Ada pagi-pagi ketika Pram bangun dan mendapati separuh urusan desa sudah selesai sebelum ia sempat menyentuhnya. Surat keterangan tidak mampu untuk seorang janda di dusun nelayan—sudah ditandatangani, tinggal stempel. Daftar penerima bibit tambak putaran ketiga—sudah disusun, lengkap dengan catatan siapa yang putaran lalu rajin dan siapa yang malas. Laporan kas koperasi mingguan—sudah ditempel di papan, rapi, dengan tulisan tangan yang ia kenal: tulisan Topik.
Dulu, tulisan itu hanya muncul di kertas remi yang dicoret-coret menghitung taruhan di pos ronda. Pram masih ingat malam pertama ia mengajak pemuda itu masuk tim—Topik yang menyeringai sinis, yang bilang politik desa cuma sandiwara orang dewasa rebutan amplop, yang ikut bukan karena percaya melainkan karena bosan dan tak punya kerjaan lain. Kini pemuda yang sama duduk di kantor desa sebelum jam tujuh, memilah berkas, dan menegur warga yang datang minta dilayani dengan nada potong antrean.
"Pik," Pram memanggilnya suatu siang, "kamu yang putusin sendiri soal daftar bibit itu?"
Topik menengadah, sedikit waswas, mengira ditegur. "Iya. Salah ya? Aku kira—"
"Nggak. Bener. Malah lebih teliti dari yang aku bikin." Pram duduk di seberangnya. "Kamu masukin catatan rajin-malas. Itu ide bagus. Yang putaran lalu nggak ngurus kolamnya, jangan dikasih jatah penuh dulu. Adil. Aku nggak kepikiran."
Topik mencoba tidak tersenyum dan gagal. Pram melihat sesuatu di wajah pemuda itu yang dulu tidak ada: bukan kebanggaan kosong, tapi keseriusan orang yang tiba-tiba sadar pekerjaannya menentukan periuk orang lain.
Masalahnya, justru karena Topik makin cakap, Pram makin sering tergoda menumpukkan segalanya padanya. Dan suatu sore Topik datang dengan mata cekung dan tumpukan map setinggi dada.
"Pram," katanya, lebih lelah dari marah, "aku nggak bisa ngurus koperasi, administrasi desa, sama jadi penengah ribut anggota sekaligus. Kemarin aku salah catat upah dua orang, untung ketahuan. Lama-lama aku bakal bikin kesalahan yang nggak ketahuan."
Pram terdiam. Ia teringat dirinya sendiri bertahun lalu, melatih bocah-bocah di lapangan berdebu, mencoba menjaga seluruh tim dengan satu pasang mata, sampai ia sadar tak ada pelatih yang bisa main di semua posisi sekaligus. Kemenangan tim tak pernah karena satu orang berlari paling kencang. Selalu karena beban dibagi.
"Kamu bener," kata Pram. "Aku yang salah. Aku numpuk semua ke kamu karena kamu satu-satunya yang aku percaya. Tapi itu sama bodohnya kayak aku dulu masang satu pemain di semua lini." Ia menarik kertas, mulai membuat coretan. "Koperasi kamu pegang penuh, itu jadi punyamu. Administrasi desa kita cari orang. Penengah anggota—itu jangan kamu sendiri, itu mesti ada beberapa kepala."
Maka dimulailah pekerjaan yang lebih sunyi dari menutup tambang, tapi tak kalah penting: menumbuhkan orang. Pram menarik dua pemuda lain dari sisa tim sukses lamanya, mengajari mereka membaca surat dinas, membuat notula, melayani warga tanpa mengulurkan tangan minta uang rokok. Salah satunya gugup setengah mati hari pertama, salah menulis nama warga di surat, kena tegur. Tapi minggu berikutnya ia datang lebih cepat dari yang lain.
Apa yang Pram lihat perlahan-lahan adalah hal yang tak pernah ada di era Pak Har. Dulu, segalanya berputar di satu rumah besar; tak ada satu pun yang bisa dikerjakan tanpa restu satu orang. Kalau orang itu sakit, desa lumpuh. Kalau orang itu marah, desa takut. Pram pernah hampir mengulang kesalahan yang sama—menjadikan dirinya satu-satunya simpul, pahlawan tunggal yang tanpanya semua macet. Itu, ia sadar, bukan kekuatan. Itu kerapuhan yang menyamar jadi kekuasaan.
Suatu malam, di garasi rumahnya—tempat tim itu dulu pertama kali rapat dengan modal nekat dan kopi pahit—Pram melihat Topik memimpin rapat koperasi tanpa dirinya. Ia berdiri di luar, di gelap, tak masuk. Topik sedang menengahi dua anggota yang ribut soal jatah air kolam, suaranya tegas tapi tidak menggertak, persis cara Pram dulu menengahi pemain yang berebut bola.
"Sudah, sudah," Topik berkata. "Kolam itu bukan punya kamu, bukan punya dia. Punya koperasi. Yang dibagi adil bukan yang teriak paling keras."
Pram tersenyum di kegelapan. Kalimat itu bukan kalimatnya, tapi rohnya kalimatnya. Pemuda itu sudah menyerap sesuatu yang lebih dalam dari teknik mengurus map dan kuitansi.
Ketika rapat bubar dan Topik keluar, ia kaget melihat Pram berdiri di luar. "Lho, dari tadi di sini? Kenapa nggak masuk?"
"Nggak perlu," kata Pram. "Kamu udah bisa sendiri."
Topik tertegun. Lalu, dengan kecanggungan pemuda yang tidak terbiasa dipuji, ia mengalihkan pandangan ke arah sungai yang menggelap di kejauhan. "Dulu aku ikut kamu cuma karena nggak ada kerjaan, Pram. Iseng. Aku kira ini bakal seru sebentar terus bubar."
"Sekarang?"
Topik berpikir lama. "Sekarang aku nggak bisa ninggalin. Bukan karena kamu. Karena ada yang nungguin aku ngurus periuk mereka." Ia menggeleng, hampir tertawa pada dirinya sendiri. "Sialan kamu, Pram. Kamu bikin aku peduli."
Pram menepuk bahunya dan berjalan pulang melewati malam desa yang tenang. Ia tahu masa jabatannya akan habis suatu hari, dan ketika itu tiba, desa tak boleh kembali bergantung pada satu nama, satu rumah, satu suara paling bising. Yang ia tanam malam ini—pemuda yang dulu main kartu, kini berdiri menengahi tetangganya dengan adil—itu warisan yang lebih tahan lama daripada satu masa jabatan. Tim dari bangku cadangan dulu, perlahan, sedang menjadi tulang punggung desa.