Kemarahan tidak datang seketika. Ia mengendap dulu, beberapa hari, seperti air bah yang berkumpul di hulu sebelum turun. Pada hari penutupan, desa terdiam oleh keheningan tambang. Tapi keheningan itu, ketika dapur-dapur mulai benar-benar dingin dan tak ada upah yang datang di akhir minggu, berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih panas.
Gelombangnya pecah pada minggu kedua. Warung-warung di dusun penambang gulung tikar satu per satu—Bu Painem menutup warungnya karena tak ada lagi pekerja yang jajan, lalu warung Pak Karto, lalu yang lain. Cicilan motor menunggak; satu per satu motor diambil leasing, dan setiap motor yang diangkut adalah luka baru yang punya alamat. Beberapa keluarga mulai bicara soal merantau, menjual apa yang bisa dijual. Dan di setiap warung kopi yang masih buka, di setiap pos ronda, di setiap sudut, satu nama disebut sebagai sebab dari semua ini: Pram.
Kades yang menutup dapur kami. Kades yang lebih sayang ikan daripada manusia. Kades yang mengeruk popularitas dari koran sambil membiarkan tetangganya kelaparan.
Pram tidak menghindar. Itu yang ia putuskan sejak awal—ia tidak akan bersembunyi di kantor desa di balik perangkat dan stempel. Ia berjalan kaki melewati dusun-dusun penambang setiap hari, menampakkan diri, dan ia menanggung tatapan benci itu dengan punggung tegak walau dadanya hancur. Ada yang meludah ke tanah saat ia lewat. Ada yang membuang muka. Seorang ibu, sambil menggendong anaknya, berkata cukup keras agar ia dengar, "Itu dia. Yang bikin bapakmu nganggur, Nak. Lihat baik-baik mukanya." Dan anak kecil itu menatap Pram dengan mata polos yang membuat Pram nyaris berlutut di tengah jalan.
Ini, ia tahu, adalah harga yang ia takutkan sejak detik pertama. Membela desa berarti melukai tetangga. Ia telah mengucapkannya berkali-kali sebagai sebuah konsep, sebuah dilema yang ia hadapi dengan gagah dalam pidato. Sekarang konsep itu punya wajah, punya nama, punya suara anak kecil yang menatapnya seperti menatap orang jahat dalam dongeng.
Dan ke dalam luka yang menganga itulah Pak Har melangkah.
Lelaki itu, yang pada hari penutupan tampak kalah dan keras, kini bangkit kembali dengan energi yang tak Pram duga. Ia tidak lagi tampil sebagai petahana yang kalah; ia tampil sebagai pelindung rakyat kecil yang dizalimi. Ia membagikan beras pada keluarga-keluarga yang terdampak, sembako, sedikit uang—dari mana, Pram tak tahu, mungkin sisa dari Pak Sigit, mungkin tabungannya sendiri, tapi itu tak penting. Yang penting adalah pesannya: lihat, akulah yang masih memberi makan kalian, sementara kades kalian sibuk dengan sungainya.
Popularitas Pak Har melonjak dari reruntuhan yang Pram ciptakan. Dan inilah yang paling pahit: penderitaan yang dimanfaatkan Pak Har itu nyata, dan Pram sendiri penyebabnya.
Puncaknya datang ketika kabar sampai ke kantor desa—dibawa Topik dengan wajah pucat—bahwa kubu Pak Har sedang menggalang dukungan untuk sebuah mosi. Sebuah pernyataan resmi bahwa warga tidak lagi percaya pada kepemimpinan Pram, bahwa kades ini telah gagal, bahwa ia harus dimintai pertanggungjawaban di musyawarah desa. Tanda tangan sedang dikumpulkan, rumah ke rumah, dengan beras dan janji.
"Mereka mau jatuhin Bapak, Pik," kata Topik, suaranya gemetar antara marah dan takut. "Pakai penderitaan yang... yang sebagian memang dari kita. Ini ndak adil, Pak. Kita menang. Kita tutup tambangnya. Sungai bakal pulih. Dan mereka mau jatuhin Bapak gara-gara itu?"
Pram duduk di kursi kerjanya, kursi yang dulu milik Pak Har, dan untuk waktu yang lama ia tidak menjawab. Ia menatap ke luar jendela, ke arah desa yang ia menangkan dan yang sekarang membencinya. Inilah titik terendah yang pernah ia capai sejak pulang ke Kedungwaru—lebih rendah dari fitnah di warung kopi, lebih rendah dari selisih tujuh belas suara yang nyaris hilang dalam sengketa, lebih rendah dari malam serangan fajar. Ia telah memenangkan segalanya yang ia perjuangkan, dan justru di puncak kemenangan itu, ia berdiri di ambang kehilangan desa yang ia selamatkan.
Premis hidupnya, yang dulu hanya kalimat yang ia ucapkan dengan gagah, kini terwujud sepenuhnya dan menyiksanya dengan beratnya yang sebenarnya: kemenangan terasa persis seperti pengkhianatan. Ia menang melawan tambang, tapi nyaris kehilangan tetangganya. Ia menyelamatkan sungai, tapi tetangga yang dulu mengantarnya ke kotak suara kini ingin menurunkannya.
"Kamu tahu yang paling pahit, Pik?" kata Pram akhirnya, suaranya pelan. "Mereka ndak sepenuhnya salah. Aku memang bikin dapur mereka dingin. Itu bukan fitnah. Itu nyata." Ia berdiri dan menatap timnya. "Jadi aku ndak akan bela diri pakai pidato. Pidato ndak bisa dimakan. Lik Wage benar soal itu."
Ia berjalan ke jendela dan menatap desanya yang marah. "Kalau mereka mau musyawarah, kita datang. Tapi aku ndak akan datang minta belas kasihan, dan aku ndak akan datang bilang aku pahlawan." Ia berbalik, dan untuk pertama kali sejak gelombang kemarahan itu pecah, ada sesuatu yang keras dan jernih kembali di matanya—bukan kemenangan, melainkan ketetapan hati seorang lelaki yang sudah tak punya apa-apa lagi untuk hilang kecuali alasannya bertarung. "Aku akan datang bawa rencana. Tambak, jembatan yang bakal diperbaiki, bantuan yang aku kejar berbulan-bulan. Aku akan minta satu hal saja ke mereka, Pik. Bukan maaf. Bukan terima kasih. Cuma waktu. Aku akan minta mereka kasih aku waktu untuk buktiin bahwa kesunyian ini ndak sia-sia." Ia menarik napas. "Dan kalau mereka tetap mau jatuhin aku sesudah itu—biar. Tapi aku ndak akan jatuh tanpa nunjukin bahwa di balik dapur yang dingin ini, aku lagi nyalain api yang baru. Sekecil apa pun apinya."
Di luar, Kedungwaru murka dan lapar dan terbelah, dan di hulu, jauh dari kemarahan itu, sungai yang baru saja berhenti dilukai mengalir pelan dalam keheningannya—tak peduli, tak tergesa, mulai pulih satu tetes demi satu tetes, suara paling lirih yang menolak diam di tengah desa yang masih belum tahu apakah ia telah diselamatkan atau dikhianati.