Selama tiga menit penuh setelah pintu tertutup di belakang Ibu Rachmawati, tak ada yang bergerak. Ruang rapat ber-AC rusak itu terasa seperti foto yang lupa dikembangkan: tujuh orang membeku dalam pose terakhir mereka, mulut setengah terbuka, dan di dinding, layar merah Bevan terus berdetak tanpa belas kasihan.
Yanto yang pertama pecah. "Kita kaya," katanya, dengan suara orang yang baru sadar sedang mimpi. "Dua miliar. Kita kaya. Atau kita masuk penjara. Salah satunya."
"Diam, Yanto," kata Bu Sari, tapi tangannya masih mencengkeram tangan Hesti, dan kuku-kukunya sudah meninggalkan bekas merah.
Wisnu menatap layar. Nama perusahaan asing itu menempel di matanya seperti lalat: PT Cakra Mandala Logistik. Ia membaca tiga kali, seolah dengan membaca cukup lama, nama itu akan mengaku siapa pemiliknya. Tapi nama tetaplah nama, dingin dan tak bersuara, dan di bawahnya, angka yang mustahil itu duduk dengan tenang seperti tamu yang tak diundang dan tak berniat pulang.
"Begini," kata Reza, yang anehnya paling tenang, mungkin karena ia satu-satunya yang berpikir dalam sistem, bukan dalam panik. "Ada tiga kemungkinan. Satu, ada orang di antara kita yang iseng atau nekat dan tidak mau ngaku. Dua, ada orang luar yang sengaja menjebak kita. Tiga, ini error. Sistem pusat itu, Mas Wisnu, percayalah, sudah rusak sejak zaman saya belum lahir."
"Kalau ini error," potong Hesti, suaranya gemetar, "kenapa kita tidak telepon pusat sekarang juga, bilang ini salah, hapus, selesai?"
Untuk sesaat, gagasan itu menggantung di udara seperti pintu darurat yang menyala hijau. Pulang. Mengaku. Kembali ke keterlupaan yang nyaman. Wisnu merasakan seluruh tubuhnya condong ke arah pintu itu, naluri sepuluh tahun yang berteriak: menghilang, menghilang, biarkan orang lain yang mengangkat telepon.
Tapi ia tetap berdiri di tengah ruangan.
"Tidak," katanya, dan kata itu keluar lebih tegas dari yang ia niatkan. Semua menoleh. "Pikir baik-baik. Begitu kita telepon pusat dan bilang 'maaf, order dua miliar di cabang kami ternyata salah, tolong dibatalkan', apa yang Ibu Rachmawati lihat? Cabang yang kemarin pertumbuhannya tertinggi se-perusahaan, hari ini sendiri datang mengaku angkanya bohong. Dalam satu telepon, kita berubah dari cabang ajaib jadi cabang pembohong. Dan dia bilang sendiri tadi: kalau ini bohong, dia pribadi yang datang menutup kita."
Bevan, yang sejak tadi berdiri kaku di samping proyektor, mengangkat kepala. "Pak Wisnu benar. Saya yang presentasi angka itu. Nama saya tercatat di sistem sebagai konsultan yang memverifikasi. Kalau order ini dibatalkan sekarang, yang hancur bukan cuma cabang. Saya juga." Ia tertawa kecil, tawa yang tak ada lucunya. "Saya datang ke sini untuk menyelamatkan kalian dari pelebur. Sekarang saya satu kapal sama kalian di kapal yang bocornya jauh lebih besar."
Wisnu menatap konsultan muda itu, dan untuk pertama kali tidak melihat jargon. Ia melihat seseorang yang sama-sama terjebak. Aneh, pikirnya, betapa cepat musuh bisa berubah jadi sesama tahanan begitu temboknya sama.
"Jadi kita tidak mengaku," Yanto menyimpulkan, mulai sumringah. "Berarti kita simpan saja dua miliar—"
"Tidak ada dua miliar yang disimpan, Yanto," kata Wisnu lelah. "Itu bukan uang masuk. Itu order. Pesanan barang. Artinya seseorang, entah siapa, mengharapkan barang senilai dua miliar dikirim oleh kita. Kalau barangnya tidak datang, kita yang ingkar kontrak. Yang kita 'punya' bukan uang. Yang kita punya utang kerja senilai dua miliar dengan tenggat enam minggu."
Wajah Yanto melorot. "Oh," katanya. "Itu jauh lebih jelek."
