PT Cakra Mandala Logistik, menurut hasil pencarian Hesti di internet pada Senin pagi, beralamat di sebuah ruko tiga lantai di kawasan industri pinggir kota, blok yang namanya terdengar megah tapi di peta hanya berupa deretan kotak abu-abu di tepi sungai yang berbau.
Maka pada hari itu, dengan dalih survei lapangan yang ditandatangani Pak Daliman dengan ekspresi tidak tahu apa-apa, Wisnu, Hesti, dan Galih menumpang truk reyot satu-satunya milik cabang yang dikemudikan Yanto, yang bersikeras ikut karena, katanya, "kalau ada gerebek, harus ada saksi."
Ruko itu, ketika mereka tiba, terkunci.
Bukan terkunci seperti kantor yang sedang tutup. Terkunci seperti tempat yang tak pernah dibuka. Pintu rolling door-nya berkarat di bagian bawah, ditumbuhi rumput tipis yang menyelinap dari celah trotoar. Di kaca depan yang berdebu, masih menempel stiker bertuliskan DISEWAKAN dengan nomor telepon yang separuh angkanya sudah terkelupas. Di atas pintu, tempat seharusnya ada papan nama, hanya ada bayangan persegi yang lebih bersih dari tembok sekitarnya, bekas papan yang sudah lama dicopot.
"Cakra Mandala Logistik," baca Galih dari ponselnya, lalu memandang ruko mati itu. "Pemesan barang dua miliar."
Yanto menempelkan wajahnya ke kaca berdebu, mengintip ke dalam. "Kosong," lapornya. "Cuma ada satu kursi plastik patah dan kalender. Kalendernya tahun berapa, ya... saya tidak bisa baca, debunya tebal."
Hesti, yang sudah menelepon nomor di stiker DISEWAKAN, mengangkat ponselnya dengan wajah masam. "Nomor pemilik ruko. Katanya tempat ini kosong hampir dua tahun. Penyewa terakhir bengkel las, kabur belum bayar. Tidak pernah ada yang namanya Cakra Mandala di sini."
Wisnu berdiri di trotoar, memandangi ruko itu, dan merasakan sesuatu yang dingin merayap di tengkuknya, perasaan yang sama seperti saat ia melihat tanda bintang merah di email nyasar berbulan lalu. Sebuah perusahaan yang memesan barang senilai dua miliar seharusnya punya kantor, gudang, truk, orang. Punya wujud. Tapi yang ada di depannya hanya ruko mati dengan rumput di celah pintu.
"Coba telepon nomor perusahaannya," kata Wisnu. "Yang tercatat di order."
Hesti membuka catatannya, menekan deretan angka, dan menempelkan ponsel ke telinga. Mereka semua diam, mendengarkan. Nada sambung berdering sekali, dua kali, tiga kali. Lalu sebuah suara mesin yang dingin dan teratur: nomor yang Anda tuju tidak terdaftar.
Hesti menurunkan ponselnya. "Tidak terdaftar."
"Bukan tidak diangkat," Wisnu menegaskan, lebih ke dirinya sendiri. "Tidak terdaftar. Berarti nomor itu memang tidak pernah ada."
Mereka berdiri di trotoar berdebu itu cukup lama, empat orang dewasa dan satu truk reyot di depan ruko hantu, dan perlahan, melalui keheningan, sebuah pemahaman yang tidak nyaman menyusup ke setiap kepala. Yanto yang mengucapkannya, karena Yanto selalu mengucapkan hal-hal yang dipikirkan orang lain tapi tidak berani diucapkan.
"Jadi," katanya pelan, melepaskan wajahnya dari kaca, "perusahaan yang pesan dua miliar dari kita itu... tidak ada?"
Dalam perjalanan pulang, truk reyot itu terguncang-guncang di jalan berlubang, dan tak ada yang bicara. Galih menatap ke luar jendela, alisnya berkerut dalam cara yang Wisnu kenali, cara seorang anak yang dunianya hitam-putih sedang dipaksa melihat warna abu-abu yang tak ia mengerti. Hesti menggumam soal anak-anaknya. Yanto, untuk pertama kalinya, tidak punya teori.
Di kantor, Reza menyambut mereka di pintu dengan wajah yang sama bingungnya, tapi ada nyala di matanya, nyala seorang teknisi yang menemukan kabel yang tak seharusnya ada.
"Mas Wisnu," katanya, menarik Wisnu ke ruang server yang sempit dan berbau debu printer. Di layarnya, deretan kode dan tabel yang bagi Wisnu tak lebih bermakna dari hieroglif. "Saya lacak ordernya. Dan ini aneh. Ini aneh sekali."
"Aneh bagaimana?"
Reza menunjuk satu baris. "Order ini tidak masuk lewat portal yang sekarang kita pakai. Portal sekarang itu yang baru, yang dipasang Bevan, yang dipakai Ibu Rachmawati buat lihat dashboard. Order ini masuk lewat portal lama. Portal warisan. Yang namanya SiPandu."
"SiPandu?"
"Sistem Pengelolaan Distribusi Terpadu. Singkatannya dipaksain, saya tahu." Reza menggeleng. "Itu sistem dari belasan tahun lalu, Mas. Zaman komputer tabung yang di luar itu. Harusnya sudah mati. Pusat bilang sudah dimatikan sejak migrasi sistem tiga tahun lalu. Saya sendiri kira sudah mati. Tapi ternyata..." ia menunjuk layar, "...di server pusat, di pojok yang tidak ada yang ngurusin, SiPandu masih nyala. Masih jalan. Seperti lampu di gudang yang lupa dimatikan belasan tahun. Dan order dua miliar itu masuk lewat sana, tengah malam, otomatis, lalu menetes ke dashboard baru karena sistemnya nyambung tanpa ada yang sadar."
Wisnu memandangi layar itu, dan potongan-potongan teka-teki mulai menggeser diri di kepalanya, tapi belum membentuk gambar. Ruko hantu. Nomor yang tak terdaftar. Perusahaan yang tak ada. Dan order itu masuk bukan dari pintu depan yang dijaga, melainkan dari jendela belakang yang semua orang kira sudah dipaku mati belasan tahun lalu.
"Jadi bukan orang dari cabang kita," kata Wisnu pelan. "Tidak ada satu pun dari kita yang tahu cara masuk ke sistem yang bahkan kamu kira sudah mati. Tapi juga bukan order palsu yang dibuat asal-asalan. Ini masuk lewat jalur resmi, walaupun jalur yang seharusnya sudah ditutup. Sahnya beneran. Hantunya juga beneran."
Reza mengangguk pelan. "Pertanyaannya, Mas: siapa yang masih ingat cara menghidupkan hantu yang sudah belasan tahun mati?"
Wisnu tidak menjawab. Ia memandang ke luar ruang server, ke lantai dua yang remang, ke meja-meja tua dan komputer tabung yang sudah seharusnya masuk museum. Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa jawaban dari pertanyaan itu mungkin tidak berada di pusat yang jauh dan menakutkan, melainkan jauh lebih dekat, terkubur di antara dus-dus arsip di gudang yang atapnya bocor, dalam sejarah cabang ini sendiri yang sudah lama tak ada yang mau membacanya.