Rapat penutup kuartal pertama digelar di ruang rapat ber-AC rusak pada Jumat pagi, dan untuk pertama kalinya dalam belasan tahun, Cabang Rawa Belong kedatangan tamu dari pusat.
Utusan itu seorang perempuan berusia empat puluhan dari Divisi Strategi bernama Ibu Rachmawati, yang datang dengan sopir, map kulit, dan tatapan seseorang yang sudah menutup banyak cabang dan tidak lagi merasa apa-apa saat melakukannya. Ia duduk di ujung meja, menolak kopi dispenser dengan halus, dan menatap papan countdown yang kini menunjukkan nol hari sebagai sesuatu yang menyenangkan, seperti garis finis.
Seisi cabang berbaris di kursi-kursi dengan wajah orang yang menunggu vonis. Bu Sari memegang tangan Hesti di bawah meja. Yanto, yang biasanya tidak pernah diam, diam total. Reza terjaga penuh, sesuatu yang historis. Galih duduk tegak dengan buku catatannya tertutup. Pak Daliman duduk di tempatnya dengan ekspresi tidak tahu apa-apa yang sudah ia sempurnakan selama dua puluh tahun, meski di bawah meja kakinya bergetar pelan. Dan Wisnu, untuk pertama kalinya, tidak memilih kursi dekat pintu. Ia duduk di tengah, di antara orang-orangnya, karena ia tahu kali ini tidak ada gunanya dekat jalan keluar.
Bevan berdiri di depan, laptopnya tersambung ke proyektor. Selama empat hari terakhir, sejak percakapan malam itu, ia tidak berbicara dengan Wisnu, tidak menunjukkan apa pun, hanya bekerja dengan wajah tertutup. Tidak ada yang tahu apa yang akan ia presentasikan. Tidak ada yang tahu apakah ia akan membongkar mereka di depan utusan pusat atau tidak. Wisnu menatap punggung anak muda itu dan menyadari bahwa untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, nasibnya berada di tangan orang lain, dan ia tidak punya satu pun akal-akalan yang tersisa.
"Ibu Rachmawati," Bevan membuka, suaranya datar, profesional, tidak terbaca. "Saya akan mempresentasikan temuan kuartal ini untuk Cabang Rawa Belong."
Ia mengklik slide pertama. Sebuah grafik. Dan di seluruh ruangan, jantung serempak berhenti, karena setiap orang menunggu kata manipulasi, fraud, audit, pemecatan.
Tapi Bevan tidak mengucapkan kata-kata itu. Ia menarik napas, dan untuk sepersekian detik matanya menyapu ke arah orang-orang cabang, sebuah tatapan yang tidak bisa Wisnu baca, lalu ia berkata, "Target kuartal cabang ini adalah dua ratus persen. Realisasi cabang ini..." Ia mengklik. Layar berubah. Dan angka yang muncul membuat seisi ruangan, termasuk Ibu Rachmawati, terdiam total.
Seratus delapan puluh tujuh persen.
Untuk sesaat, tidak ada yang bernapas. Lalu Ibu Rachmawati, untuk pertama kalinya, menunjukkan ekspresi: alisnya terangkat. "Seratus delapan puluh tujuh persen," ulangnya, dan ada nada tidak percaya yang nyaris menuduh. "Cabang yang dalam laporan internal saya tertulis nol persen selama tiga tahun berturut-turut. Saudara Bevan, ini... bagaimana mungkin?"
Dan di sinilah Wisnu, dari kursinya di tengah, merasakan dunia miring. Karena ia tahu — ia, otak operasi, perancang setiap akal-akalan kecil — bahwa angka yang dipoles tim mereka, dengan segala penyatuan laporan dan klien lama dan survei yang dibangunkan, mentok di sekitar empat puluh persen. Tidak lebih. Tidak mungkin lebih. Seratus delapan puluh tujuh persen bukan pekerjaan mereka. Ia menoleh ke Hesti, yang menatapnya balik dengan kebingungan yang sama. Ke Bu Sari, yang menggeleng samar. Ke Yanto, yang untuk sekali ini benar-benar tidak tahu apa-apa. Ke Pak Daliman, yang ekspresi tidak tahu apa-apanya, untuk pertama kalinya, asli.
Tidak ada satu pun dari mereka yang menghasilkan angka itu.
Bevan mengklik slide berikutnya, dan di sana terpampang sumbernya: satu pesanan tunggal, raksasa, masuk tiga hari lalu, atas nama Cabang Rawa Belong. Nilainya hampir dua miliar rupiah — lebih besar dari seluruh omzet cabang dalam lima tahun digabung. Pemesannya tercatat sebagai sebuah perusahaan yang tak satu pun dari mereka kenal. Tanggal masuk: lewat sistem pusat, tengah malam, otomatis.
