Minggu keempat dimulai dengan pesan dari kantor Layanan Siap Bantu. Aya mengirim salinan hitungan akhir tugas Gama dan bertanya apakah Giana siap meninjau bersama mereka. Angka-angkanya sama dengan lembar sebelumnya, termasuk satu jam tambahan yang sempat tertinggal. Giana membalas bahwa ia akan datang siang nanti.
Ia sudah memutuskan untuk bicara dengan Gama, tetapi hanya tentang hal yang dapat ia ceritakan. Ia tidak akan meminta Gama menjawab pertanyaan yang belum diketahui siapa pun, apalagi menerima permintaan maaf sebagai pengganti jawaban. Saat sampai di kantor, ia meminta Farel mengatur pertemuan singkat di ruang rapat dan mengirim undangan kepada Gama melalui surel resmi.
"Kamu yakin ingin bertemu langsung?" Aya bertanya.
"Aku tak mau dia tahu dari orang lain atau membaca dugaan di antara angka tagihan. Aku akan memberitahu bagian yang menyangkut keluarganya. Selebihnya, aku belum siap."
Farel menawarkan diri menjadi saksi, namun Giana memilih agar Aya duduk di dekatnya. Ia ingin pertemuan itu berlangsung di kantor tempat kontrak dibuat, bukan di rumah sakit atau rumah keluarga Pradipta. Mereka menyepakati waktu empat puluh menit dan tidak akan membicarakan Dea, pertunangan, atau penyelidikan bisnis kecuali Gama sendiri mengaitkannya.
Gama datang tepat waktu. Ia membawa map pembayaran dan tidak menyebut Giana sebagai Putri. "Terima kasih sudah bersedia bertemu. Aku membaca pemberitahuan penghentian. Aku ingin memahami apa yang perlu diselesaikan dan memastikan aku tidak meminta kamu melanjutkan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman."
Giana menjelaskan bahwa ia telah bertemu Aninta, dokter yang merawat Gufta setelah kecelakaan orang tuanya. Dari percakapan itu, ia mengetahui Geraldi mengemudikan mobil lain yang terlibat. Gama tidak menyela, tetapi jari-jarinya mencengkeram map.
"Kamu tahu tentang kecelakaan itu sejak awal?" tanyanya pelan.
"Tidak. Aku tidak tahu siapa Aninta sampai dia datang ke kantor. Aku juga tidak tahu bahwa ayahmu ada di kendaraan lain yang terlibat."
Gama menarik napas panjang. Ia menatap meja beberapa saat sebelum bertanya, "Apa dokter Aninta bilang ayahku menyebabkan kecelakaan?"
"Tidak. Dia tidak ada di lokasi. Dia hanya tahu ayahmu pengemudi mobil lain. Aninta bilang ada dugaan kerusakan rem, tapi itu bukan bukti siapa yang membuatnya. Aku belum melihat laporan resmi."
Gama mengangguk perlahan. Ia tidak berusaha membantah atau menambal cerita. "Aku tidak tahu kamu pernah kehilangan orang tua karena kecelakaan yang sama. Aku minta maaf karena namanya dipakai dalam kontrak tanpa aku memastikan dengan dia. Tapi aku tahu kata maaf dariku tidak mengubah apa yang terjadi."
"Aku belum tahu apa yang harus kulakukan dengan informasi itu," jawab Giana. "Aku hanya ingin kamu tahu kenapa aku berhenti. Aku tidak bisa memainkan peran sebagai kakakmu setelah mengenali dokter yang menyelamatkan adikku."
Gama menerima batas itu. Ia berkata ia akan menghentikan seluruh permintaan lanjutan dan tidak meminta Giana kembali ke acara apa pun. Ia juga bersedia meninjau pembayaran berdasarkan pekerjaan nyata, tanpa tambahan yang ia sebut sebagai bentuk penyesalan.
"Aku tidak mau uang belas kasihan," kata Giana.
