Davian masih menyesap teh di cangkirnya. Pandangannya menatap tumpukan kue kering yang tertata di atas meja namun pikirannya sama sekali tak berada di sana. Ia memikirkan tentang pertemuannya dengan Lunar saat itu, dan ia tahu, kisah hubungannya tak akan semulus kisah kedua orang tuanya.
Akan lebih baik jika mate-nya adalah seorang rogue juga sama sepertinya. Akan lebih mudah juga baginya jika ia tergabung dalam suatu pack. Ia yakin, jika Lunar memikirkannya juga. Shewolf itu tergabung dalam sebuah pack, itu berarti ada banyak hal yang harus dipertimbangkan.
Mungkin memang sudah jalan takdirnya yang seperti ini. Ia ingin berharap semuanya menjadi lebih mudah untuk ia jalani. Namun, apa daya. Ia tidak boleh mengeluh akan takdirnya atau semua sama saja. Terbersit di ingatannya akan manusia yang berkata jika kita tak akan diberikan takdir yang tak sanggup kita jalani. Ia tak akan pernah untuk menyesalinya karena ia yakin jika ia pasti sanggup.
Ia ingat saat pertama kali ia bertemu dengan Lunar. Mate yang terlihat menawan di matanya bahkan saat shewolf itu tengah dalam kondisi yang buruk. Keadaannya berantakan, dan tubuhnya telah banyak ternoda darah rekan rogue-nya.
Davian tersenyum kecil mengingatnya. Mengapa ia harus bertemu dengan mate-nya di saat ia menjadi peran buruk seperti itu? Ia menjadi rekan seorang rogue yang bertugas menyusup ke pack Lunar untuk mencari beberapa informasi dari sana. Ia yang bertugas sebagai penghilang jejak dan pengintai harus rela terluka akibat bertarung dengan rekannya sendiri. Ia yakin, setelah ini pasti pack Lunar akan meningkatkan kewaspadaannya.
Tentu saja. Mana ada Alpha pack yang masih tetap biasa saja saat mendapati wilayah pack-nya dimasuki diam-diam dan tanpa jejak yang berarti? Sang alpha pasti akan melakukan banyak hal untuk mempertahankan wilayahnya.
Akan tetapi, setelah beberapa hari mengintai di tempat yang sama dan sempat mengelilingi batas wilayahnya, davian menemukan suatu celah untuk keamanan pack itu. Meski Davian seorang omega yang lemah, ia memiliki otak yang mumpuni. Ia pandai mengatur strategi dan mencari celah dari beberapa pertahanan. Tak jarang, Davian menjadi bagian pengatur strategi. Tentu saja hal itu ia lakukan diam-diam tanpa sepengetahuan ayahnya. Karena jika ayahnya mengetahui hal ini, ayahnya pasti akan merasa kecewa kepadanya.
Selama Davian bekerja secara diam-diam, ayahnya pasti sedang berada di luar wilayah. Kebanyakan wilayah yang ayah Davian kunjungi adalah wilayah netral yang tengah membutuhkan bantuannya untuk menengahi konflik. Sepertinya, Davian banyak menuruni sifat ayahnya meski tidak dengan statusnya juga. Sebaliknya, sikap kakaknya banyak mengambil sikap ibunya yang bergerak lebih agresif namun dengan status yang seperti ayahnya.
Jujur saja, di hati kecil Davian ada sebuah sifat yang ingin bebas dan tak ingin dikekang. Ia tak ingin ayahnya berharap terlalu banyak dan menaruh kepercayaan yang terlalu tinggi padanya. Ia ingin bergerak sesuai hati yang menuntunnya hingga tak jarang ia menerima tawaran beberapa werewolf untuk mencari beberapa informasi. Bisa dikatakan Davian itu merupakan intel jika di bangsa manusia.
Kebanyakan dari mereka adalah para rogue yang ingin mengetahui beberapa informasi tentang pack tertentu. Seperti beberapa waktu lalu. Ia membuatkan jalan untuk temannya, dan Davian mengawasi pergerakan. Tak ia sangka temannya menyerang dua werewolf yang tak berubah dan tetap mempertahankan bentuk manusia mereka. Ia tak bisa mengenali status mereka karena mereka tidak menggunakan bentuk wolf mereka.
Hingga Davian merasakan hal itu, bahwa salah satu yang diserang teman Davian itu adalah mate-nya, Davian tidak bisa tinggal diam. Ia langsung berubah ke bentuk wolf-nya dan berusaha menghentikan serangan itu. Saat itu, di depan matanya ia bisa melihat jika mate-nya tak sadarkan diri. Mate-nya sekarat, dan ia tak sanggup berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menahan diri agar semuanya tidak menjadi kacau.
“Apa kau masih memikirkan tentang mate-mu?” tanya Konan. Shewolf itu sudah menyelesaikan pekerjaan dapurnya yang sempat kacau karena ulah tak langsung dari adiknya.
Davian mendongak, ia sedikit terkejut karena lamunannya dihentikan oleh kakaknya. Jujur saja, ia sempat merasa jengkel karena hal itu.
“Ya. Lalu kau menghancurkan lamunanku tentangnya, Kak!” balas Davian. Terselip nada jengkel di sana. Konan maklum akan hal itu. Ia hapal bahwa Davian sangat tidak suka jika lamunannya diganggu.
