Sebelum mereka bisa mengirim barang senilai dua miliar, Wisnu menyadari ada pertanyaan yang lebih mendasar dan jauh lebih memalukan yang harus dijawab terlebih dahulu: barang apa, tepatnya, yang harus mereka kirim, dan apakah cabang ini punya sehelai pun dari barang itu.
Maka pada Rabu pagi, seluruh tim turun ke gudang, sebuah tempat yang sebagian besar dari mereka belum pernah masuki dalam keadaan sadar selama bertahun-tahun.
Gudang Rawa Belong terletak di belakang gedung, bangunan beton panjang dengan atap seng yang bocor di empat titik, ditandai oleh empat ember karat yang ditempatkan dengan presisi seorang yang sudah lama menyerah memperbaiki atapnya. Di dalamnya, dalam keremangan yang berbau kardus lembap dan oli tua, terbentang pemandangan yang membuat Bevan, yang baru pertama kali masuk, berdiri terpaku.
Gudang itu setengah kosong.
Bukan setengah penuh. Setengah kosong, dan separuh yang terisi pun sebagian besar adalah barang-barang yang sudah tak bisa dijual: dus berisi alat tulis kantor cabang itu sendiri, sisa stok produk yang sudah lewat masa edar, rak besi yang berkarat dengan kotak-kotak yang labelnya sudah pudar. Di sudut paling jauh, di bawah terpal biru yang sobek, teronggok tumpukan barang dagangan yang sebenarnya, jumlahnya begitu sedikit hingga Yanto, yang seharusnya kepala gudang, tampak malu.
"Ini..." Bevan memutar tubuhnya perlahan, menatap kekosongan itu. "Ini gudang distribusi?"
"Dulu penuh," kata Yanto cepat, defensif. "Zaman Pak Hartono masih ada. Truknya tiga. Sopirnya lima. Sekarang..." ia menunjuk ke luar, ke halaman belakang tempat satu-satunya truk cabang terparkir dengan ban yang setengah kempes dan kap mesin yang berkerak. "Sekarang ya itu. Satu truk. Dan sopirnya kadang saya, kalau Pak Sukarman lagi sakit pinggang."
Wisnu berdiri di tengah gudang, di antara ember-ember yang menampung tetesan air, dan merasakan beratnya angka dua miliar itu dengan cara yang baru. Di atas kertas, dua miliar adalah angka. Di sini, di gudang setengah kosong ini, dua miliar adalah ruang fisik yang harus diisi, truk yang harus berjalan, barang yang harus ada wujudnya, dan tidak satu pun dari itu ada.
"Bu Sari," panggil Wisnu. "Kontraknya bagaimana? Apa yang sebenarnya diminta order itu?"
Bu Sari, yang sejak kemarin telah menghabiskan waktu membedah lampiran kontrak dengan kacamata baca dan kalkulator tua, membuka map di tangannya. Wajahnya, yang biasanya merah oleh amarah siap pakai, kali ini pucat.
"Saya sudah pecah rinciannya," katanya, dan suaranya yang biasanya galak terdengar lebih kecil. "Order ini bukan satu jenis barang. Ini paket distribusi besar. Bahan kebutuhan ritel. Ada produk kebersihan, ada bahan makanan kering, ada perlengkapan rumah tangga, ada alat tulis. Belasan jenis. Ribuan unit." Ia meletakkan map di atas dus terdekat dan menunjuk angka di bawah. "Dan ini yang bikin saya tidak tidur semalam. Total volumenya, kalau saya hitung, butuh sekitar dua belas kali pengiriman truk penuh. Penuh, ya. Truk besar. Bukan truk kita yang kempes itu."
Keheningan turun di gudang, hanya dipecah oleh tetesan air yang jatuh ke ember dengan irama yang tiba-tiba terdengar mengejek.
"Dua belas truk penuh," ulang Hesti pelan. "Dalam enam minggu."