"Aku tidak akan menawarkannya. Kita cocokkan saja kontraknya."
Mereka beralih ke lembar rincian. Aya membacakan jam kerja dan biaya perjalanan, sementara Gama mencocokkan setiap item. Tidak ada yang mencoba memperpanjang percakapan dengan menambah agenda. Saat empat puluh menit hampir habis, Giana mengatakan ada satu hal lagi yang ingin ia sampaikan: ia belum siap bertemu Diandra atau meminta penjelasan langsung.
Gama mengangguk. "Aku tidak akan mengatur pertemuan itu. Kalau suatu saat kamu ingin bicara dengannya, kamu yang menentukan."
Pertemuan berakhir tanpa kesepakatan emosional atau janji memaafkan. Namun, untuk pertama kalinya sejak kontrak dimulai, Gama dan Giana berbicara sebagai dua orang yang tidak sedang memainkan hubungan keluarga.
Sebelum mengirim undangan, Giana menuliskan tiga batas di halaman kosong: tidak ada rekaman, tidak ada tuntutan jawaban, dan ia dapat menghentikan pembicaraan kapan saja. Aya membacanya lalu bertanya apakah Giana ingin menambahkan batas waktu. Giana memilih empat puluh menit, cukup untuk menyampaikan inti tanpa menjadikan pertemuan itu sesi panjang yang menguras tenaga. Ia tidak menyusun kalimat untuk membuat Gama merasa bersalah. Ia hanya ingin menghindari kejutan berikutnya.
Saat Gama masuk, ia berhenti di depan kursi yang biasa ditempati Giana ketika berpura-pura menjadi Putri. Tidak ada kartu nama keluarga di meja, hanya map kontrak dan dua gelas air. Giana melihat ia menyadari perbedaan itu.
"Aku tidak tahu harus mulai dari mana," kata Gama.
"Mulai dari mendengar. Aku akan bilang sejauh yang aku bisa, lalu kamu boleh bertanya satu atau dua hal. Kalau aku tidak tahu, aku akan bilang tidak tahu."
Gama menyetujui. Ia bertanya apakah Aninta menyampaikan kabar ini atas inisiatifnya sendiri. Giana menjelaskan bahwa Aninta datang untuk mengetahui mengapa namanya dipakai. Percakapan mereka kemudian mengungkap hubungan dengan kecelakaan. Giana tak menyalahkan Aninta karena menghubunginya; ia meminta agar pertemuan lanjutan tidak diatur oleh keluarga Gama.
"Aku bahkan tidak tahu kamu pernah kehilangan orang tua," ujar Gama.
"Kita mengenal satu sama lain lewat pekerjaan. Kamu tidak wajib tahu seluruh hidupku. Tapi setelah aku tahu ayahmu ada dalam kecelakaan itu, aku tidak bisa diam seolah kontrak ini sama seperti pesanan biasa."
Gama menunduk. "Kamu benar. Aku juga tidak seharusnya berasumsi bahwa kamu akan nyaman melanjutkan hanya karena pembayaran sudah berjalan."
Ia tidak meminta Giana menyebutkan nama orang tuanya atau menjelaskan kondisi Gufta setelah kecelakaan. Giana justru menghargai bahwa ia tidak menuntut cerita demi memuaskan rasa ingin tahu. Ketika Gama bertanya apakah dirinya perlu menghubungi Aninta, Giana menjawab bahwa itu urusan mereka sebagai saudara, tetapi ia tidak ingin menjadi alasan untuk memaksa Aninta membuka hal yang bukan miliknya.
Aya tetap diam sampai Giana sendiri meminta jeda. Ia menuangkan air dan memberi waktu beberapa menit tanpa mengalihkan percakapan. Setelah itu Giana menyelesaikan bagian tentang penghentian kontrak. Ia ingin semua keputusan praktis dibereskan terpisah dari emosi, supaya tidak ada yang kelak merasa telah membeli persetujuannya.