Kandang Haji Sabran terletak di pinggir Sumbawa Besar, di mana jalan aspal berubah jadi tanah merah dan ladang jagung membentang sampai kaki bukit yang biru oleh kabut pagi. Janu turun dari bak belakang pikap tua itu dengan kaki yang masih lemas dari kemarin, lututnya protes saat menjejak tanah. Bau kandang menyergapnya seketika, bau yang lebih akrab baginya daripada bau rumahnya sendiri: jerami, kotoran kuda, keringat, minyak tapal, dan di balik semua itu, samar, bau ketakutan.
Ia bisa mencium ketakutan di kandang ini. Bukan kiasan. Kuda-kuda di kotak depan berdiri dengan telinga waspada, ekor sesekali menyabet, mata sedikit terlalu putih di sudutnya. Beberapa sais muda duduk berkerumun di bawah pohon asam, mengobrol pelan, dan saat Janu lewat, percakapan mereka terhenti. Mata-mata mereka mengikutinya, sebagian menatap julukannya, sebagian menatap tubuh kecilnya, dan sebagian, ia rasa, menatap dengan semacam belas kasihan yang lebih buruk daripada cemoohan.
Haji Sabran berjalan di depannya, langkahnya terburu-buru namun berat, seperti orang yang ingin cepat sampai tujuan tapi takut pada apa yang menanti di sana. "Saya jujur saja sama kau, Janu," katanya tanpa menoleh. "Kandang ini dulu punya dua belas kuda. Sekarang tinggal lima. Yang lain sudah saya jual untuk bayar utang. Yang tersisa ini, yang paling bagus tinggal satu." Ia berhenti di depan kotak paling ujung, kotak yang dindingnya diperkuat papan tambahan, yang pintunya dipalang ganda. "Dan yang paling bagus ini, tidak ada yang berani naik."
Janu mengikuti arah pandang lelaki tua itu, dan untuk pertama kalinya ia melihat Sandalwood.
Kuda itu indah. Itu hal pertama yang menampar kesadarannya, sebelum bahaya, sebelum apa pun. Seekor jantan muda, mungkin empat tahun, dengan bulu warna gelap mengilap seperti kayu cendana yang dipoles, dari sanalah namanya. Lehernya melengkung kuat, kakinya jenjang dan bersih, dadanya bidang menjanjikan napas yang panjang. Tubuh seperti itu lahir untuk berlari. Tapi mata kuda itu menghancurkan seluruh keindahannya. Mata itu liar, gelisah, melompat-lompat dari satu sudut ke sudut lain, tak pernah diam, penuh kewaspadaan seekor makhluk yang tak pernah lagi merasa aman di mana pun. Saat bayangan Janu jatuh ke kotaknya, Sandalwood mundur menempel dinding, mendengus keras, kuku depannya menggaruk tanah, telinganya rata ke belakang seperti dua bilah pisau.
"Dia sudah melukai dua orang," kata Haji Sabran pelan. "Yang pertama, sais saya yang paling berani, tulang selangkanya patah ditendang. Yang kedua, joki sewaan dari Bima, jatuh waktu mau memasang pelana, kepalanya bocor. Sejak itu tak ada yang mau masuk ke kotak ini selain memberi makan, itu pun lewat celah pagar." Ia mengusap wajahnya yang lelah. "Orang-orang bilang kuda ini kerasukan. Saya tidak percaya takhayul. Tapi saya tidak punya penjelasan lain."
Janu mendekat selangkah. Sandalwood mendengus lagi, lebih keras, dan menghentakkan kaki belakang ke dinding hingga papan tambahan itu bergetar dan berderak. Para sais muda di bawah pohon asam berdiri serempak, siaga. Seseorang berbisik, cukup keras untuk Janu dengar: "Lihat saja. Angin Sumbawa pun tak akan berani."
Sesuatu di dada Janu mengeras. Bukan keberanian, ia tahu itu bukan keberanian. Lebih mirip keras kepala yang terluka. Ia membuka palang pertama. Suara logam beradu membuat Sandalwood meledak, berputar di dalam kotak yang sempit, tubuh besarnya membentur dinding bertubi-tubi, debu dan serpihan jerami beterbangan. Haji Sabran mencengkeram lengan Janu. "Jangan masuk. Belum. Hari ini cukup kau lihat saja."