“Maaf, setidaknya berhentilah sejenak. Aku sudah menyiapkan makanan untuk kita. Jadi ayo! Nikmati sebelum dingin.”
Davian mengangguk dan mengikuti ajakan Konan. Ia lantas menyingkirkan cangkir tehnya yang telah tersisa sedikit beserta piring kue yang telah kosong ke wadah pencucian. Setelahnya, ia membantu Konan menyiapkan makan malam mereka yang hampir terlambat karena sikap Konan yang berlebihan tadi. Tak banyak yang Konan masak, karena bagi mereka berdua, sedikit makanan akan cukup untuk makan malam.
Jika sedang bertubuh manusia seperti ini, mereka akan memilih makanan yang telah diolah seperti para manusia mengolah makanannya. Mereka juga akan memakan daging mentah seperti para serigala saat mereka sedang bertubuh serigala dan melakukan perburuan. Tak terlalu sering untuk mereka melakukan hal itu. Mereka hanya melakukan perburuan sesekali saja. Terlalu lama berbaur dan hidup di wilayah manusia membuat mereka lebih banyak bertingkah seperti manusia.
Seperti saat ini, misalnya. Davian dan kakaknya menempati pondok kayu di pinggiran hutan yang didesain seperti hunian para manusia. Di dalamnya terdapat perabot yang lengkap dan modern. Seperti peralatan dapur, tidur, komunikasi dan juga beberapa peralatan rumah tangga yang menggunakan tenaga listrik atau diesel. Padahal, kakek mereka lebih akrab dengan alam dan lebih rela tidur di dalam goa dari pada rumah.
Mereka sengaja menempati rumah itu untuk menyamankan diri mereka dari hiruk pikuk dan keramaian kota netral saat kedua orangtua mereka sedang berada di tempat yang jauh. Barulah saat kedua orangtua mereka pulang, mereka akan meninggalkan pondok itu dan tinggal di hunian mereka yang ada di tengah kota.
Hening melingkupi acara makan malam mereka karena bagi mereka berdua, sangat tidak nyaman berbicara saat sedang menikmati hidangan. Mereka akan melanjutkan obrolan ketika makanan mereka telah habis. Seperti saat ini. Namun, entah mengapa, keduanya masih senang berdiam. Alat makan masih berada di tempatnya dengan isi yang telah kandas.
“Ehm.”
Sebuah deheman dari Konan membuat Davian yang semula menundukkan pandangannya, kini mendongak.
“Jadi, kau sudah menemukan jawaban atas masalahmu?” tanya Konan.
“Masalah apa?”
“Oh, ayolah adikku yang manis. Aku sudah mengamati gelagatmu sedari tadi dan aku hapal dengan baik jika kau pasti memikirkan sebuah masalah. Mendengar pertanyaanmu tadi, aku menebak jika masalah itu berhubungan dengan mate-mu.” lanjut Konan. Memang benar, tebakan Konan untuk Davian itu tidak salah sama sekali. Bagi Davian, hanya Konanlah satu-satunya yang bisa mengetahui masalahnya tanpa bertanya langsung padanya.
“Jika kau sudah tahu, mengapa masih menanyakannya?” sarkas Davian.
“Ow, ow. Adik kecil. Sabar, aku hanya ingin memastikannya dari mulutmu langsung dan mendapat detail tentang itu. Jadi jawab saja, ok?” Konan menaik-turunkan alisnya dan menatapnya dengan pandangan jahil. Davian mendengus. Jika sudah begini, ia bisa apa melawan kakaknya yang sedang bersikap manis seperti itu?
“Aku akan langsung ke intinya, Kak. Mate-ku berada di dalam pack-“
“Aku sama sekali tidak melihat masalah dalam hal ini.”
“Aku belum menyelesaikan omonganku! Diam dan dengarkan dulu!” bentak Davian.
Konan beringsut. Ia mengerti jika kini adiknya tengah membutuhkan waktu untuk bicara, “Ok, lanjutkan saja ya, adik kecilku,” ucapnya.
“Saat aku bersama Jovan, si rogue beta, saat itulah aku bertemu dengannya. Aku yang datang terlambat itu sudah menemukannya terluka parah akibat serangan Jovan dan ia sama sekali tidak berubah ke dalam bentuk serigalanya. Kami menyelinap masuk ke dalam pack-nya, mengacaukan pelindung perbatasan wilayahnya, melukai dua anggota pack mereka, dan sialnya aku menjadi mate salah satu dari mereka. Alpha-nya pasti tidak akan diam jika aku mengakui dengan gamblang bahwa mate-ku adalah salah satu anggota pack-nya." jelas Davian.
Celaka!
Konan benar-benar merasa syok akibat pengakuan dari Davian. Jika saja mereka bertemu dalam keadaan yang baik, tentu adiknya tidak akan memiliki masalah yang rumit. Mengacau di perbatasan wilayah adalah hal yang sensitive bagi para alpha, apalagi oleh werewolf dengan status rogue seperti mereka. Biasanya, alpha bisa menghukum mereka dengan mengurung di dalam sel hingga mereka meregang nyawa atau membunuhnya secara langsung jika itu perlu. Lalu adiknya ini, sudah mengacau di perbatasan, berstatus rogue, menyerang warga pack pula. Konan berharap ada yang mau dengan sukarela memukul kepalanya hingga pingsan dan berharap ingatannya tentang cerita adiknya hilang begitu ia sadar. Bolehkah?