"Dua truk penuh seminggu," Galih menghitung otomatis, lalu menyesal telah menghitung, karena angka itu, diucapkan keras, terdengar mustahil.
"Dan kita punya," Wisnu menyimpulkan, memandang ke sekeliling gudang, "satu truk yang kempes, gudang yang setengah kosong, nol pemasok aktif, dan barang dagangan yang..." ia menatap tumpukan kecil di bawah terpal sobek, "...yang kalau dijual semua mungkin cukup buat satu pengiriman. Mungkin."
Bevan menyandar di rak berkarat, dan untuk pertama kalinya, instingnya sebagai konsultan, instingnya untuk mengurai masalah jadi angka, justru membuatnya pusing. "Mari saya pastikan saya paham," katanya pelan. "Kita harus mengirim barang yang tidak kita miliki, dalam jumlah yang belum pernah kita tangani, menggunakan armada yang tidak kita punya, kepada klien yang mungkin tidak ada, lewat order yang masuk dari sistem yang seharusnya sudah mati, dalam enam minggu, atau cabang ini dilebur dan nama saya tercoreng."
"Ringkasannya bagus," kata Yanto, sungguh-sungguh. "Kamu memang konsultan."
"Itu bukan pujian, Yanto."
Wisnu mengangkat tangan sebelum keputusasaan itu menyebar lebih jauh. Ia mengenali tanda-tandanya: bahu yang turun, suara yang mengecil, mata yang mulai mencari pintu. Ini adalah momen di mana, sepanjang sejarah Rawa Belong, semua orang akan mengoper masalah ke meja kosong dan pulang. Dan ia, sebagai simpul, tahu bahwa kalau ia membiarkan momen ini lewat, tidak akan ada momen kedua.
"Dengar," katanya. "Kita tidak akan menghitung apa yang tidak kita punya. Kita sudah tahu kita tidak punya apa-apa. Itu sudah jelas, terima kasih, tidak perlu diulang." Ia berjalan ke tengah gudang, ke titik di mana keempat ember tetesan air membentuk semacam segi empat, dan berdiri di tengahnya seperti orang yang berdiri di tengah peta. "Yang akan kita hitung adalah apa yang dulu pernah ada di sini. Karena gudang ini tidak selalu kosong. Truk ini tidak selalu satu. Pernah ada masa di mana cabang ini benar-benar mendistribusikan barang, punya pemasok, punya jaringan. Dan jaringan itu tidak menguap. Ia cuma ditinggalkan. Orang-orangnya masih ada di luar sana, cuma berhenti diundang."
Galih, yang sejak tadi diam, tiba-tiba mengangkat kepala. "Pak Hartono," katanya pelan. "Nama itu disebut Pak Wisnu di gudang waktu itu. Kepala penjualan lama. Yang bangun jaringan. Yang pensiun."
Wisnu menatapnya, dan sesuatu bergeser di kepalanya, sebuah gambar yang sejak pencarian Reza di sistem lama mulai terbentuk dan kini hampir utuh. Sistem warisan SiPandu yang masih hidup. Jaringan pemasok yang ditinggalkan. Gudang yang dulu penuh. Semua benang itu, ia menyadari, berujung pada satu nama yang sudah lama tak ada yang menyebutnya, satu nama yang terkubur di antara dus-dus arsip di gudang ini juga.
"Galih," katanya. "Sebelum kita pulang, aku mau kamu lakukan satu hal. Gali arsip lama di sudut sana, yang di bawah terpal. Cari apa pun yang ada nama Hartono-nya. Surat, kontrak, daftar pemasok, apa saja."
Galih mengangguk, dan dengan semangat seorang ilmuwan kecil yang menemukan situs penggalian baru, ia menghilang ke sudut gudang yang paling gelap, ke tempat di mana sejarah cabang ini, yang sudah lama tak ada yang mau membacanya, menunggu dalam debu untuk dibangkitkan kembali.