Tapi Janu sudah membuka palang kedua. Ia tak tahu kenapa. Mungkin karena bisikan tadi. Mungkin karena ia ingin tahu apakah ia masih punya nyali, atau apakah Saburai sudah mengambil itu juga darinya. Ia melangkah ke ambang kotak, tangannya terangkat perlahan, telapaknya terbuka menghadap kuda itu, cara lama yang diajarkan ayahnya dulu, menunjukkan bahwa tangan ini kosong, tak membawa cambuk, tak membawa tali.
Untuk satu detik yang panjang, semuanya membeku. Sandalwood berhenti berputar. Mata liar itu mengunci ke arah Janu, dadanya naik-turun cepat, lubang hidungnya melebar merah. Dan di detik itu, Janu melihat sesuatu yang membuat tenggorokannya tercekat: ia tidak melihat kemarahan di mata itu. Ia melihat ketakutan. Ketakutan yang begitu murni, begitu dalam, sampai berubah menjadi serangan. Mata itu adalah mata makhluk yang pernah dikhianati oleh setiap tangan yang pernah menyentuhnya.
Janu mengenali mata itu. Ia pernah melihatnya, di cermin, di pantulan ember air, di kaca jendela bus malam saat ia pulang dari pemakaman karier dan harga dirinya.
Tangannya, yang terangkat menghadap kuda itu, mulai gemetar. Ia berusaha menahannya, mengepalkan jari, tapi gemetar itu naik dari suatu tempat dalam dirinya yang tak bisa ia perintah. Dan Sandalwood, makhluk yang membaca tubuh lebih jujur daripada manusia mana pun membaca kata, melihat gemetar itu. Melihat keraguan itu. Mencium ketakutan yang sama yang mendiami dirinya sendiri.
Kuda itu mengangkat kepala tinggi-tinggi, meringkik melengking memekakkan, lalu menyerang. Bukan dengan kaki belakang seperti yang Janu siapkan tubuhnya untuk hindari, tapi maju ke depan, menubrukkan bahu besarnya. Janu sempat melempar diri ke samping. Bahu kuda itu menghantam kusen pintu tepat di tempat kepalanya barusan, kayu retak. Janu jatuh ke tanah luar kotak, lututnya yang rusak menghantam batu, rasa sakit menyengat naik ke pinggang. Haji Sabran dan dua sais menyeretnya menjauh sementara Sandalwood berputar-putar di kotaknya, meringkik, menghentak, tubuh indah itu memantul dari dinding ke dinding seperti badai yang terkurung.
Janu duduk di tanah, napasnya tersengal, debu menempel di keringatnya, dan tangannya, ia menatap tangannya, masih gemetar. Bukan karena terkejut. Bukan karena jatuh. Tapi karena untuk pertama kalinya sejak Saburai, ia memegang, atau hampir memegang, kepercayaan seekor kuda, dan ia mendapati dirinya kosong, tak punya apa-apa untuk diberikan.
Haji Sabran berjongkok di sampingnya, wajahnya hancur. "Sudah saya bilang," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Janu. "Tidak ada yang bisa."
Janu menatap Sandalwood yang akhirnya melambat, berdiri gemetar di sudut kotak, bulu gelapnya basah oleh keringat ketakutan, tubuh indah yang dipenjara mental yang hancur. Dan meski seluruh tubuh Janu memintanya untuk pergi, untuk naik pikap dan tak pernah kembali, ada bagian kecil dalam dirinya, bagian yang sama yang membuatnya membuka palang kedua tadi, yang berbisik bahwa ia dan kuda itu mengidap penyakit yang sama. Dan mungkin, hanya mungkin, dua makhluk yang patah dengan cara yang sama bisa saling mengajari cara berjalan kembali.
Ia tak mengatakannya. Ia hanya bangkit, mengusap lutut, dan berkata pada Haji Sabran dengan suara serak, "Besok pagi saya datang lagi."