Keheningan turun lagi. Di luar jendela, klakson angkot, suara Bu Tum membanting wajan di kantin belakang, dunia yang tidak tahu apa-apa berjalan seperti biasa. Wisnu memandangi orang-orangnya satu per satu: Bu Sari yang umurnya lima puluh empat, Hesti dengan dua anak sekolah, Reza yang tak punya tempat lain, Galih yang masih sembilan belas dan terlalu jujur untuk dunia ini. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak menghitung jalan keluar untuk dirinya sendiri. Ia menghitung jalan keluar untuk mereka.
"Dengar," katanya, dan ia berjalan ke depan, ke tempat Bevan biasa berdiri, sebuah posisi yang ia hindari selama sepuluh tahun karena di depan ruangan adalah tempat orang yang bertanggung jawab. "Kita tidak kabur, karena kabur sekarang sama saja bunuh diri. Kita tidak mengaku, karena mengaku sekarang sama saja bunuh diri yang lebih lambat. Yang tersisa cuma satu pilihan, dan ini yang paling tidak enak: kita cari tahu dulu siapa yang sebenarnya memesan ini."
"Buat apa?" tanya Bu Sari. "Kalau orangnya nyata dan minta barang, kita tambah mati."
"Buat tahu apa yang sedang kita hadapi," kata Wisnu. "Kita tidak bisa melawan sesuatu yang tidak kita kenal. Kalau ini error sistem, mungkin bisa kita beresin diam-diam tanpa lapor. Kalau ini jebakan, kita harus tahu siapa yang menjebak. Kalau ini klien beneran..." ia menarik napas, "...maka kita harus tahu seberapa beneran sebelum memutuskan apa-apa. Bergerak tanpa tahu sumbernya itu seperti Pak Daliman ngambil keputusan. Kita semua tahu bagaimana itu berakhir."
Di sudut, Pak Daliman, yang sejak tadi diam dengan wajah tidak tahu apa-apa yang kali ini benar-benar tidak tahu apa-apa, mengangkat tangan kecil. "Saya tersinggung," katanya pelan, "tapi tidak salah."
Setitik tawa pecah di ruangan, kecil dan rapuh, tapi cukup untuk mengendurkan urat-urat yang tegang. Wisnu memanfaatkannya.
"Reza," katanya, dan untuk pertama kali dalam sepuluh tahun ia menugaskan seseorang secara terbuka, dengan suara keras, di depan semua orang, alih-alih membisikkannya di pantry. "Kamu gali sistem. Cari dari mana order ini masuk. Portal apa, akun apa, jam berapa, alamat IP kalau bisa. Semua jejaknya."
Reza mengangguk, dan sesuatu yang aneh menyala di matanya. Untuk pertama kalinya dalam ingatan siapa pun, ia tidak terlihat mengantuk.
"Hesti, Galih, kalian telusuri perusahaan pemesannya. PT Cakra Mandala Logistik. Cari di mana kantornya, siapa direkturnya, nomor teleponnya. Apa pun yang publik."
"Saya pegang penagihan," kata Hesti otomatis, refleks lama, lalu ia berhenti, dan wajahnya berubah. "Tapi... ya. Baik. Saya kerjakan."
Garis itu, Wisnu menyadari, baru saja bergeser sedikit. Untuk pertama kalinya seseorang menerima tugas tanpa mengopernya ke meja kosong.
"Bu Sari, Yanto, kalian jangan ke mana-mana, jangan cerita ke siapa pun di luar ruangan ini. Yanto, ini yang paling berat buatmu, aku tahu. Tapi kalau berita ini sampai ke cabang lain sebelum kita paham apa yang terjadi, kita tamat sebelum mulai."
Yanto menatapnya, dan untuk sekali ini, ia tidak membantah. Ia hanya menutup mulutnya dengan tangan, sumpah seorang penggosip untuk diam yang nilainya, semua tahu, hampir setara dua miliar itu sendiri.
Wisnu menoleh ke Bevan terakhir. "Dan kamu," katanya. "Kamu masih mau membongkar kami?"
Bevan menatap layar merah yang berdetak, lalu menatap orang-orang cabang, lalu menatap Wisnu. "Saya sudah tidak punya 'kalian' dan 'kami', Pak," katanya pelan. "Sejak slide tadi, cuma ada 'kita'."
Dan begitulah, pada Jumat pagi di sebuah cabang yang nyaris dilupakan, sekumpulan orang yang seumur hidup ahli menghindari kerja membentuk barisan untuk pertama kalinya, bukan untuk menghindari sesuatu, tapi untuk mengejarnya. Wisnu memandang layar merah itu sekali lagi. Enam minggu. Ia tidak tahu apakah cukup. Ia cuma tahu, dengan rasa kesal yang familiar pada dirinya sendiri, bahwa kali ini ia tidak akan menghilang ke jendela toilet.