Jembatan itu selesai pada akhir musim kemarau, dan ketika perancah terakhir dilepas, Pram berdiri sendirian di tepi sungai pada subuh hari, menatapnya sebelum siapa pun datang. Kokoh, kelabu, masih berbau semen baru. Pilar-pilarnya menancap dalam ke dasar sungai yang tak lagi digerus, kuat menahan beban yang dulu nyaris meruntuhkan pendahulunya. Di bawahnya, air mengalir lebih jernih dari belasan tahun terakhir, dan dalam keremangan subuh Pram bisa melihat riak-riak kecil di permukaan — ikan, mungkin, yang naik mencari makan di pagi buta.
Peresmiannya digelar siang itu. Camat datang, beberapa pejabat dinas kabupaten datang, jurnalis Anggraini yang dulu menyorot kasus Kedungwaru datang membawa kamera, dan warga berkumpul memenuhi kedua ujung jembatan. Ada spanduk sederhana, ada pita merah yang akan digunting, ada sound system yang dipinjam dari masjid. Suasananya meriah, tapi Pram bisa membaca, di balik kemeriahan itu, keberagaman perasaan yang sebenarnya ada di antara warganya.
Sebagian bangga — terutama keluarga nelayan dan hilir yang dulu mengantarnya ke kotak suara, yang sungainya kini pulih dan jembatannya kini aman. Sebagian masih getir — eks-penambang yang dapurnya pernah dingin, yang sebagian baru mulai pulih lewat proyek dan koperasi, yang hadir bukan karena suka tapi karena ini desa mereka juga. Dan sebagian, Pram tahu, hadir hanya untuk makan-makannya, untuk nasi kotak gratis, dengan acuh tak acuh pada siapa yang berdiri di mimbar. Ini Kedungwaru yang sesungguhnya — bukan desa yang seragam dalam syukur, melainkan desa yang terbelah, melukai, dan perlahan menyembuhkan dirinya sendiri, semua sekaligus.
Camat berpidato panjang tentang pembangunan, tentang sinergi, tentang masa depan. Pejabat dinas berpidato tentang program dan anggaran. Lalu giliran Pram, dan ketua panitia mempersilakannya dengan menyebut gelar dan jasanya yang berlebihan, membuat Pram tak nyaman.
Pram berdiri di depan mikrofon, memandang kerumunan, dan untuk beberapa saat ia tak berkata apa-apa. Ia sudah memutuskan tak akan berpidato besar. Bukan karena rendah hati semata, melainkan karena ia tahu pidato besar akan terdengar palsu di telinga orang-orang yang dapurnya pernah ia matikan. Maka ia hanya bicara pendek, dengan suara biasa.
"Dulu, di musyawarah pertama saya nyalon," kata Pram, "saya tanya satu hal ke warga. Saya tanya: kalau jembatan ini ambruk, truk siapa yang bakal lewat menggendong anak kita ke rumah sakit?" Ia berhenti, dan beberapa kepala yang lebih tua mengangguk, mengingat. "Waktu itu sebagian dari kalian ngira saya nakut-nakutin. Saya cuma anak rantau yang sok tahu, yang mau nutup dapur kalian demi sungai." Ia menatap jembatan baru di belakangnya. "Sekarang jembatannya ada. Kokoh. Kalau ada anak kita yang harus dibawa ke rumah sakit tengah malam, jembatan ini bakal nggendong dia nyeberang. Itu aja. Itu yang saya mau."
Ia tidak menyebut kemenangannya. Ia tidak menyebut tambang yang ia tutup, mosi yang ia lewati, lawan yang ia kalahkan. Ia tidak menyalahkan siapa pun, tidak memuji dirinya sendiri. Ia hanya menunjuk pada satu hal nyata — jembatan yang akan menggendong anak-anak desa menyeberang dengan aman — dan membiarkan benda itu bicara lebih keras daripada kata-kata mana pun.
"Saya tahu nggak semua dari kalian senang sama saya," tambahnya, lebih pelan, dan ruangan menjadi hening. "Saya tahu sebagian dari kalian masih ngerasa saya yang bikin susah. Saya nggak akan ngomong itu salah. Tapi saya minta satu hal: tiap kali kalian nyeberang jembatan ini, inget bahwa ini dibangun sama tangan-tangan kalian sendiri. Eks-penambang yang sekarang kerja proyek. Itu bukan jembatan saya. Itu jembatan kalian."
Pita digunting. Tepuk tangan pecah — sebagian tulus, sebagian sopan. Camat dan rombongan berjalan menyeberang jembatan pertama kali untuk foto, dan warga menyusul, sebagian dengan riang, anak-anak berlari-lari di atas aspal baru yang masih hitam pekat. Pram berdiri di pinggir, membiarkan orang lain menjadi pusat perhatian, dan dari sudut matanya ia melihat sesuatu yang lebih berharga daripada seluruh seremoni: Mbok Surti menyeberang jembatan sambil menggandeng cucunya, dan Yatno, yang baru pulang dari sekolah dengan seragam SMK-nya, berdiri di ujung jembatan memandang hasil kerja tangannya sendiri dengan dada membusung bangga.
Anggraini, sang jurnalis, menghampiri Pram. "Pidato yang pendek, Pak Kades," katanya tersenyum. "Biasanya pejabat suka panjang-panjang pas peresmian."
"Jembatannya yang panjang, Mbak," jawab Pram. "Pidatonya cukup pendek aja."
Ketika senja turun dan kerumunan bubar, Pram tinggal sendirian lagi di tepi sungai, menatap jembatan yang kini sepi. Ia memikirkan harga yang dibayar untuk benda kelabu itu — sungai yang dikorbankan dulu, dapur yang dingin, Pak Warno yang pergi membawa kebencian, bulan-bulan ia dibenci, mosi yang nyaris menjatuhkannya. Jembatan ini bukan kemenangan murni. Ia adalah kemenangan kecil yang dibayar sangat mahal, dengan luka yang tak semuanya sembuh. Tapi ketika ia membayangkan, suatu malam di masa depan, seorang ibu menggendong anaknya yang demam menyeberang jembatan ini dengan aman, ia tahu — dengan kepastian yang dingin dan tenang — bahwa harga itu, sepahit apa pun, sepadan.