Bevan tidak tidur Senin malam itu. Wisnu tahu, karena Selasa pagi konsultan muda itu sudah ada di kantor saat Wisnu tiba pukul tujuh lewat lima puluh dua, satu hal yang tidak pernah terjadi sejak espreso portabelnya menyerah pada kopi tubruk Bu Tum, dan di bawah matanya ada lingkaran gelap yang membuatnya, untuk pertama kali, terlihat seusia mereka.
Di meja Bevan tergeletak satu lembar kertas yang dicetak, dan ketika Wisnu lewat, Bevan memanggilnya pelan. "Pak Wisnu. Bisa bicara? Berdua. Di ruang rapat."
Ruang rapat ber-AC rusak itu, pukul delapan pagi, kosong dan sejuk oleh sisa udara malam. Bevan menutup pintu, sesuatu yang membuat Wisnu teringat pada layar komputer Pak Daliman yang dimatikan, dan ia menyiapkan diri.
"Saya semalaman membaca kontrak order itu," kata Bevan, meletakkan lembar kertas di meja. "Bukan cuma angkanya. Lampirannya. Dokumen-dokumen pendukung yang ikut masuk ke sistem." Ia menggeser kertas itu ke arah Wisnu, dan jarinya berhenti di satu baris yang ia garis bawahi dengan pulpen. "Coba Pak Wisnu baca yang ini."
Wisnu membaca. Itu lembar verifikasi kontrak. Format pusat, kop resmi, kolom-kolom yang membosankan. Dan di bagian bawah, di kolom bertuliskan KONSULTAN PENANGGUNG JAWAB, tercetak rapi sebuah nama: Bevan Arkananta. Lengkap dengan nomor induk konsultan, lengkap dengan tanggal, lengkap dengan tanda yang menunjukkan bahwa, di mata sistem dan di mata pusat, order dua miliar ini berada di bawah pengawasannya.
"Saya tidak pernah memverifikasi ini," kata Bevan, dan suaranya datar tapi Wisnu bisa mendengar sesuatu yang retak di baliknya. "Saya tidak pernah lihat order ini sebelum hari Jumat itu. Tapi sistem secara otomatis menempelkan nama saya, karena saya konsultan yang ditugaskan ke cabang ini, jadi apa pun yang tercatat atas nama cabang ini, secara default, jadi tanggung jawab saya." Ia tertawa kecil, tawa tanpa udara. "Saya datang ke sini untuk mengaudit akal-akalan kalian. Sekarang nama saya tertempel di akal-akalan terbesar yang bahkan kalian tidak melakukannya."
Wisnu meletakkan kertas itu pelan. Ia mengamati Bevan, anak muda yang sebulan lalu berdiri di depan ruangan dengan kemeja licin dan keyakinan yang menyakitkan, dan kini duduk di hadapannya dengan keyakinan yang sudah remuk dan lingkaran gelap di bawah mata.
"Kamu bisa cuci tangan," kata Wisnu, menguji. "Lapor ke pusat sekarang. Bilang order ini masuk lewat sistem lama tanpa sepengetahuanmu, minta namamu dilepas. Mungkin masih sempat. Kamu selamatkan dirimu, kami tenggelam sendiri."
Bevan menatapnya lama. "Saya sudah memikirkan itu," akunya. "Semalaman. Itu pilihan paling rasional. Itu yang akan diajarkan setiap buku manajemen risiko yang pernah saya baca: lepaskan diri dari kapal yang tenggelam." Ia menggeleng pelan. "Tapi ada masalahnya, Pak. Kalau saya lapor sekarang, dua hal terjadi. Satu, pusat tahu ada celah di sistem mereka, dan mereka akan panik, dan dalam kepanikan itu, jalan paling cepat menutup masalah adalah menutup cabang yang jadi sumbernya. Yaitu cabang ini. Dua..." ia berhenti, dan untuk pertama kalinya menatap Wisnu langsung di mata, "...dua, saya akan jadi konsultan yang ditugaskan menyelamatkan cabang, lalu kabur di tengah krisis. Itu bukan cuma gagal, Pak. Itu pengecut. Dan saya sudah cukup sering dianggap remeh untuk tidak mau menambah satu lagi alasan."
