Yatno hampir putus sekolah. Itu kenyataan yang menggantung sejak tambang ditutup dan upah harian yang membayar SMK-nya lenyap. Pemuda itu sudah merelakannya dalam hati — ia bekerja di proyek jembatan dan koperasi, ikut menanggung dapur ibunya, dan sekolah terasa seperti kemewahan yang tak lagi pantas ia impikan. Ketika Pram bertanya tentang sekolahnya suatu hari, Yatno hanya mengangkat bahu. "Sudah, Pik. Tinggal sedikit lagi sih sebenernya, tinggal setahun. Tapi ya... nggak apa-apa. Kerja juga belajar."
Tapi Pram tak bisa membiarkannya. Bukan hanya karena Yatno anak Mbok Surti, perempuan yang paling ia lukai; melainkan karena Pram melihat dalam diri pemuda itu persis apa yang dulu jadi modal ayahnya dan yang ia sendiri yakini sejak jadi pelatih — bahwa anak muda yang diberi kesempatan dan kepercayaan bisa tumbuh jauh melampaui dugaan. Yatno cerdas, rajin, dan jujur. Membiarkannya putus sekolah hanya karena keluarganya korban kebijakan Pram terasa seperti dosa di atas dosa.
Masalahnya, kas desa tak punya pos untuk membiayai sekolah satu anak. Pram tahu ia tak bisa, dan tak boleh, memakai dana publik untuk satu orang — itu persis jenis penyelewengan yang kubu Pak Har tunggu-tunggu untuk dijadikan amunisi. Maka ia mencari jalan lain. Bersama Topik dan pengurus koperasi, ia merintis sesuatu yang baru: beasiswa desa, dana kecil yang disisihkan dari sebagian keuntungan koperasi, dikelola transparan, terbuka untuk anak-anak desa yang terancam putus sekolah karena dampak penutupan tambang. Bukan sedekah dari Pram, melainkan program desa yang sah, yang aturannya disusun bersama dan tercatat di pembukuan terbuka.
Yatno menjadi penerima pertamanya — bukan karena pilih kasih, melainkan karena ia memang masuk kriteria, dan musyawarah pengurus koperasi menyetujuinya secara terbuka. Pram sengaja memastikan keputusan itu lewat mekanisme, bukan lewat tangannya sendiri, agar tak ada yang bisa menuduhnya menebus rasa bersalah pribadi dengan uang bersama.
Ketika Yatno tahu ia bisa melanjutkan SMK-nya, pemuda itu datang ke kantor desa, dan untuk beberapa saat ia hanya berdiri di ambang pintu, tak tahu harus berkata apa. "Saya... beneran bisa lanjut, Pik?" tanyanya, suaranya hampir tak terdengar.
"Bisa," kata Pram. "Tapi ini bukan dari saya, Yat. Ini dari koperasi, dari kerja kalian semua di tambak. Kamu lanjut sekolah karena desa ini mutusin anak-anaknya harus tetap sekolah. Jadi nggak usah berterima kasih ke saya. Belajar yang bener, terus balik bantu desa. Itu cara bayarnya."
Yatno mengangguk, matanya berkaca-kaca, lalu cepat-cepat pamit sebelum air matanya jatuh — gengsi anak muda yang membuat Pram tersenyum kecil setelah ia pergi.
Tapi peristiwa yang paling membekas terjadi beberapa hari kemudian. Pram sedang di kantor desa ketika carik memberitahu ada tamu. Ia keluar, dan di teras balai desa berdiri Mbok Surti, membawa sebuah bungkusan daun pisang.
Pram menegang. Sejak penutupan tambang, hubungan mereka hanya cair seujung jari — satu kalimat di proyek jembatan tentang Yatno yang batuknya berkurang, beberapa anggukan saat berpapasan. Tak lebih. Pram tak pernah berani berharap lebih.
Mbok Surti menyerahkan bungkusan itu tanpa banyak kata. "Tempe," katanya singkat. "Buatan sendiri. Kebanyakan kemarin bikinnya."
Pram menerimanya, dan tangannya hampir gemetar. Karena ia ingat — bertahun-tahun lalu, sebelum ia merantau, Mbok Surti dulu sering mengantar tempe buatannya ke rumah, untuk ibu Pram, ketika dua perempuan itu masih bertetangga akrab sebelum tambang membelah desa. Tempe itu bukan sekadar makanan. Itu isyarat yang hanya dimengerti orang yang tumbuh di desa yang saling kenal: sebuah jembatan kecil yang dilemparkan kembali, sebuah kalimat yang tak terucap tapi jelas — kita tetangga lagi.
Pram menelan sesuatu di tenggorokannya. "Matur nuwun, Mbok," katanya, suaranya tercekat.
Mbok Surti tidak meminta maaf atas bulan-bulan ia membenci Pram, dan Pram tidak meminta maaf atas dapur yang ia dinginkan. Tak ada pengakuan, tak ada air mata, tak ada pelukan. Karena di Kedungwaru, perdamaian tidak datang lewat kata-kata besar. Ia datang lewat tempe yang dibungkus daun pisang, diantar oleh perempuan tua yang anaknya bisa kembali bersekolah lewat jalan yang lain — bukan jalan tambang yang dulu, melainkan jalan yang lebih panjang dan lebih sehat.
"Yatno cerita," kata Mbok Surti akhirnya, memandang ke arah sungai yang terlihat samar dari teras. "Katanya bisa sekolah lagi. Lewat koperasi." Ia diam sebentar. "Dulu saya pikir, sekolah anak saya cuma bisa dari tikungan itu. Ternyata ada jalan lain ya, Le." Ia menatap Pram, dan untuk pertama kali sejak penutupan, ada sesuatu yang melunak sepenuhnya di matanya — bukan lagi maaf yang setengah hati, melainkan pengakuan yang utuh. "Bapakmu dulu bener. Saya yang dulu nggak mau dengar. Maaf ya, Le."
Kata maaf itu — dari perempuan yang dulu memintanya tak ribut soal tambang karena tikungan itu yang menyekolahkan anaknya, perempuan yang dulu memilih sungai di atas upah saat bersaksi, perempuan yang lalu membencinya saat dapurnya dingin — kata maaf itu meruntuhkan sesuatu di dalam dada Pram yang sudah ia kunci rapat berbulan-bulan. Ia ingin berkata banyak, tapi tak ada yang keluar. Ia hanya mengangguk, dan membiarkan air matanya turun tanpa malu, di teras balai desa, memegang sebungkus tempe buatan tetangganya.
Satu wajah dari korban kebijakannya, perlahan, telah pulih. Pram tahu tidak semua akan pulih seperti ini — Pak Warno yang pergi membawa kebencian adalah pengingat abadi akan itu. Tapi sebagian pulih, dan sebagian sudah cukup untuk membuatnya percaya bahwa jalan ini, sepahit apa pun, bukan jalan yang sia-sia.