Pram tidak sengaja melihatnya. Ia sedang berjalan kaki ke dusun hilir untuk urusan lain—mengecek pompa koperasi yang lagi-lagi rewel—ketika telinganya menangkap suara yang sudah belasan tahun absen dari Kedungwaru: tawa anak-anak bercampur kecipak air.
Ia berhenti di atas tanggul, menoleh ke arah sungai, dan untuk sesaat tak percaya pada matanya sendiri.
Di tikungan yang dulu menjadi jurang pasir—lubang menganga sedalam rumah, tepi yang longsor, air keruh cokelat yang mengalir lesu di antara tumpukan pasir setinggi atap—kini ada anak-anak. Lima, enam orang, celananya digulung sampai lutut, berlompatan di air dangkal yang jernih. Salah satu, bocah kurus berkulit gelap, mengangkat tangannya tinggi-tinggi, menjepit sesuatu yang berkelap-kelip di antara jari.
"Wader! Wader, Pak! Aku dapat wader!"
Pram turun dari tanggul perlahan, hati-hati seakan takut suaranya akan membuat pemandangan itu menguap. Ia berjongkok di tepi. Air mengalir bening di atas hamparan kerikil dan pasir halus, dan di antara kerikil itu ia bisa melihatnya sendiri: gerombolan ikan kecil keperakan, wader, melesat-lesat seperti kilat. Belasan tahun lamanya ikan-ikan ini hilang, tergerus mesin yang mengaduk dasar sungai jadi lumpur, ditelan air keruh yang membuat insang mereka tercekik.
Ia mencelupkan tangan ke air. Dingin. Bersih. Tidak ada lagi bau besi dan solar yang dulu selalu menempel di sungai ini.
"Pak Kades!" bocah berkulit gelap itu mengenalinya, lari mendekat dengan ikan masih terjepit. "Lihat! Banyak banget di sebelah sana. Tadinya nggak ada, terus tahu-tahu ada. Kata bapakku dulu sungai ini penuh ikan kayak gini."
"Iya," kata Pram, dan suaranya hampir tercekat. "Bapakmu bener. Dulu Pak Kades juga nyebur di sini, persis kayak kamu. Dapat wader, dibawa pulang, digoreng ibu. Gurih."
Bocah itu memandangnya dengan mata membesar, seakan tak bisa membayangkan orang dewasa berkemeja kades pernah jadi anak yang menyemplung ke sungai. "Pak Kades dulu nyebur juga?"
"Tiap hari. Sampai item kayak kamu."
Mereka tertawa bersama, dan bocah itu kembali berlari ke teman-temannya, meneriakkan kabar bahwa Pak Kades pun dulu pencari wader.
Pram tetap berjongkok di tepi, lama. Ia memandang ke seberang, ke titik di mana ekskavator dulu berdiri seperti monster besi, ke jalan setapak yang dulu dipadatkan roda truk dan kini mulai ditumbuhi rumput liar yang bandel. Tepi sungai yang dulu longsor curam itu—ia perhatikan—tidak lagi seperti dinding jurang. Air, yang dibiarkan mengalir tanpa dikeruk, perlahan membawa endapan, menumpuknya pelan-pelan di tikungan, mengisi kembali apa yang dulu dirampas. Bukan secepat ekskavator menggalinya; sungai bekerja dengan kesabaran yang berbeda, kesabaran ribuan musim. Tapi ia bekerja. Setiap hujan membawa lumpur baru, setiap kemarau memadatkannya, dan pelan-pelan tikungan itu menutup lukanya sendiri.
Ini, pikir Pram, adalah bukti yang tak pernah bisa dibantah Pak Har di musyawarah mana pun. Bukan argumen, bukan data dinas, bukan pidato. Hanya wader yang kembali dan anak-anak yang berani menyemplung. Suara yang paling sunyi—gemericik air dangkal—mengatakan apa yang tak bisa dikatakan oleh seluruh teriakan di balai desa selama bertahun-tahun.
Ia teringat malam pertama ia pulang ke desa ini, berdiri di tepi sungai yang sudah menjadi jurang, merasa seakan menatap kuburan masa kecilnya sendiri. Saat itu ia tak punya rencana, tak punya tim, tak punya apa-apa kecuali kemarahan dan rasa malu. Ia tak pernah benar-benar membayangkan momen ini—bukan kemenangan di kotak suara, bukan jembatan yang diresmikan, melainkan ini: seorang bocah mengangkat wader dan tertawa, di tempat yang dulu ia kira sudah mati selamanya.
Seorang ibu datang menjemput anaknya dari arah dusun, menjinjing keranjang cucian. Ia melihat Pram, ragu sejenak—Pram mengenalinya sebagai salah satu istri eks-penambang, keluarga yang dulu paling keras menyalahkannya saat tambang tutup. Perempuan itu tidak menyapa. Tapi ia juga tidak memalingkan muka dengan benci seperti dulu. Ia hanya berdiri, memandang anaknya yang basah dan riang, dan untuk sekejap—Pram melihatnya jelas—ada sesuatu yang melembut di wajahnya, sesuatu yang mungkin tak akan pernah ia ucapkan tapi terbaca di sana: bahwa anaknya bisa main air di sungai yang bersih, dan dulu, sebelum Pram, tidak bisa.
"Sudah, Le, ayo pulang, sudah sore," perempuan itu memanggil anaknya, dan dalam panggilan itu tak ada kemarahan.
Pram bangkit, menyeka tangannya yang basah ke celana, dan berjalan pulang dengan urusan pompa yang nyaris terlupa. Ia tahu desa masih rapuh, ekonomi baru masih harus berjuang melawan kemarau dan keraguan, dan tidak semua hati melunak. Tapi sore itu, dengan wader berkilauan di air jernih dan tawa anak-anak yang menggema di tikungan yang dulu bising oleh mesin, ia merasakan sesuatu yang lebih kokoh dari segala janji kampanye: keyakinan bahwa pengorbanan desa ini, betapapun mahal dan getir, tidak pernah sia-sia.