"Pesanan ini," kata Bevan pelan, dan untuk pertama kalinya suaranya bergetar, "masuk ke sistem atas nama cabang ini. Saya sudah verifikasi tiga kali. Nilainya sah tercatat. Inilah yang membuat angkanya melonjak."
Wisnu merasakan keringat dingin di tengkuknya. Ia memandang ke seluruh ruangan, mencari satu wajah yang menyimpan rahasia, satu orang yang diam-diam berbuat sesuatu. Tapi yang ia lihat hanya kepanikan yang sama murninya dengan kepanikannya sendiri. Tidak ada yang memesan ini. Tidak ada yang mengirim order ini. Dan justru itulah yang membuatnya, untuk pertama kalinya, benar-benar takut — bukan karena akal-akalan kecil mereka ketahuan, tapi karena ada sesuatu yang jauh lebih besar dari akal-akalan mereka yang muncul entah dari mana dan menempelkan nama cabang ini pada sebuah janji senilai dua miliar yang harus benar-benar dipenuhi.
Ibu Rachmawati menutup map kulitnya, berdiri, dan untuk pertama kalinya tersenyum. "Saya akan jujur. Saya datang ke sini untuk menutup cabang ini. Tapi angka tidak bisa dibantah. Dengan pesanan ini, Rawa Belong adalah cabang dengan pertumbuhan tertinggi di seluruh perusahaan kuartal ini." Ia mengenakan kacamatanya. "Konsolidasi dibatalkan. Tapi camkan — pesanan sebesar ini diawasi langsung dari pusat sekarang. Kalau dalam enam minggu barangnya tidak terkirim sesuai kontrak, bukan cuma cabang ini yang dilebur. Reputasi kalian semua hancur, dan saya pribadi yang akan datang menutupnya." Ia melangkah ke pintu, lalu berhenti. "Selamat. Saya tunggu pengirimannya."
Lalu ia pergi, sopirnya menutup pintu, dan ruangan ber-AC rusak itu meledak dalam keheningan yang lebih nyaring dari teriakan apa pun.
Bevan memutar tubuh menghadap mereka, wajahnya pucat, semua jargon lenyap. "Saya kira ini ulah kalian," katanya. "Saya kira ini akal-akalan terbesar yang pernah saya lihat, dan saya sudah siap membongkarnya. Tapi tadi, saat saya lihat wajah kalian satu per satu..." Ia menelan ludah. "Kalian sama bingungnya dengan saya. Berarti tidak ada satu pun di ruangan ini yang mengirim order itu."
Wisnu berdiri perlahan, dan tatapan seisi cabang — Hesti, Bu Sari, Yanto, Reza, Galih, dan Pak Daliman — berpaling kepadanya, sang simpul, menunggu sang otak operasi mengeluarkan satu akal-akalan terakhir. Tapi untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, kepala Wisnu Aryasatya benar-benar kosong.
"Tidak ada dari kita yang kirim," katanya pelan, lebih ke dirinya sendiri daripada ke ruangan. "Tidak ada yang berani memalsukan order sebesar dua miliar. Itu bukan akal-akalan. Itu bunuh diri." Ia menatap layar, ke nama perusahaan asing yang memesan, ke nilai yang mustahil itu, ke tenggat enam minggu yang baru saja menggantung di leher mereka semua. "Tapi sekarang nama kita ada di kontrak itu. Kantor pusat mengawasi. Dan kalau dalam enam minggu kita tidak benar-benar mengirim barang senilai dua miliar yang tidak pernah kita janjikan..."
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, karena tidak perlu. Seisi ruangan sudah paham. Selama belasan tahun mereka ahli menghindari kerja, lalu sebulan terakhir mereka ahli mengakali kerja, dan kini, karena sebuah pesanan hantu yang tak seorang pun kirim, mereka harus melakukan satu hal yang belum pernah dilakukan Cabang Rawa Belong dalam seluruh sejarahnya yang malas: benar-benar bekerja. Sungguhan. Atau hancur.
Dan di papan dinding, di sebelah countdown yang baru saja menyentuh nol, layar digital Bevan diam-diam menyalakan angka baru, merah dan berdetak: enam minggu, nol hari, menuju pengiriman mustahil yang harus mereka penuhi sebelum seluruh dunia tahu bahwa tidak satu pun dari mereka yang memesannya.