Hampir satu jam lamanya Samesta duduk di depan sebuah saung kecil pinggir jalan. Hujan turun siang itu menghalanginya melanjutkan perjalanan menuju tempat tinggal masa kecil Raya.
Ia menggosokkan kedua telapak tangan sambil sesekali meniupnya. Andai saja ia sedia jas hujan di dalam bagasi motor. Sudah dari tadi Samesta sampai di rumah Raya. Semakin lama hujan malah bertambah deras. Seolah melarang Samesta menemui pujaan hati. Samesta melirik jam ditangan. Kakinya memantul-mantul tak tenang. Sudah tak bisa menunggu lebih lama lagi, Samesta memutuskan untuk bangkit dari saung.
Meski hujan lebat, dan petir saling bersahutan. Ia tidak akan lagi gentar. Ini jalan cintanya. Samesta harus berjuang mendapatkan Raya kembali. Jangan sampai masa depan berubah, dan di waktu yang akan datang mereka