Ada sesuatu dalam kalimat terakhir itu, sebuah luka kecil yang menyembul tanpa sengaja, dan Wisnu mencatatnya diam-diam, menyimpannya seperti ia menyimpan semua rahasia kecil semua orang. Sudah cukup sering dianggap remeh. Anak ini, di balik jargonnya, menyimpan sesuatu.
"Jadi apa maumu?" tanya Wisnu.
Bevan menarik napas. "Saya mau bergabung. Bukan mengawasi. Bukan mengaudit. Bergabung. Saya kenal cara pusat berpikir, saya kenal sistemnya, saya tahu dokumen apa yang mereka minta dan kapan mereka curiga. Pengetahuan itu bisa berguna kalau kita benar-benar mau mengirim order ini." Ia berhenti, lalu menambahkan, dengan nada yang tiba-tiba keras, "Tapi ada syaratnya. Dan ini tidak bisa ditawar."
Wisnu menunggu.
"Tidak ada satu data pun yang dipalsukan," kata Bevan. "Bukan dipoles, bukan disatukan, bukan dibesarkan. Dipalsukan. Order ini akan diawasi langsung pusat selama enam minggu ke depan, setiap pengiriman, setiap faktur, setiap tanda terima. Kalau kita mengarang satu angka saja, satu tanda terima fiktif, satu pengiriman yang tidak benar-benar sampai, kita tidak cuma dilebur. Kita masuk ranah pidana. Saya tidak mau, dan saya tidak akan, ikut dalam sesuatu yang berakhir di pengadilan."
Wisnu nyaris tersenyum. Karena kalimat itu, kata demi kata, adalah garis yang sudah ia tarik sendiri sejak minggu pertama operasi, garis yang ia tegaskan pada Galih di gudang, pada seluruh tim di grup, pada Pak Daliman di ruangan dengan layar dimatikan. Garis yang sama, yang kini diucapkan oleh seseorang dari kubu seberang, dengan keyakinan yang murni.
"Itu lucu," kata Wisnu.
"Apanya yang lucu?"
"Selama sebulan ini aku berusaha keras meyakinkan orang-orangku untuk tidak melewati garis itu. Dan ternyata satu-satunya orang yang langsung paham garisnya tanpa harus aku jelaskan adalah orang yang kukira musuh." Wisnu mengulurkan tangan. "Kamu tahu kenapa garis itu penting buatku, Bevan? Bukan karena aku takut penjara. Karena begitu kita memalsukan sesuatu yang merugikan orang lain, kita berhenti jadi orang yang mengakali sistem busuk, dan jadi sistem busuk itu sendiri. Dan aku lebih baik cabang ini dilebur sebagai orang-orang yang masih bisa menatap cermin daripada selamat sebagai penipu."
Bevan menatap tangan yang terulur itu, lalu menjabatnya. Genggamannya kuat, tangan anak muda yang belum lelah, dan Wisnu merasakan, di balik kepalsuan korporat yang ia kira melekat pada konsultan ini, sesuatu yang nyata dan keras kepala dan, ia harus mengakuinya, layak dihormati.
Ketika mereka keluar dari ruang rapat, lantai dua sudah mulai ramai. Bu Sari sedang memarahi dispenser, Yanto sedang menceritakan sesuatu pada Reza yang setengah mendengarkan, Galih sedang merapikan arsip dengan ketelitian menggemaskan. Dunia kecil yang lamban itu berputar seperti biasa, tidak tahu bahwa di ruang rapat ber-AC rusak barusan, batas antara mereka dan musuh telah dihapus.
Wisnu berhenti di puncak tangga. "Bevan," panggilnya. "Kalau kamu sudah jadi bagian dari kami, ada satu hal yang harus kamu pelajari pertama."
"Apa?"
"Cara mengakali absen. Karena mulai besok, kamu tidak akan punya waktu datang jam tujuh pagi lagi."
Untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di Rawa Belong, Bevan Arkananta tertawa lepas, tawa yang sesungguhnya, dan suara itu, di lantai dua yang remang, terdengar seperti sesuatu yang baru saja berpindah pihak.