaknya menyeretnya untuk memiliki sikap seperti kakaknya itu.
“Ey, ey. Aku setia pada mate-ku nanti kok.”
“Bukan setia namanya jika kau mengencani setiap pria bukan mate-mu yang mengajakmu kencan.” Konan terbahak. Ia pikir, adiknya ini lucu sekali.
Konan tahu jika mereka –para werewolf— hanya akan memiliki satu mate untuk seumur hidup. Apa salah ia yang ingin mencoba merasakan mengencani banyak pria? Toh, ia sama sekali tidak melibatkan urusan hati di dalamnya. Ia memang bertekad jika nanti ia bertemu mate-nya, ia akan berhenti berkencan dengan pria yang bukan mate-nya.
Secara penampilan fisik, Konan memiliki tubuh semampai yang begitu diidamkan para wanita bangsa manusia di luar sana. Tentu saja hal itu di dapat karena ia seorang werewolf dan sering melakukan latihan fisik. Berbeda dengan para manusia itu yang hanya rebahan memakan cemilan tanpa mau susah payah berolah raga dan menginginkan tubuh ideal sepertinya.
“Berhentilah, Kak! Sebelum mungkin kau akan melihat betapa kecewa mate-mu nanti. Berhenti juga memelukku karena masakanmu bisa membakar pondok kayu kita,” ujar Davian dengan tenang.
Konan membulatkan matanya. Ia sadar jika ia telah meninggalkan masakannya tadi karena begitu senang mendengar Davian yang menanyakan tentang mate padanya. Ia heran, padahal hidung mereka teramat sensitif akan bau. Akan tetapi mengapa mereka tidak sadar jika masakan telah berubah hingga habis dan memunculkan percik api di atas wajan itu? Seingat Konan, ia sedang menggoreng dengan wajan berisi minyak yang lumayan banyak dan menggunakan api yang tak terlalu besar.
Ah, sudahlah. Mereka pasti terlalu asyik mengobrol hingga lupa waktu dan tidak menghiraukan adanya bau tak sedap akibat masakan itu.
Akan tetapi sebenarnya, Davian sudah menyadarinya. Ia hanya tidak mau repot-repot mengingatkan kakaknya yang terlalu larut dalam euphoria tentang mate-nya. Dan ketika Konan tengah sibuk dengan kekacauan dapurnya, Davian duduk tenang sambil menyesap secangkir teh yang ia buat tadi.
Sungguh adik yang ... entahlah. Lagi pula Davian ingin menikmati tehnya sambil memikirkan banyak hal. Tentang mate-nya, status dan juga ia yang seorang rogue. Masa bodoh dengan kakaknya yang sibuk memasak, yang penting ia duduk tenang dan kakaknya tidak lagi merusuh padanya seperti tadi.
Dasar adik yang menyebalkan.
[1] Reject : Menolak